Berita

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan/Net

Bisnis

Penghentian Ekspor Bijih Nikel Tak Cuma Bikin Rugi, Tapi Juga Memenangkan China

KAMIS, 28 NOVEMBER 2019 | 21:37 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Larangan ekspor bijih nikel yang dipercepat Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dianggap sudah menciderai kedaulatan Indonesia.

Bahkan menurut pakar ekonomi, Ichsanuddin Noorsy, larangan tersebut secara tidak sadar telah membantu China memenangkan persaingan mobil dunia.

Sejauh ini, Jepang, Jerman dan China adalah tiga negara yang bersaing tajam di industri mobil. Mereka bersaing dalam menghimpun nikel sebagai bahan baku baterai mobil.


"China sudah menerapkan electric vehicle-nya pada 2025 itu 35 persen, itu berarti harus segera membutuhkan baterai. Kalau dia mau baterai litium, dia butuh nikel sesegera mungkin. Artinya ini sedang menolong China memenangkan persaingan antara Jepang dan Jerman," kata Ichsanuddin kepada wartawan, Kamis (28/11).

Di tengah persaingan tidak sehat antarnegara dan antarkoorporasi saat ini, jelasnya, hanya negara yang dieksplorasi sumber daya alamnya secara mentah yang selalu merugi. Dalam hal perebutan bijih mentah nikel ini, Indonesia merugi apabila mengekspor ke China.

"Sekarang pertanyaan, kenapa Luhut bisa mengeluarkan kebijakan seperti tadi? Ada kepentingan-kepentingan tertentu untuk mengokohkan keberadaan China di panggung internasional," ujar Ichsanuddin.

Kebijakan itu juga membuat lesu penambang nikel. Penambang yang punya berkalori rendah di bawah sebelas persen pasti tidak mau membangun smelter dan mengelola nikel mentah. Pada akhirnya, bijih mentah nikel dengan kisaran kalori sebelas persen dijual murah, padahal masih bisa dikelola sebagai litium yang baik.

Perubahan larangan ekspor ini juga membuktikan inkonsisten pemerintah. Sebab, penambang yang sudah membangun smelter dengan modal besar harus merugi sebelum produksi terjadi. Hal inilah yang membuat iklim investasi Tanah Air tak memiliki kepastian.

"Walaupun anda buka pintu lebar-lebar buat investor, ketika kebijakannya tidak konsisten, anda dibilang sebagai negara yang sulit dipercaya," tutupnya.

Awalnya, pemerintah bakal melarang ekspor bijih nikel hingga tahun 2022 dalam rangka pembangunan smelter dan peningkatan kualitas nikel Indonesia. Namun larangan itu dipercepat hingga 1 Januari 2020, dan kemudian dipercepat kembali tahun ini.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Siswa Sekolah Rakyat akan Dilatih 1.000 Taruna Akmil

Minggu, 05 Juli 2026 | 18:21

Jokowi Pilih Lampung sebagai Awal Safari karena Tanah Tak Bertuan

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:41

OTT Bupati Langkat Temukan 55 Keping Platinum Senilai Rp40 Miliar Lebih

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:16

Hampir 3.000 Orang Tewas, Venezuela Mulai Hentikan Operasi Pencarian Korban Gempa

Minggu, 05 Juli 2026 | 17:07

Komedian Narji Bikin Khitanan Massal PSI Diserbu Anak-Anak

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:52

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Absen di Pemakaman Ayahnya

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:26

Sudah Ada Perpres, Pakar: Promosi LGBT di Medsos Bisa Berujung Pengadilan

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:13

PM Singapura Dijadwalkan Bertemu Presiden Prabowo Besok

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:08

Pemerintah Perkuat Literasi Siber Antisipasi Ancaman AI dan Hoaks

Minggu, 05 Juli 2026 | 16:01

Daftar Lengkap 16 Negara yang Lolos ke Babak 16 Besar

Minggu, 05 Juli 2026 | 15:55

Selengkapnya