Berita

Etnis Uighur/Net

Dunia

Peneliti Singapura: Indonesia Hati-hati Sikapi Uighur Karena Takut Investasi China Berkurang

RABU, 18 DESEMBER 2019 | 09:19 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Polemik laporan The Wall Street Journal yang menuding China telah berusaha membungkam ormas-ormas Islam di Indonesia terhadap isu Muslim Uighur belum selesai. Sebaliknya, polemik tersebut justru semakin membuka persoalan-persoalan baru.

Sebagai dua ormas Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah menolak dengan tegas tudingan tersebut. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bahkan mengancam akan menempuh langkah hukum bila media asal Amerika Serikat tersebut tidak kunjung memberikan permintaan maafnya.

Dikatakan oleh seorang kader mudanya, Amirullah Hidayat, pemerintah seharusnya melakukan pemutusan hubungan diplomatik sementara dengan China. Caranya tidak lain dengan memulangkan Duta Besar China untuk RI ke negara asalnya.


"Ini harus dilakukan demi menghentikan pembunuhan dan pemerkosaan yang dilakukan aparat pemerintahan China terhadap Muslim Uighur di daerah Xinjiang bagian barat," ujarnya pada Senin (16/12).

Sedikit berbeda dengan para ormas, sikap pemerintah, dalam hal ini adalah Kementerian Luar Negeri dianggap tidak begitu tegas. Setidaknya itu yang hendak disampaikan oleh seorang peneliti dari International Institute for Strategic Studies (IISS) Singapura, Aaron Connelly.

"Indonesia akan waspada mengambil sikap memusuhi China atas Xinjiang karena khawatir hal itu dapat merusak persepsi ketidakberpihakan Indonesia di tengah persaingan (dagang) AS-China atau membuat China mengurangi investasinya," ujarnya seperti dimuat Reuters.

Pernyataan Connelly sendiri merujuk pada jawaban jurubicara Kemlu, Teuku Faizasyah. Ketika Teuku ditanya perihal pandangan Indonesia terhadap persoalan di Xinjiang, dia mengatakan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi telah melakukan pembicaraan dengan Menlu China Wang Yi untuk membahas hal tersebut di sela-sela pertemuan ASEM-FMM di Madrid, Spanyol, Senin (16/12).

"Itu tidak harus melibatkan diplomasi megafon," katanya dalam sebuah pesan singkat yang kembali dikutip dari Reuters. Sementara itu, pihak Kedutaan Besar China di Jakarta belum menanggapi apa pun.

China sendiri adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan investor utama untuk beberapa proyek infrastruktur. Contohnya saja proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang nilainya kurang lebih mencapai 4,7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 65 triliun (Rp 13.998/dolar AS).

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya