Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Pengamat: Aparat Negara Terpapar Paham Radikal Itu Berbahaya, Pemerintah Harus Serius Memberantas

SENIN, 14 OKTOBER 2019 | 02:24 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Penyebaran paham ekstrem yang berujung tindakan teror di Indonesia disebut sudah mulai mengkhawatirkan. Banyak kalangan meminta pemerintah harus segera mengambil langkah serius untuk memerangi ideologi yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pemerhati sosial yang juga Sekretaris Jenderal Pergerakan Masyarakat Milenial, Mukhtar Anshori Tijjani memprediksi, beberapa temuan diatas merupakan fenomena gunung es. Menurutnya, aparat negara yang terpapar ideologi ekstrem bisa jadi lebih banyak.

Dia menyebutkan, baru saja ada oknum polisi wanita di Maluku yang dipecat karena diduga menjadi anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang siap melakukan bom bunuh diri. Aparatur negara, kata Mukhtar, harusnya menjadi benteng utama keutuhan bangsa bukan malah merongrong negara.


"Ini benar-benar jadi ancaman serius bangsa ini karena virus ekstrem sudah merasuki sendi pemerintah. Mereka harusnya hadir sebagai penjaga keutuhan republik bukan malah jadi momok yang membahayakan," demikian kata Mukhtar kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (14/10).

Lebih lanjut Mukhtar juga mengungkapkan, pernyataan menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu 2018 lalu yang menyebut ada 3 persen anggota TNI yang terpapar paham radikal harus direspons serius.

Mukhtar juga menambahkan, hasil riset lembaga survei Alvara 2017 lalu juga menemukan hampir 20 persen pegawai BUMN dan aparatur sipil negara terpapar paham radikal.

"Besar kemungkinan virus paham ekstrem ini terus menjalar di kalangan pemerintahan. Ini harus segera diberangus melalui pembinaan serta indoktrinasi kembali mengenai wawasan kebangsaan di seluruh perangkat pemerintahan," tandas Mukhtar.

Selain itu, Mukhtar juga menyinggung persebaran paham ekstrem di kalangan milenial. Data riset menyebutkan, 23 persen lebih pelajar dan mahasiswa yang setuju melakukan jihad untuk menegakkan khilafah. Beberapa fakta diatas harus jadi perhatian serius pemerintah untuk menangkal paham esktrem.

"Pemerintah baik pihak eksekutif, legislatif dan yudikatif tentunya harus lebih serius, mengingat ini ancaman bangsa Indonesia. Perlu formulasi baru untuk pencegahan faham ekstrem dalam membentengi masuknya ideologi ekstrem," pungkasnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Cara Cek Status Eligible Magang Kemnaker 2026, Alasan Tidak Lolos Verifikasi

Jumat, 17 Juli 2026 | 20:22

Prabowo Segera Luncurkan Motor Listrik Buatan Anak Bangsa

Jumat, 17 Juli 2026 | 20:19

Panglima: TNI AD Sumbang 55 Persen Produksi Beras Nasional 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:53

Profil Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:26

Ini Alasan Kejagung Belum Tahan Febrie Adriansyah

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:19

Halaqah Pra Muktamar NU Diawali Khataman Al-Qur'an dan Doa Bersama

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:17

Prabowo Putuskan Bangun Minimal 30 Pabrik Bioetanol di Indonesia

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:16

Jadwal Final dan Perebutan Posisi 3 Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Prancis Tantang Inggris

Jumat, 17 Juli 2026 | 19:07

Pertamina Patra Niaga Bantah Isu Transporter Enggan Salurkan BBM di Sumut

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:41

Pramono Buka Jalan Alumni PKM Berdakwah di Masjid Milik Pemprov DKI

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:41

Selengkapnya