Berita

Ilustrasi aksi 212/Net

Politik

Ketimbang Reuni, Lebih Baik Alumni 212 Bergandeng Tangan Hadapi Ancaman Resesi Ekonomi

MINGGU, 01 DESEMBER 2019 | 10:57 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Reuni Akbar 212 yang akan digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada Senin (2/12). Diprediksi ratusan ribut umat muslim akan berkumpul di Monas, bahkan saat ini panitia reuni 212 sedang mengupayakan imam besar FPI Habib Muhamad Rizieq Shihab hadir dalam acara tahunan itu.

Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif mengatakan, acara dibalut dalam bentuk peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Kata Slamet, jadi ruang silaturahmi para alumni 212 yang pada 2 Desember 2016 lalu, Jutaan manusia berkumpul menuntut keadilan atas penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Thaja Purnama alias Ahok.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Indonesia Mandiri, Yakin Simatupang mengapresiasi niatan silaturahmi dan perayaan kelahiran nabi agung Muhammad SAW. Meski demikian, dia menekankan jangan sampai acara reuni 212 ditumpangi kepentingan politik tertentu.


"Bahwa niatnya sebagai silaturahim harus diapresia, tapi banyak orang tahu agenda ini penuh muatan politik yang dimulai 3 tahun lalu," Kata Yakin saat dikonfirmasi Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (1/12).

Yakin menjelaskan, merayakan Maulid Nabi Muhamad adalah pengejewantahan kecintaan umat Muslim kepada Rasulullah SAW.

Meski Panitia reuni 212 menepis bahwa acara ini bebas dari muatan politik, Yakin meyakini masyarakat sudah bisa memilah apakah kegiatan itu untuk silaturahim atau memiki tujuan politik tertentu.

"Walaupun itu (Reuni 212) ditepis, masyarakat kita sudah cerdas menilai apakah reuni 212 itu murni silaturahim atau ada motif politiknya," tandas Yakin.

Yakin menyebutkan, saat ini kondisi Indonesia sedang mengalami ancaman resesi ekonomi. Dia mengusulkan lebih baik umat muslim bergandengan tangan memikirkan kondisi bangsa. Ia khawatir jika masih ada gerakan-gerakan massa seperti Reuni 212, investor akan pergi dari Indonesia.

"Hari ini Indonesia akan menghadapi resesi ekonomi, lebih baik fokus gandengan tangan bersama untuk memikirkan bangsa ini. Kalau gerakan ini diteruskan para investor nggak mau ke Indonesia, mereka butuh keamanan, ketertiban dan kepastian," pungkasnya.

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya