Berita

Peta Timur Tengah/Net

Muhammad Najib

Angin Segar Berhembus Dari Timur Tengah

JUMAT, 04 OKTOBER 2019 | 14:23 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

AMERIKA Serikat ternyata gagal melindungi Saudi Arabia. Padahal negara yang dipimpin Raja Salman ini, telah membayar sangat mahal berbagai peralatan militer super canggih buatan Amerika.

Lebih dari itu, penanggungjawab dua tempat suci Ummat Islam ini, telah mengorbankan hargadirinya, demi untuk mendapatkan perlindungan politik maupun militer dari Gedung Putih.

Serangan yang diklaim dilakukan oleh pemberontak Houthi dari Yaman, terhadap kilang minyak mentah terbesar milik Aramco di Abqaiq dan ladang minyaknya di Khurais, menyadarkan Putra Makota yang juga penguasa defacto Saudi Arabia Muhammad bin Salman  yang terkenal dengan panggilan MBS, ternyata Amerika tidak mampu melindunginya.


Apalagi jika memperhatikan senjata yang digunakan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya. Kombinasi drone dan peluru kendali yang digunakan berhasil meluluh-lantakan sumber utama keuangan Saudi Arabia, yang mengakibatkan produksi minyaknya anjlok sampai 50 persen.

Walaupun pemberontak Houthi telah menyatakan secara terbuka bertanggungjawab  terhadap serangan itu, akan tetapi baik Saudi Arabia maupun Amerika bersikeras menuduh Iran yang berada di balik serangan itu. Iran berkali-kali membantah tuduhan itu.

Seharusnya tidak perlu dipersoalkan, apakah Houthi atau Iran yang harus bertanggungjawab, karena faktanya Houthi mendapatkan dukungan politik, logistik, dan peralatan militer dari Iran. Bahkan bukan mustahil operator serangan itu dilakukan oleh orang-orang yang dilatih Iran, meskipun dilakukan dari wilayah Yaman.

Teheran tahu betul bahwa pasukan Amerika baik yang berpangkalan di kapal induk, maupun yang berada di negara-negara sekitar Iran, dilengkapi dengan peralatan yang mampu mendeteksi, dari wilayah mana sesungguhnya asal drone dan rudal yang menyerang Saudi Arabia tersebut. Belum lagi kalau kita berfikir bahwa satelit mata-mata  Amerika bisa mendeteksi, setiap benda yang bergerak di permukaan bumi ini.

Akan tetapi, Perdana Mentri Irak Abdul Mahdi sesuai melakukan kunjungannya ke Riad dan bertemu Raja Salman menyatakan, bukan mustahil Israel yang berada di balik serangan yang mengguncang Riad tersebut.

Karena itu sangat menarik untuk mengikuti perkembangan di kawasan Timur Tengah saat ini, karena terbukti Tel Aviv yang paling menginginkan terjadinya perang baik antara Amerika vs Iran, atau Saudi Arabia vs Iran.

Karena itu, pasca serangan terhadap  Abqaiq dan Khurais, pernyataan MBS walaupun cukup mengejutkan saat berbicara di TV CBS yang berbasis di Amerika, yang memberikan isyarat baru dalam menyelesaikan konfliknya dengan Iran, sangat melegakan dunia internasional.

Bahwa ia akan menyelesaikan masalah yang dihadapinya terhadap Iran, tidak dengan menggunakan pendekatan militer, merupakan sikap yang sangat rasional dan realistis sesuai harapan masyarakat yang cinta damai.

Walaupun sikapnya ini berbeda dengan sikap sebelumnya yang terus-menerus menerus ancaman, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan banyak pihak.

Akan tetapi, perubahan yang positif ini mendapatkan sambutan yang antusias dari Perdana Mentri Irak Abdul Mahdi, dan Perdana Mentri Pakistan Imran Khan, yang siap menjadi mediator antara MBS dan Hassan Rouhani.

Ibarat gayung bersambut, dari Teheran sudah muncul respon positif baik dari Presiden Iran Hassan Rouhani, maupun oleh Ketua Parlemen Iran Ali Larijani. Karena itu dalam waktu dekat Abdul Mahdi akan mengunjungi Teheran.

Perkembangan terakhir ini ibarat angin segar, mengingat selama ini para pemimpin di kawasan ini cendrung untuk menggunakan senjata untuk menyelesaikan persoalan, baik terkait dengan rakyatnya sendiri, maupun dengan tetangganya.

Padahal penggunaan senjata telah terbukti bukan saja tidak menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru yang lebih pelik. Lebih dari itu, penggunaan senjata selama ini hanya meguntungkan musuh-musuh mereka.

Negara-negara muslim, jika belum bisa saling membantu, sebaiknya masing-masing fokus pada upaya memajukan negara dan bangsanya sendiri, dengan cara memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya, tanpa mengganggu atau ikut campur pada urusan negara lain.

Jika dialog antara Riad dan Teheran jadi kenyataan, maka ketegangan di kawasan Teluk akan segera mereda, termasuk perang saudara di Yaman yang sudah berlangsung sekitar 5 tahun akan mudah diselesaikan.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya