Berita

Habib Rizieq Shihab/Net

Publika

Rizieqisme dan Tantangan Pasca-Pilres

KAMIS, 21 NOVEMBER 2019 | 10:26 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

SETAHUN lalu saya sudah menulis "Rizieqisme, 212 & Pancasila Sama Rata Sama Rasa", pada saat reuni 212. Saya akan melanjutkan tulisan itu menjelang "reuni 212" nanti.

Ada 5 pilar Rizieqisme yang saya uraikan terdahulu yakni:
1. Perjuangan Islam adalah perjuangan keadilan sosial.
2. Perjuangan harus diakar rumput.
3. Islam sebagai alat persatuan.

3. Islam sebagai alat persatuan.
4. Radikal atau tidak mengenal kompromi.
5. Tanggung jawab sosial alias solidaritas.

Dengan spirit yang bersumber pada Rizieqisme, kita melihat fenomena terakhir adalah adanya dukungan besar umat Islam hampir di seluruh pelosok negeri kepada Prabowo, yang di "endorse" ulama sebagai capres, dengan bentuk gerakan masif, militan, dan swadaya.

Fenomena masif, militan, dan swadaya merupakan kejadian besar kedua dalam sejarah Indonesia. Setelah dulu gerakan serikat Islam memobilisasi perlawanan massal di berbagai pelabuhan dan stasiun kereta api di zaman penjajahan Belanda.

Setelah pilpres dengan situasi Prabowo dinyatakan kalah, Habib Rizieq Shihab (HRS) sudah memberikan pernyataan tidak mengakui pemerintahan Jokowi. HRS menganggap pemerintahan Jokowi ilegal karena hasil pemilu curang.

Lalu, kita mengetahui Prabowo meninggalkan HRS dan pendukungnya. Dia bergabung ke Jokowi dan Megawati, masuk dalam pemerintahan Jokowi.

Lalu bagaimana gerakan Islam di Indonesia selanjutnya?
Dan bagaimana Rizieqisme mengawal gerakan tersebut?

Kedua pertanyaan ini kita munculkan mengingat pertarungan umat Islam terhadap rezim Jokowi ternyata belum menemukan jalan baru yang melunak. Indikasi penting tentang jalan buntu itu adalah:
 
1. Pidato Megawati di Kongres V PDIP mengisyaratkan adanya situasi bangsa kita yang nyaris pecah belah. Megawati mengambil jalan "menyuap" Prabowo dengan "kue" kekuasaan, namun tetap melihat Islam sebagai ancaman.
2. Sukmawati Soekarnoputri, meski tidak terkait kakaknya, tetap memprovokasi situasi keterbelahan dengan menyatakan Soekarno lebih hebat dari Nabi Muhammad, beberapa hari lalu.
3. Agenda inti Jokowi adalah memerangi "radikalisme", yang diidentikkan dengan bahaya menguatnya kesalehan umat Islam Indonesia saat ini.
4. Rezim Jokowi mempromosikan penghina Islam, yakni Ahok, sebagai simbol manusia hebat dan bersih.
5. Adanya gerakan masif mendelegitimasi Anies. Karena Anies merupakan figur tokoh Islam ke depan..

Dalam situasi perperangan dan keterbelahan yang berlanjut antara umat Islam vs gerakan yang ingin mendeskreditkan Islam, Rizieqisme mempunyai kemampuan mendorong konsolidasi perjuangan Islam pada tahap yang lebih matang.

Ada tiga hal yang menjadi indikasi penting yang menunjukkan kemenangan selangkah bagi perjuangan Islam. Pertama, ketika Jokowi mendorong isu radikalisme sebagai ancaman sentral, ternyata penolakan atas isu ini meluas. Sehingga Jokowi kelabakan dan meralatnya dengan mengatakan maksudnya adalah "manipulator agama".

Kedua, adanya perpecahan sangat dalam pada koalisi Jokowi, yang sulit untuk dikonsolidasikan ulang. Perpecahan itu ditunjukkan oleh:
A. Surya Paloh, yakni mengundang Anies dalam pidato utama pembukaan Kongres partainya, Nasdem, bukan Jokowi
B. Penunjukkan kekecewaan Said Agil Siroj dengan mendoakan Habib Rizieq Sihab, musuh politik Jokowi, dalam pidatonya beberapa waktu lalu.

Fenomena Paloh dan Said Aqil ini adalah "irreversible", sebuah kekecewaan dalam karena mereka berdua jasanya memenangkan Jokowi mungkin lebih besar dari semua elemen lain, namun kurang diapresiasi.

Indikasi ketiga adalah situasi krisis ekonomi dunia saat ini, yang pasti berdampak ke kita. Macron, Presiden Prancis, beberapa hari lalu sudah menyatakan dalam pidatonya, dunia saat ini dalam krisis ekonomi (unprecedented crisis).

Pernyataan ini diberikan hanya beberapa waktu setelah kunjungan Macron dan rombongan pengusaha Prancis ke RRC. Artinya ekonomi dunia, baik di barat maupun di RRC sedang krisis. Situasi ini membuat perekonomian kita, yang selama ini bersandar kepada utang luar negeri dan investasi asing, khususnya RRC, akan mandek alias terpuruk.

Situasi saat ini, seperti disebutkan di atas, pertarungan Sekulerism yang didukung negara vs Islam. Dengan indikasi solidnya umat Islam dan melemahnya eksistensi negara dan elite-elite rezim Jokowi ke depan, kebangkitan umat dapat terkonsolidasi lebih matang.

Maksud dikonsolidasikan adalah elite-elite Islam dapat bergerak lebih aktif, seperti langkah PKS baru-baru ini yang proaktif menjalin hubungan dengam Surya Paloh. Jika tidak dikonsolidasi, artinya menunggu secara natural dan pasif, yang terjadi karena dinamika  sistem yang rapuh.

Elite vs Grassroots
Penguasaan elite oleh rezim Jokowi setelah pilpres di satu sisi memperlihatkan seolah-olah kelompok Jokowi atau pendukungnya sudah menguasai negara atau pusat kekuasaan. Namun, krisis politik berupa perpecahan mereka dan krisis ekonomi, khususnya terkait kesulitan keuangan negara saat ini, menunjukkan sisi bahayanya rezim Jokowi saat ini. Sebuah negara dan elite yang terbelah dan krisis keuangan akan menjadi ancaman perlawanan, khususnya dari internal mereka sendiri.

Sementara itu, umat Islam dalam naungan Rizieqisme ataupun "spirit 212" tetap bertahan. Situasi bertahan ini memang ciri khas gerakan "bazar" umat Islam yang biasa swadaya dan mempunyai kohesifitas idiologis.

Kedua fenomena yang terbelah dan berkontestasi di atas, apabila terjadi krisis ekonomi dalam beberapa waktu ke depan, akan mengalami benturan, jika tidak ada kekuatan yang menjembatani kepentingan eksistensi keduanya.

Jika sebaliknya tidak ada krisis ekonomi itu, maka situasi ini, keterbelahan, tanpa benturan, akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

Penutup

Kemampuan Rizieqisme mengarahkan konsolidasi umat Islam sudah berlangsung baik. Dalam situasi krisis kepercayaan kepada elite-elite nasional, "trust" atau kepercayaan adalah barang yang paling berharga. Rizieq Sihab saat ini adalah tokoh yang paling dipercaya umat Islam. Apalagi Ketua NU mulai menunjukkan sikap berbalik, yakni mendoakan HRS.

Dalam rangka reuni 212, HRS dan tokoh-tokoh Islam harus memikirkan gerakan yang terkonsolidasi atau jangan secara pasif menunggu perubahan besar -karena berharap runtuhnya "establisment".

Gerakan terkonsolidasi artinya bergerak aktif, seperti langkah PKS yang gesit berkomunikasi, misalnya dengan Surya Paloh dan Tommy Suharto. Langkah ini bisa lebih kuat lagi jika "Trust" yang dimiliki HRS diaplikasikan pada gerakan "(Mutual) Trust Fund", misalnya, atau gerakan jaringan keumatan yang lebih membumi.

Dalam konteks membumi, tantangan besar setelah konsolidasi dan pematangan gerakan, bagi rencana umat Islam ke depan, adalah membangun jaringan perekonomian umat berbasis teknologi dan fintek. Hal ini untuk menghindari dampak merosotnya ekonomi di kalangan rakyat kecil dan orang-orang miskin.

Sebagai penutup, Rizieqisme dengan adanya atau kuatnya kepercayaan umat kepada HRS, optimisme gerakan ummat dan "reuni 212" dapat secepatnya ditingkatkan pada level yang matang.

Syahganda Nainggolan
Sabang Merauke Circle

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya