Berita

Tokoh nasional DR Rizal Ramli/Net

Politik

Cara Efektif Dari Rizal Ramli Berantas Buzzers Sampah Demokrasi

MINGGU, 24 NOVEMBER 2019 | 11:17 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tokoh nasional DR Rizal Ramli tidak hanya paham mengenai modus operandi buzzers politik di media sosial, yang olehnya disebut sebagai sampah demokrasi.

Baca: Rizal Ramli: Modus Operandi Buzzers, Bajak Demokrasi Demi Agungkan Yang Bayar

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu juga menemukan dua cara efektif memberantas para buzzer.


RR, sapaan akrabnya, menemukan jurus itu setelah dirinya menjadi target serangan. Serangan itu muncul setelah kritik keras RR pada kebijakan pemerintah mengusung mantan narapidana penista agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jadi Komisaris Utama Pertamina.

Baginya, Ahok bukan orang yang berpengalaman menangani korporasi dan tidak terbiasa dengan good governance.

Pasalnya, Ahok masih terindikasi terlibat dalam sejumlah kasus keuangan saat menjabat sebagai gubernur. Mulai dari kasus pembelian lahan RS Sumber Waras, lahan di Cengkareng, hingga bus Transjakarta dari Tiongkok. Baca: Rizal Ramli: Ahok Tidak Terbiasa Dengan Good Governance

Adapun cara pertama untuk menghentikan buzzer politik di media sosial adalah dengan meminta para tokoh-tokoh politik berhenti membiayai buzzers bayaran yang merusak demokrasi.

“Ada yang punya ratusan buzzers, setiap hari tweet 10 kali dengan kosakata norak & terbatas,” tegasnya.

Cara kedua, ujar mantan Menko Maritim itu adalah dengan memblock warganet yang terbiasa ngawur saat berkomentar. Dengan begitu, maka buzzer akan sibur berperang dengan sesama rekannya sendiri.

“Block dan mute, biarkan mereka dialog sendiri,” pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya