Berita

Ray Rangkuti/Net

Politik

Melaporkan Rocky Gerung Ke Polisi Tanda Tidak Siap Adu Otak

RABU, 04 DESEMBER 2019 | 12:54 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Rencana melaporkan filsuf dari Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung karena dianggap telah menghina Joko Widodo sebagai seorang presiden menuai banyak kritik.

Pengamat politik dari Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti menyayangkan tradisi saling lapor ke polisi belum berakhir. Apalagi, dalam kasus Rocky Gerung yang terjadi sebatas perbedaan pendapat dalam sebuah diskusi.

Semestinya, sambung Ray, masalah ini diselesaikan dengan cara debat beradu pikiran.   


"Itu kan sudah semacam ritus sekarang lapor-melaporkan ini,” tegasnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (4/12).

Ray menilai bahwa kebebasan berpendapat harus dijunjung tinggi. Jangan sampai, perdebatan dan diskursus selalu berujung pada laporan polisi.

“Itu tanda tidak siap berdebat, kemudian lawan melaporkan lawan debatnya ke polisi," ujarnya.

Baginya, pernyataan Rocky Gerung yang menyebut Jokowi tidak paham Pancasila merupakan sebuah kritik. Pernyataan itu bukan diarahkan untuk mencaci maki seorang kepala negara.

“Ya, itu pemahaman bukan caci maki," kata Ray.

Ray sendiri khawatir dengan ritus saling melapor ke polisi. Sebab, perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan beradu pendapat. Bukan melulu harus ke polisi.

“Sangat mudah melihat mana yang caci maki dan mana yang pemahaman," demikian Ray.

Dalam talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC), Rocky sempat berujar bahwa Jokowi hanya menjadikan Pancasila hapalan, tapi tidak dibarengi implementasi dalam membuat kebijakan.

"Kalau dia paham, dia enggak berutang. Kalau dia paham dia enggak naikin BPJS. Kalau dia paham dia enggak melanggar undang-undang lingkungan," kata Rocky dalam acara yang mengangkat tema "Maju-Mundur Izin FPI", di Jakarta, Selasa malam (3/12).

Di forum itu juga, politisi PDI Perjuangan Junimart Girsang yang turut menjadi pembicara sontak akan melaporkan Rocky Gerung ke polisi karena menilai Rocky telah menghina presiden.

Sejak dinihari tadi, tanda pagar (tagar) atau hashtag #RockyGerungMenghinaPresiden masih menjadi trending topic di Twitter.  

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya