Berita

Presiden Jokowi mengumumkan Kabinet Indonesia Maju/Net

Publika

Kabinet Indonesia Maju, Antara Impian dan Kenyataan

SABTU, 26 OKTOBER 2019 | 11:11 WIB | OLEH: JOHAN O. SILALAHI

PRESIDEN Jokowi baru saja mengumumkan kabinet pemerintahan yang baru. Semangat dan impiannya adalah membentuk 'the dream team', para Menteri dan Wakil Menteri yang terdiri dari para eksekutor, agar bisa menjawab kompleksnya masalah dan tantangan bangsa dan negara Kita saat ini.

Tetapi, harus diakui bahwa alih-alih sesuai namanya "Kabinet Indonesia Maju", sesungguhnya kabinet baru ini lebih tepat jika disebut sebagai "Kabinet Pelangi".

Karena dengan hak prerogatifnya, Presiden Jokowi mencoba mengakomodasi sedemikian kompleksnya berbagai kepentingan politik yang mengelilinginya. Jika Kita melihat pelangi, terdiri dari warna warni yang seolah-olah nyata dan dapat diraba, tapi kenyataan sesungguhnya pelangi itu adalah fatamorgana.


Tentu saja Presiden Jokowi menyadari akan realitas ini. Sebagai pemimpin, Ia sudah banyak makan asam dan garam kehidupan dengan berbagai konflik kepentingan. Ia juga sudah terlatih dan terbiasa hidup dalam tekanan politik. Presiden Jokowi pasti sangat menyadari bahwa yang akan dicatat oleh sejarah dalam periode terakhir kepemimpinannya sekarang ini adalah sejarah tentang dirinya.

Apakah Jokowi akan menjadi Presiden yang berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa Indonesia? Sudah tentu, Jokowi tidak ingin dicatat dalam tinta hitam sejarah bangsa Kita, seperti yang dialami oleh Pemimpin Kita lainnya, yang sama sekali tidak meninggalkan karya nyata yang abadi bagi Indonesia.

Bisa jadi, Presiden Jokowi sedang menerapkan strategi dan taktik "tarik-ulur". Pada awal pembentukan kabinet baru ini, Ia memberi kesempatan siapapun menjadi Menteri dan Wakil Menteri. Dengan cepatnya waktu berlalu, tidak akan lama masa bulan madu akan usai segera.

Para Menteri dan Wakil Menteri akan diuji oleh zaman. Yang mana di antara mereka emas dan yang mana loyang. Saat masa itu tiba, Presiden Jokowi seketika pasti akan mencopot mereka seperti yang sudah dijanjikannya. Ia bisa berkata kepada siapapun mereka; Saya sudah beri kesempatan tapi disia-siakan. Sekarang saatnya saya menggantinya dengan siapapun kader terbaik bangsa, demi menjawab tantangan sejarah. Karena yang sedang dipertaruhkan nasib kehidupan ratusan juta rakyat Indonesia.

Masa bulan madu pemerintahan baru akan berlangsung sangat cepat, karena era keterbukaan dan kecepatan informasi. Jika Presiden Jokowi betul-betul ingin meninggalkan karya nyata abadi atau legacy bagi Indonesia, Ia tidak boleh ragu untuk mengganti para Menteri dan Wakil Menteri dalam kurun waktu 6 sampai 9 bulan ke depan.

Situasi genting bangsa dan negara Kita saat ini, membutuhkan formasi personil kabinet figur-figur yang tangguh, yang bisa cepat dan tepat mengambil keputusan, dan juga harus mampu cepat mengeksekusinya.

Jika dalam kurun waktu 6 sampai 9 bulan kedepan Presiden Jokowi tidak berani mengambil keputusan untuk mereshuffle kabinet pemerintahannya, maka Ia akan kehilangan "golden period" untuk bisa melakukan transformasi pembangunan bangsa dan negara Kita. Secara otomatis, Presiden Jokowi akan berpotensi besar gagal memberikan karya nyata abadi atau legacy bagi bangsa dan negara Kita.

Harus disadari bahwa periode kedua yang juga merupakan periode terakhir dari pemerintahan Presiden Jokowi ini, "waktu yang sesungguhnya" relatif sangat pendek. Secara normatif memang rentang waktu pemerintahannya 5 (lima) tahun, antara tahun 2019 hingga tahun 2024.

Tapi harus dicatat dengan tinta tebal, pada tahun ketiga pemerintahannya, secara perlahan pesona dan wibawa Presiden Jokowi akan mulai tergerus. Karena panggung politik nasional dan perhatian seluruh rakyat Indonesia akan mulai beralih kepada siapa pemimpin nasional atau Presiden Kita yang berikutnya. Pada tahun ketiga nanti atau separuh waktu pemerintahannya, pentas dan panggung politik pemilihan Presiden tahun 2024 sudah tampak di depan mata.

Suhu politik akan mulai memanas. Energi politik bangsa Kita akan mulai terpecah. Sudah tentu konsentrasi, tenaga dan pikiran seluruh jajaran kabinetnya juga akan mulai terpecah. Pasti banyak diantara jajaran Menterinya yang mulai bermain mata, tidak lagi memiliki loyalitas yang tegak penuh kepada pemimpinnya.

Jika ini terjadi secara masif, tentu sangat fatal akibatnya bagi masa depan bangsa dan negara Kita. Doa dan harapan seluruh rakyat Indonesia, tentunya ingin pemerintahan Jokowi-KH Ma'ruf Amin bisa berhasil.

Hanya saja perlu selalu diingat bahwa salah satu kelemahan bangsa Indonesia, sangat ahli dalam membuat rencana, tapi sangat sulit dalam mewujudkannya. Sangat mudah mengucapkan janji, tapi amat sangat sulit untuk memenuhinya. Analoginya sering disebut dalam pepatah bahasa Inggris, "the devils on the details". Presiden Jokowi harus ekstra waspada, jarum jam sudah mulai berdetak, argometernya sudah bekerja.

Penulis adalah Pendiri Negarawan Indonesia

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

UPDATE

Pernah Puji LSP Kapolri Terbaik, Habiburokhman Ungkap Istilah ‘Perkalian Nol’

Minggu, 08 November 2026 | 04:30

Penahanan LSP Jadi Pukulan Berat bagi Jokowi

Minggu, 08 November 2026 | 04:18

Pengamat Puji Ketenangan Jokowi saat Tunjukkan Ijazah di Persidangan

Minggu, 08 November 2026 | 04:00

Ziarah ke Makam Bung Karno, Sekjen PDIP: Kekuasaan itu untuk Rakyat

Minggu, 08 November 2026 | 03:32

Penyadapan Prabowo Mustahil Bukan untuk Tujuan Makar

Minggu, 08 November 2026 | 03:19

Kolaborasi PAM Jaya dan Pemkot Jaktim Hadirkan Sarana Tinju di Kampung Melayu

Minggu, 08 November 2026 | 03:00

Wapres Gibran Tidak Lagi Memiliki Legitimasi sebagai Pemimpin

Minggu, 08 November 2026 | 02:32

Ada Aroma Kuat Makar di Balik Penyadapan terhadap Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 02:22

Kasus Ijazah Jokowi Mirip Pembunuhan Brigadir Yosua

Minggu, 08 November 2026 | 02:04

Wapres Gibran Wajib Menghormati Putusan MA

Minggu, 08 November 2026 | 01:43

Selengkapnya