Berita

Partai Gelora bisa jadi ancaman tersendiri bagi PKS di Jawa Barat/RMOLJabar

Politik

Partai Gelora Terus Lakukan Gerilya, PKS Kudu Lebih Waspada

KAMIS, 21 NOVEMBER 2019 | 13:10 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Gerilya politik yang dilakukan Partai Gelora (Gelombang Rakyat) besutan Anis Matta dan Fahri Hamzah di Jawa Barat harus jadi pantauan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena Partai Gelora dianggap memiliki magnet kuat bagi kader-kader muda PKS, khususnya yang berada di Tanah Pasundan.

Hal tersebut dikemukakan pengamat politik Adiyana Slamet. Menurut Adiyana, saat ini partai-partai politik sedang mengalami kemerosotan dalam hal manajemen kader. Hingga akhirnya menyulut konflik dan perpecahan di tubuh partai, termasuk di PKS.

"Fakta hari ini bahwa lagi-lagi partai mengalami kemunduran, kegagalan kepemimpinan, tidak bisa mengelola kader di bawah sehingga berimplikasi munculnya konflik. Jika konflik terjadi, perpecahan di tubuh partai tak bisa dihindarkan, termasuk PKS," kata Adiyana kepada Kantor Berita RMOLJabar, Kamis (20/11).


"Kalau kita melihat di Jawa Barat, memang gerbongnya Anis Matta dan Fahri Hamzah di tingkatan anak-anak muda sangat menarik (untuk kaum muda bergabung). Termasuk simpatisan-simpatisan PKS tentunya," imbuh Adiyana.

Lebih lanjut Adiyana mengatakan, PKS harus sangat hati-hati dengan gerilya politik Partai Gelora.

"PKS itu harus hati-hati betul, perpecahan yang terjadi pasti akan membawa implikasi terbelahnya konstituen di bawah. Kalau tidak di-manage dengan baik oleh PKS, kader mudanya akan lari ke Gelora. Fahri ini kan KAMMI. Kalau berbicara KAMMI hari ini juga terbelah, kebanyakan ke Fahri Hamzah," ujar Adiyana.

Masih kata Adiyana, dirinya melihat ada dua hal yang membuat Gelora lebih menarik ketimbang PKS. Pertama Partai Gelora lebih moderat. Kedua, partai ini dapat lebih mengakomodir kader muda.

"Secara ideologis lebih moderat yang mengikuti perkembangan zaman, platform partainya tidak sekaku kubu sebelahnya (PKS). Kubu sebelahnya ini kan terkesan tradisionalis, saklek, dan sayap kanan. Karena modernis sehingga anak-anak muda juga merasa terakomodir," lanjutnya.

"Perkembangan dinamika politik di Indonesia ini tidak bisa menarik kader itu dengan cara-cara tradisional. Secara psikologis kader-kader muda ini kan ingin lebih dianggap, gagasannya diakomodir. Inilah yang melatarbelakangi kader-kader muda PKS di tingkatan grassroot pindah ke Partai Gelora. Asalkan elite-elite Gelora ini dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya harus luwes," tambah Adiyana.

Menambahkan pandangan Adiyana, pengamat IDEA Institute Tofan R Zaky menyatakan, PKS tak cukup hanya melakukan perang opini untuk membendung gerilya Partai Gelora. Kata Tofan, sangat wajar jika ada elite PKS yang  terkesan panik dalam memberikan pernyataan-pernyataan terkait Partai Gelora.

"Saya kira PKS tak cukup hanya mengeluarkan narasi-narasi atau opini liar untuk membendung gerilya Partai Gelora. Wajar juga jika elite-elite PKS panik melihat pergerakan Partai Gelora. Ini karena Fahri dan Anis Matta dianggap mengetahui betul kelebihan maupun kelemahan PKS. Termasuk di tataran bawah. Saya kira dengan berpindahnya kader-kader muda potensial  akan cukup menjadi pukulan telak untuk PKS. Utamanya di Jawa Barat," kata Tofan.

Partai Gelora juga dianggap sebagai magnet bagi kaum muda yang ingin menyalurkan aspirasinya. Terlebih kader-kader muda PKS.

"Saya kira dengan platform yang cukup menarik, mau mengakomodir semua kubu kanan, tengah dan kiri, Partai Gelora akan cepat menjaring kader, terutama kader-kader dari PKS yang sudah sedikit banyak mengetahui sepak terjang duo Anis Matta dan Fahri Hamzah," imbuh Tofan.

"Fahri juga representasi dari politisi yang sangat faham apa yang diinginkan kaum muda ini. Saya prediksi Partai Gelora tak butuh waktu lama untuk menguasai kantong-kantong konstituen PKS, di Jabar khususnya," pungkas Tofan.

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Gencatan Senjata Iran-AS Hampir Berakhir, Milisi Irak Siaga Penuh

Selasa, 21 April 2026 | 08:19

Dolar AS Terkoreksi: Investor Mulai Lepas Aset Safe-Haven

Selasa, 21 April 2026 | 08:06

Sinergi BNI dan Perempuan NTT: Mengubah Daun Lontar Menjadi Penggerak Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 | 07:48

Tim Cook Mundur sebagai CEO Apple

Selasa, 21 April 2026 | 07:35

Refleksi 4 Tahun Prudential Syariah: Mengubah Paradigma Deteksi Dini Kanker

Selasa, 21 April 2026 | 07:27

Emas Dunia Masih Sulit Bangkit di Tengah Kenaikan Harga Minyak

Selasa, 21 April 2026 | 07:16

Kerja Sama Polri-PBB Pertegas Posisi RI dalam Misi Perdamaian Dunia

Selasa, 21 April 2026 | 07:10

Bursa Eropa Merah, Sektor Penerbangan Paling Terpukul

Selasa, 21 April 2026 | 07:05

Relawan Protes JK Asal Klaim soal Jokowi Presiden

Selasa, 21 April 2026 | 06:51

Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin Statistik

Selasa, 21 April 2026 | 06:29

Selengkapnya