Berita

Penulis dan Achmad Soengkawa Soepardja/RMOL

Publika

Kabar Duka Dari Kuba

KAMIS, 12 DESEMBER 2019 | 17:47 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

Kabar duka itu datang kemarin pagi (Rabu, 11/12). Dari Havana, Kuba.

Achmad Soengkawa Soepardja meninggal dunia. Selasa (10/12) sekitar jam 06.00 waktu setempat.

Kabar kepergian pria kelahiran Jakarta, 2 Mei 1934 itu menghadap Illahi saya terima dari Staf KBRI Havana Dedi Supardi.


Saya dikirimi foto sebuah kuburan di Pemakaman Colon, Vedado. Di tempat itulah, tubuh Achmad Soepardja yang kerap disapa Aki oleh masyarakat Indonesia di Kuba, dibaringkan.

Di tempat itu pula anaknya, Ruhaine Soepradja Delgado yang meninggal dunia karena leukimia pada 12 Oktober 1995, dan istrinya, Martha Maria Delgado Plana yang meninggal 24 Agustus 2008, dimakamkan.

Aki Soepardjo menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Manuel Fajardo, Vedado, setelah dirawat selama empat hari. Ia sempat juga dirawat satu hari di Rumah Sakit Instituto Cardiología y Cirugía Vascular, juga di Vedado.

Aki Soepardja disebutkan meninggal dunia karena komplikasi jantung, ginjal dan paruparu.

Dedi Supardi juga mengirimkan dua foto yang memperlihatkan Aki Soepardja dalam perawatan di kedua rumah sakit.

Dalam foto pertama, yang diambil di Rumah Sakit Instituto Cardiología y Cirugía Vascular, Aki Soepardja tampak sedang berkomunikasi dengan dokter yang merawatnya. Ia mengenakan kaos merah marun, selimut oranye dan masker pernafasan.

Pada foto kedua, dari Rumah Sakit Manuel Fajardo, Aki Soepardja tampak begitu lemah. Tubuhnya ditutupi selimut oranye. Ia tampak tertidur atau mungkin sudah tidak sadarkan diri.

Saya bertemu Aki Soepardja ketika berkunjung ke Kuba awal bulan lalu.

Kami bertiga, saya, Dedi Supardi dan Aki Soepardja, makan siang di sebuah restoran di China Town di tengah Havana. Di sela makan siang, Aki Soepardja banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya.

Saya merekam pembicaraan kami. Tapi ternyata suara musik yang diputar di restoran itu mengalahkan suara Aki Soepardja. Banyak bagian dari ceritanya yang tak terdengar jelas. Dan saya baru mengetahui hal ini saat memutar rekaman itu beberapa jam lalu.

Aki Soepardja adalah satu dari sekian banyak mahasiswa Indonesia yang dikirim pemerintah Sukarno belajar ke luar negeri pada kurun 1960an. Mereka disebut sebagai Mahasiswa Ikatan Dinas dan biasa disingkat Mahid. Diharapkan, setelah menyelesaikan pendidikan mereka kembali ke tanah air untuk membangun bangsa dan negara.

Setelah peristiwa 30 September 1965, tak sedikit dari mereka yang tidak kembali ke tanah air. Ada yang merasa tak sejalan dengan era baru setelah peristiwa itu. Ada juga yang memilih tidak pulang karena khawatir hidupnya akan berakhir di dalam penjara.

Adapun Aki Soepardja masuk kelompok ketiga, ingin pulang tapi tak bisa pulang karena paspor sudah kadaluarsa dan tidak bisa diperpanjang.

Achmad Soepardja dikirim ke Cekoslowakia pada awal 1960an. Ia memulai kuliahnya di jurusan ekonomi Vysoka Skola Ekonomicka di Praha pada 1962.

Sebelumnya Aki Soepradja pernah kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), namun tak lama. Ia berhenti dan memilih bekerja di perusahaan ekspedisi sampai dikirim sekolah ke Cekoslowakia.

Di negara itu Aki Soepardjo bertemu dengan istrinya yang warganegara Kuba. Di tahun 1968 ia dan istrinya berlayar ke Kuba dan tiba di Havana pada 1969.

Hubungan Indonesia dan Kuba di era 1960an sedang hangat-hangatnya. Diawali kunjungan Che Guevara ke Indonesia pada pertengahan 1959, hanya beberapa bulan setelah pemerintahan Batista terguling dan Fidel Castro berkuasa.

Setahun kemudian, giliran Bung Karno berkunjung ke Kuba. Ia disambut meriah. Fidel Castro dan Che Guevara menjemputnya di bandara udara.

Kedutaan Indonesia di Havana dibuka secara resmi pada 14 Agustus 1963. Di bulan Oktober 1971, KBRI Havana ditutup karena alasan ekonomi dan setelah itu hubungan bilateral dengan Kuba dihandle dari Meksiko.

Di bulan Desember 1995, KBRI Havana kembali dibuka. Aki Soepardja sempat bekerja di Wisma Duta.

Mimpinya untuk kembali ke Indonesia terlaksana di tahun 2000, tiga tahun setelah ia dan teman-temannya eks Mahid di Kuba mendapatkan paspor. lalu di tahun 2010, dua tahun setelah kematian istrinya.

“Kenapa tidak tinggal di Indonesia?” tanya saya.

“Sebetulnya bisa juga. Tapi umur saya sudah lanjut. Di sana mau kerja apa, mau apa? jawabnya. Dia juga mengatakan merasa tidak enak kalau harus menjadi beban keluarganya di Bandung.

“Kalau di sini bagaimana?” saya tanya lagi.

“Saya sudah pensiun. Rumah sakit dijamin,” jawabnya singkat.

Selesai santap siang di China Town kami berputar-putar sebentar. Saya meminta Dedi membawa kami ke museum Ernest Hemingway dan lahan yang katanya akan menjadi lokasi masjid baru di Havana.

Lalu dari sana kami kembali ke rumah Aki Soepardja di kawasan Vedado.

Mendekati rumah Aki Soepardja, Dedi mengajak kami singgah di sebuah taman untuk melihat patung John Lennon. Karena patung itu pula, taman yang dulu dikenal sebagai Parque Menocal kini disebut Parque John Lennon.

Patung ini salah satu atraksi wisata di Havana, cerita Dedi. Biasanya orang antre untuk bisa berfoto dengannya.

Karya pematung Kuba, Jose Villa Soberon, ini selesai dibuat pada tahun 2000, persis di tanggal 8 Desember, bersamaan dengan peringatan 20 tahun kematian John Lennon yang tewas ditembak Mark David Chapman, seorang pengangguran dari Hawaii, di depan apartemennya di New York.

Setahun kemudian, penulis Kuba, Ernesto Juan Castellanos, menulis sebuah buku yang berjudul “John Lennon en La Habana with a Little Help from My Friends” yang berkisah tentang The Beatles dan keinginan band itu manggung di Kuba pada kurun 1960an dan 1970an.

Walau lokasi patung itu dekat dengan rumahnya dan telah berada di taman itu sejak akhir 2000, ternyata Aki Soepradja belum pernah mendatanginya, apalagi berfoto dengannya.

Maka Dedi pun menghentikan mobil. Kami beruntung sedang tidak banyak turis yang ingin berfoto dengan patung itu. Kami menghabiskan beberapa waktu lamanya untuk berfoto bersama John Lennon.

Saya membuka kembali file foto selama di Kuba untuk menemukan foto kami di Taman John Lennon, juga di restoran Tiantian di China Town Kuba.

Lalu kepada Dedi saya tuliskan pesan singkat ini.

“Kasihan ya. Sedih di hari-hari terakhir sendiri. Tapi sekarang sudah bersama anak dan istri.”

Dedi menjawab singkat, “Iya.”

Selamat jalan Aki Soepardja.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya