Berita

Prabowo Diminta Nego Harga Alutsista/Net

Politik

Diminta Nego Harga Alutsista Oleh Jokowi, Prabowo Akui Sedang Mengkaji Lagi

SABTU, 14 DESEMBER 2019 | 06:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengaku diminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan negoisasi harga alutsista sebelum melakukan pembelian.

Prabowo pun melaporkan masalah-masalah alutsista kepada Menko Polhukam Mahfud Md.

Usai bertemu mahfud, Prabowo mengungkapkan hasil pertemuannya kepada wartawan.
"Alutsista dianggap mungkin terlalu mahal. Sedang ditinjau kembali, kita sedang mereview, mengkaji. Kita diperintah menego kembali, begitu oleh Bapak Presiden," kata Prabowo, Jumat (13/12).

"Alutsista dianggap mungkin terlalu mahal. Sedang ditinjau kembali, kita sedang mereview, mengkaji. Kita diperintah menego kembali, begitu oleh Bapak Presiden," kata Prabowo, Jumat (13/12).

Sebagai pelaksana, menurut Prabowo ia akan melaksanakan titah presiden dan menjaga kepentingan nasional.

"Kita kan pelaksana, jadi ya kita harus pandai pandai untuk menjaga kepentingan nasional," ujar Prabowo.

Prabowo dan Mahfud telah melakukan pembahasan bersama Menhan Korea Selatan (Korsel) Jeong Kyeong-doo terkait kerja sama di bidang alutsista pertahanan proyek jet tempur KFX/IFX RI-Korsel.

Kerja sama pesawat KFX/IFX itu disebut Mahfud masih dalam tahap negosiasi. Mahfud mengatakan pembicaraan terkait kerja sama itu masih terus dilakukan. Namun ia tak menjelaskan secara rinci dan menyerahkannya kepada Prabowo.

"Itu sekarang masih sedang dinegosiasi dan voice point dari Indonesia yang ditunjuk Pak Prabowo, Menhan, untuk berbicara antar-Menhan. Dia ke sini hanya memberi tahu bahwa dia datang ke Indonesia dan ketemu Pak Prabowo. Jadi tidak ada yang spesifik diputuskan," ucap Mahfud.

Dalam pertemuannya dengan Mahfud tersebut  dibahas juga masalah tiga warga negara Indonesia (WNI) yang disandera Abu Sayyaf di Filipina.

Prabowo akan mengadakan pertemuan lanjutan dengan Mahfud untuk mendalami kasus ini.

"Yang kedua, sudah berita umum ya, ada 3 warga negara kita disandera di Philipina. Jadi ya kita akan membahas nanti," jelasnya.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya