Berita

Jatna Supriatna (dua dari kiri) dan Yudi Latif (dua dari kanan)/Net

Nusantara

Prof. Jatna: Tidak Ada Orang Indonesia Seperti Wallace, Penemu 900 Spesies Baru

RABU, 04 DESEMBER 2019 | 00:55 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) menggelar diskusi dan bedah buku "Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia Dan Alam" karya Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah Indonesia pada 1854-1862.

Diskusi berlangsung di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (3/12). Hadir sebagai narasumber: Kepala Pusat Penelitian Perubahan Iklim, Prof. Jatna Supriatna, cendikiawan Yudi Latif, Ketua AIPI Komisi Ilmu Kedokteran, Prof. Sangkot Marzuki, dan yang menjadi moderator Ketum DPP PGK Bursah Zarnubi.

Jatna mengatakan, Wallace memberikan banyak sumbangsih atas temuan pada spesies hewan dan tanaman di Indonesia. Wallace menemukan lebih dari 900 spesies selama menjelajahi nusantara, mulai dari Kepulauan Maluku, Ternate, Borneo, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.


"Saya pernah datangi tempat-tempat yang dilalui Wallace. Bayangkan 9 tahun dia datang dari hutan ke hutan. Waktu saya kuliah saya datang lansgung ke Kalimantan dan Sumetera meneliti hutan," ujar Jatna.

Dalam penelitiannya, Jatna menemukan banyak kekayaan yang terkandung di bumi Indonesia. Namun sayang, kekayaan sumber daya alam tersebut tidak dikelola secara maksimal. Padahal, andaikata Wallace tidak melakukan penjelajahan ke nusatara maka belum tentu ditemukan 900 spesiesmen oleh orang Indonesia sendiri.

"Ada salah apa bangsa Ini, yang perlu kita teliti apa yang salah. Apakah SDM yang salah kerena dia (Wallace) menemukan 900 spesies baru. Bayangkan tidak ada orang Indonesia seperti itu," katanya.

Disebutkan Jatna, mestinya kekayaan hayati Indonesia sebenarnya dapat menjadi aset pembangunan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia cukup unik, berbeda dengan negara-negara lain. Hanya saja, kata dia, keunikan Indonesia ini belum dikelola secara maksimal selama ini.

"Tadak ada satupun negara di dunia yang sama dengan Indonesia. Siapa yang punya pulau lebih 17 ribu di dunia, tidak ada. Jadi bapak-bapak kalau pergi ke satu pulau-pulau untuk mengenal Indonesia bapak-bapak harus memakan 49 tahun untuk dapat mengenali Indonesia. Bagaimana kita dapat mengenali Indonesia, bagaimana kehidupan kebangsaan kalau kita tidak mengenal jati diri kita. Kita punya sejarah iklim yang berbeda, kita punya sejarah bentuk pulau yang beda-beda, dari yang kecil sampai yang besar. Kita punya ekosistem," tuturnya.

Jatna lantas memuji Wallace yang berhasil menjelajahi nusantara, kendati "Bapak BioGeografi" yang lahir pada 8 Januari 1823 di Inggris tersebut tidak mudah menghadapi tantangan perjalanannya.

"Wallace itu aneh, seorang yang bukan sarjana tapi dia betul-betul gairahnya itu sangat menggebu-gebu. Dengan keuangan yang sangat terbatas dia bisa datang, bisa membaca buku biologi dan antropologi," ucapnya.

Jatna menambahkan Wallace yang berasal dari luar merasa aneh ketika merasakan bumi bergoyang, padahal itu adalah gempa. Karena di negara asalnya tidak pernah merasakan gempa. Jatna selanjutnya menjelaskan tentang peta terjadinya gempa di Indonesia. Gempa bumi yang menjadi momok menakutkan masyarakat ini sudah ribuan kali menggoncang Indonesia akhir-akhir ini, kendati Indonesia dikelilingi puluhan gunung berapi.

"Mungkin setiap minggu kita dengar gempa. Tahun lalu ada 4 ribu gempa. Kita ada gunung berapi 122. Di Jawa sendiri ada 45 gunung berapi. Kita ini dikelilingi gunung berapi. Itulah kita harus tahu karena tidak ada negara lain yang punya sepertu itu. Eropa tidak ada. Dulu ada gunung berapi meletus di Islandia, ribut semua Eropa, tutup semua airport. Kita biasa-biasa saja Merapi meletus. Karena itulah yang menyuburkan kita. Tanah Jawa itu sangat subur sekali. Jadi itu sebagai bangsa harus tahu kita," katanya.

Sementara itu, Yudi Latif juga mengatakan bahwa Indonesia merupakan suatu ekosistem terkaya hari ini. Menurut dia, secara geografis Indonesia sebenarnya merupakan negara tiga perjumpaan dari tiga domain. Dimana Papua pada waktu itu pernah menyatu dengan Australia. Begitu juga Kalimantan, Sumatera dan Jawa yang pernah menyatu dengan Asia.

"Nah diantara Kalimantan dan Papua mulai dari Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara, itu tidak pernah menyatu dengan Asia dan Australia. Tapi itu sepenuhnya itu khas teritori Indonesia. Jadi kenapa kita ini kaya karena menggabungkan flora dan fauna dari tiga zona sekaligus. Dari Asia, Autralia dan Indonesia sendiri. Jadi betapa pentingnya geografi nusantara ini," ujar Yudi.

Menurutnya, aneka ragam hayati sebagaimana dimaksud Wallace akan menjadi berkah jika manusia Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelolahnya.

"Itu semuanya akan menjadi berkah tapi mengelolah potensi itu memang tergantung manusianya, bagaimana manusia dapat memanfatkan potensi yang luar biasa ini," demikian Yudi Latif.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Nina Agustina Tinggalkan PDIP, lalu Gabung PSI

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:10

KPK Panggil Pimpinan DPRD Madiun Ali Masngudi

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:08

Bareskrim Serahkan Rp58 Miliar ke Negara Hasil Eksekusi Aset Judol

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:53

KPK Panggil Lima Orang terkait Korupsi Pemkab Lamteng, Siapa Saja?

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:26

Dua Pengacara S&P Law Office Dipanggil KPK

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:20

Legislator PKS: Bangsa yang Kuat Mampu Produksi Kebutuhan Pokok Sendiri

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:16

Perketat Pengawasan Transportasi Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:09

Evakuasi WNI dari Iran Harus Lewati Jalur Aman dari Serangan

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:02

BPKH Gelar Anugerah Jurnalistik 2026, Total Hadiah Rp120 Juta

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:01

TNI Tangani Terorisme Jadi Ancaman Kebebasan Sipil

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:00

Selengkapnya