Berita

Ekonom senior DR Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli: Ekonomi 2020 Anjlok Di 4 Persen, Rakyat Menanggung Beban Utang

JUMAT, 08 NOVEMBER 2019 | 22:54 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal nyungsep di tahun depan. Prediksi itu berulang kali disampaikan ekonom senior DR Rizal Ramli yang melihat tim ekonomi pemerintah salah arah dalam mengambil kebijakan.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu bahkan memprediksi ekonomi Indonesia yang selama ini stagnan di 5 persen bakal anjlok di angka 4 persen pada 2020. Ini lantaran tim ekonomi pemerintah tidak melakukan gebrakan dalam mengambil kebijakan.

“Ini akan semakin menurunkan daya beli dan meningkatkan jumlah perusahaan yang mengalami gagal minus bayar (default). Tidak ada juga tanda-tanda indikator ekonomi makro seperti defisit perdagangan, defisit curent account akan membaik 2020,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (8/11).


Jurus monoton yang dipertontonkan tim ekonomi Jokowi menjadi sorotan Rizal Ramli. Mantan Tim Panel Bidang Ekonomi PBB itu mencontohkan strategi berutang yang selalu dilakukan dalam mengatasi masalah ekonomi, khususnya defisit APBN.

Strategi itu terbilang buruk. Semakin buruk lagi lantaran bunga utang yang diberikan pada kreditor lebih besar dibandingkan dengan negara yang selevel dengan Indonesia.

"Bunga utang Indonesia sampai 8,3 persen, sementara negara lain seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina bunganya empat sampai lima persen,” tegasnya.

Akibat dari kegemaran berutang tersebut, rakyat akan menanggung beban. Mulai dari pengurangan subsidi listrik hingga bantuan sosial bakal dipangkas pemerintah demi menyisakan uang untuk bayar utang.

“Dampaknya daya beli rakyat lemah, karena harga tarif dasar listrik naik, BBM naik, dan akan menyusul iuran BPJS Kesehatan naik 100 persen," tegasnya.

Selain itu, pria yang akrab disapa RR itu juga menilai peningkatan kegiatan ekonomi dan korporasi China yang kian semakin masif juga akan membuat ekonomi Indonesia makin buruk. Ini lantaran nilai tambah dari kegiatan tersebut sangat kecil.

“Karena model bisnisnya menyedot nilai tambah dari hulu ke hilir, sangat berbeda dengan investasi asing lainnya di masa lalu, yang biasanya hanya membawa kurang dari 10 orang tenaga kerjanya," tegas mantan Menko Kemaritiman itu.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

UPDATE

Naming Rights Halte untuk Parpol Dinilai Politisasi Ruang Publik

Rabu, 15 April 2026 | 12:19

Iran Taksir Kerugian Akibat Serangan AS-Israel Capai Rp4.300 Triliun

Rabu, 15 April 2026 | 12:13

Prima Sebut Wacana PDIP Gaji Guru Rp5 Juta Ekspektasi Semu

Rabu, 15 April 2026 | 12:12

Kasus Pelecehan di FHUI Jadi Ujian Integritas Kampus

Rabu, 15 April 2026 | 12:06

Temui Dubes UEA, Waka MPR Pacu Investasi dan Transisi Energi

Rabu, 15 April 2026 | 11:52

IPC TPK Sukses Kelola 850 Ribu TEUs di Awal 2026

Rabu, 15 April 2026 | 11:41

Diduga Dianiaya Senior, Anggota Samapta Polda Kepri Tewas

Rabu, 15 April 2026 | 11:34

Auditor BPKP Ungkap Kerugian Pengadaan Chromebook Terjadi Selama 3 Tahun

Rabu, 15 April 2026 | 11:32

Soal Kasus Bea Cukai, Faizal Assegaf Ungkap Kronologi Hubungan dengan Rizal

Rabu, 15 April 2026 | 11:21

Zelensky Sindir AS Kehilangan Fokus ke Ukraina Akibat Perang Iran

Rabu, 15 April 2026 | 11:03

Selengkapnya