Berita

Novel Baswedan/Net

Publika

Kaum Radikal Di KPK

SELASA, 24 SEPTEMBER 2019 | 16:02 WIB | OLEH: DAHNIL ANZAR SIMANJUNTAK

DUA tahun lalu. Saya lupa tepatnya hari apa dan tanggal berapa. Sahabat saya menelpon dengan penuh cemas dan sedih, dia mengaku kesulitan mencari kamar rumah sakit untuk merawat “apak” alias ayahnya yang mengalami kanker otak, melalui bantuan seorang sahabat, aku coba carikan, namun gagal, semua kamar di RSPAD penuh, dan akhirnya aku dengar dia mendapat kamar di RS Pusat Otak Nasional di Jakarta Timur.

Namun, masalah belum selesai, ternyata tidak tersedia ambulans yang memadai untuk membawa apak dari RS di Serpong menuju RS PON di Jakrta Timur. Akhirnya aku meminta RSI Cempaka Putih milik Muhammadiyah agar mengirimkan mobil ambulans untuk membantu membawa apak sahabat saya tersebut dari Serpong menuju Jakarta Timur.

Upaya maksimal telah dilakukan sahabat tersebut, namun kehendak Allah SWT berkata lain, apak dipanggil menghadap Allah SWT setelah bertarung berhadapan dengan kanker otak ganas. Bayangkan, seorang elit di institusi prestius, yakni KPK, tapi dia menolak untuk menggunakan posisinya untuk memperoleh kemudahan dalam pelayanan, meski itu untuk ayahnya sendiri, bahkan dalam kondisi yang sudah krisis.


Dia bertahan dengan etika dan integritas yang dia pegang. Bagi orang kebanyakan itu adalah Etika dan Integritas yang radikal. Tak kenal toleransi dengan setiap celah kesempatan yang bisa merusak etik dan integritas tersebut.

Pada peristiwa lainnya, sahabat tersebut melakukan penyelidikan terhadap salah seorang pejabat tinggi negara, dia tak pernah bicara kepada siapa pun termasuk kepada anggota keluarga, atau pun sahabat-sahabat dekat terkait kerja-kerja pro justisia yang sedang dilakukan, sampai akhirnya dia melakukan OTT (operasi tangkap tangan) terhadap salah satu pucuk pimpinan institusi tinggi negara, ketika keluarga mengetahui bahwa yang di OTT tersebut adalah sahabat dekat orang tuanya, bahkan masih keluarga, makian dan pelbagai tuduhan dialamatkan kepadanya.

Dia bergeming, tak ada toleransi bagi siapa pun yang melakukan kejahatan korupsi, bahkan keluarganya sendiri harus ditindak dengan adil dan berkeadilan. Sekali lagi, ini sikap radikal, tak kenal toleransi.

Novel Baswedan. Nama ini jadi legenda KPK dan agenda pemberantasan korupsi di Indonesia. ditakuti para koruptor. Dia menjadi korban dari kebencian dan dendam para koruptor, dia kehilangan sebelah matanya karena sikap anti-toleransi terhadap koruptor, sikap radikalnya melawan korupsi berbuah penyerangan terhadap dirinya 2 tahun lalu, dan sampai saat ini tak kunjung selesai meski Presiden telah berjanji “ribuan kali” agar pihak kepolisian mengungkap pelakunya.

Pada satu kesempatan, saya berbincang dengan Novel, apakah dia dendam? Dengan ringan Novel menjawab, “tidak sama sekali, yang mereka lakukan akan kembali kepada mereka sendiri, mas. Mereka akan mempertanggungjawabkan kepada Allah SWT, kelak”.  Kata Novel kepada saya.

Novel tahu persis, siapa dalang penyiraman air keras terhadap dirinya, namun dia sama sekali tidak ingin melakukan tindakan di luar hukum, meski dia sendiri tidak percaya dengan proses hukum yang dilakukan, dia tetap berusaha berjuang dikoridor hukum tersebut, sampai titik darah penghabisan.

Dia menolak melanggar hukum yang sepanjang hidupnya dia perjuangkan agar hukum tersebut tegak. Kesabaran Novel Baswedan sangat radikal. Dia tidak pernah bertoleransi dengan pelanggaran hukum, meski dia tahu hukum tidak berlaku adil terhadap dirinya.

Proses politik pelemahan terhadap KPK melalui upaya revisi UU Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berulang dilakukan, setidaknya dua kali dilakukan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yakni tahun 2010 dan 2012. Namun selalu gagal, karena adanya penolakan dari masyarakat sipil.

Baru pada era pemerintahan Joko Widodo, pelemahan  melalui revisi UU KPK dilakukan lebih sistematik dan massif mulai tahun 2015, 2016, 2017, dan baru lah pada 2019 ini upaya melakukan revisi tersebut sukses dilakukan, bagi saya tidak penting siapa yang menginisiasi, apakah Presiden dan DPR RI, karena pada prinsipnya keduanya sama-sama pernah menginisiasi dan kemudian mereka berbagi tugas.

Presiden pernah menginisiasi revisi pada 2015, meski kemudian tertunda, dan selanjutnya secara konsisten diinisiasi oleh DPR, hanya tahun 2018 inisiasi revisi UU KPK tidak dilakukan karena mendekati pemilu 2019, setelah pemilu baru lah ramai-ramai mendorong revisi UU KPK secepat kilat menyambar, tiba-tiba dan tergesa-gesa.

Dalam proses politik revisi tersebut ada komunikasi politik yang dilakukan berbagai pihak, termasuk meminta KPK agar fokus pada pencegahan, bila mau OTT, ya peringatkan dulu lah, kompromi-kompromi seperti ini sering dilontarkan para politisi kepada KPK, namun sekali lagi para penyelidik dan penyidik KPK yang radikal-radikal tersebut menolak bertoleransi dengan kompromi-kompromi politik seperti itu, mereka tetap bergeming siapa pun yang melakukan tindak korupsi akan ditindak dengan tegas tak peduli siapa mereka dan apa latarbelakang mereka. Apakah ada yang bertoleransi dengan kompromi politik tersebut? Ya ada, mereka ini lah yang mungkin bisa disebut kelompok pengusung toleransi di KPK, kelompok moderat dalam penanganan kasus korupsi di KPK.

Jadi, bersyukurlah rakyat Indonesia para radikalis-radikalis tersebut bersemayam menjaga agenda pemberantasan korupsi di Indonesia melalui KPK, mereka menolak bertoleransi dengan para koruptor.

Tengok saja, para pembela koruptor ramai-ramai menuduh KPK dikuasai Taliban radikal dengan sentiment agama tertentu, dan ingin membersihkan para radikalis-radikalis ini dari KPK, supaya apa? Supaya KPK diisi oleh pribadi-pribadi toleran terhadap koruptor? Teruslah radikal lawan korupsi wahai KPK.

Penulis adalah peneliti senior Institute Kajian Strategis UNKRI


Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

UPDATE

Fasilitas Server Diserang, AS-Israel Makin Kewalahan Hadapi Iran

Senin, 16 Maret 2026 | 01:30

Kecelakaan Beruntun di Tol Semarang-Batang Nihil Korban Jiwa

Senin, 16 Maret 2026 | 01:09

Port Visit di Cape Town

Senin, 16 Maret 2026 | 00:50

Program MBG Bisa Lebih Kuat jika Didesain secara Otonom

Senin, 16 Maret 2026 | 00:30

Persib dan Borneo FC Puas Berbagi Poin

Senin, 16 Maret 2026 | 00:01

Liberalisasi Informasi dan Kebutuhan Koordinasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:42

Polri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Andrie Yunus

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:17

Ketika Jiwa Bangsa Menjawab Arogansi Teknologi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:14

Teror Air Keras dalam Dialektika Habermasian

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:45

Yuddy Chrisnandi: Visi Menteri dan Presiden Harus Selaras

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya