Berita

Masinton Pasaribu/Net

Politik

Masinton: Seperti Disampaikan Presiden, Menteri Tidak Boleh Punya Agenda Sendiri-sendiri

RABU, 23 OKTOBER 2019 | 16:25 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Menteri dan pejabat setingkat menteri Kabinet Indonesia Maju pemerintahan harus patuh dan loyal kepada Presiden untuk mewujudkan visi-misi pembangunan.

Demikian disampaikan anggota DPR dari PDIP Masinton Pasaribu saat menjadi narasumber diskusi publik bertajuk "Membaca Profile Kabinet Gado-Gado" di Kator Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (23/10).

Hadir juga dalam diskusi ini Ketua Umum PGK Bursah Zarnubi, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno, pengamat politik dari Indonesian Publik Institute Karyono Wibowo, kolompok Cipayung Plus, aktivis pergerakan dan mahasiswa litas generasi.


"Seperti yang disampaikan Presiden, para menteri jangan memiliki agenda sendiri-sendiri. Menteri itu harus memiliki komitmen dan memiliki tanggungjawab, bukan hanya menjalankan program," ujar Masinton.

Menurut Masinton, menteri Jokowi harus fokus bekerja karena Indonesia sedang menghadapi tantangan seperti krisis global dan disintegrasi bangsa. Para menteri tidak boleh bermain politik, karena dikhawatirkan dapat menghambat visi-misi Presiden.

"Menteri-menteri ini jangan terjebak pada politik pencitraan. Kemudian jangan menggunting dalam lipatan," tandas Masinton.

Terkait masuknya dua orang Gerindra Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo menjadi pembantu Presiden, Masinton, menyampaikan bahwa hal itu merupakan politik rekonsiliasi dan akomodatif. Karena bagaimanapun, pemenang politik dalam demokrasi tidak mungkin mengambil semua pos kekuasaan.

"Kabinet ini menampakkan rekonsoliasi. Selain rekonsilisi itu, ya ini politik gotong royong. yang menang tak mungkin mengambil semuanya. Kita tak mungkin kuat menghadapi tantangan krisis global belakangan ini kalau kita tidak bersatu," tukas dia.

Sementara itu, Adi Prayitno mengatakan politik hari ini memang aneh, terutama dalam konteks penyusunan kabinet. Meskipun diterapkan politik kompromistis dan akomodatif, cukup potensial adanya oposisi di dalam pemerintahan.

"Sangat potensial akan ada oposisi dari dalam. Tanda-tandanya cukup terbaca, banyak resistensi sebelum penentuan kabinet. Tapi politik kita itu memang akomodatif. Kta tak bisa menyalahkan Jokowi, kita juga tak bisa menyalahkan Prabowo," katanya.

Tapi apapun itu, Adi mengatakan tidak ada alasan bagi Jokowi untuk tidak mewujukan visi-misinya. Sebab, kata dia, dukungan politik Jokowi cukup kuat.

"Ke depan Jokowi tak punya alasan untuk tidak mewujudkan janji-janji politiknya, cita-cita nawacitanya karena dukungan partai penuh dan dukungan politik di parlemen 70 persen. Jadi kabinet harus mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang selama ini tidak terselesaikan," tuturnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya