Berita

Korea Selatan/Net

Dunia

Sederet Mantan Presiden Yang Mendekam Di Bui Dan Sejarah Kelam Demokrasi Korea Selatan

MINGGU, 22 SEPTEMBER 2019 | 20:57 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Di tengah hingar bingar melesatnya perekonomian Korea Selatan, negara tersebut memiliki fakta kelam dalam hal penegakan hukum, terutama yang menyangkut kasus korupsi.

Betapa tidak, setengah dari seluruh mantan presiden Korea Selatan yang masih hidup, kini mendekam di balik jeruji besi karena terjerat kasus korupsi.

Sebut saja Lee Myung-bak. Pada 5 Oktober 2018 lalu, mantan presiden tersebut dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena menggelapkan dana senilai 24,6 miliar won.


Lee akan bergabung dengan penggantinya, yakni Park Geun-hye yang tahun lalu memulai hukuman 25 tahun penjara atas berbagai tuduhan korupsi.

Hukuman penjara yang panjang yang menjerat keduanya tampak mencolok untuk sebuah demokrasi yang mapan.

Manajer Program untuk Studi Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan, Olivia Schieber, dalam artikelnya di AE Ideas Oktober tahun lalu menulis bahwa perjalanan Korea Selatan dan demokrasi memang tidak mulus.

Sejak presiden pertama yang berubah menjadi diktator, Rhee Syngman hingga presiden lainnya yang berubah menjadi diktator, Park Chung-hee dan Chun Doo-hwan, negeri ginseng bisa dibilang tidak menjadi demokrasi terkonsolidasi sepenuhnya sampai setidaknya tahun 2002.

Meski Korea Selatan kemudian berkembang menjadi salah satu negara demokrasi yang lebih stabil di kawasan Asia Timur, namun nasib segelintir mantan presidennya justru menjadi suram.

Park dibunuh setelah hampir 20 tahun berkuasa dan Chun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena perannya dalam Pembantaian Gwangju, meski kemudian hukumannya diringankan.  

Selain itu ada mantan presiden Roh Tae-woo yang dipenjara seumur hidup, meski kemudian diampuni. Ada juga Kim Dae-jung dan Roh Moo-hyun yang sudah meninggal, yang tidak bebas dari kasus hukum.

Dalam demokrasi, skandal korupsi bukan hal yang jarang terjadi, begitu pun dengan protes publik. Namun dalam kasus Korea Selatan, sikap publik terhadap erosi norma-norma demokrasi bisa dianggap mengkhawatirkan.

Sebagai contoh, sekitar 60 persen warga Korea Selatan menentang pemakzulan mantan presiden Roh pada tahun 2004. Namun hampir 80 persen warga Korea Selatan mendukung pemecatan Park Geun-hye.

Bahkan lebih buruk lagi, persentase warga Korea Selatan yang mengatakan "penting" untuk hidup dalam demokrasi umumnya di bawah 50 persen untuk semua kelompok umur.

"Apatisme yang jelas terhadap lembaga-lembaga demokratis mengisyaratkan adanya masalah serius di masa depan, terutama mengingat godaan Seoul baru-baru ini dengan otoriterisme, termasuk keputusan untuk menghapus sejarahnya sendiri dengan Korea Utara," sambung Schieber dalam artikelnya.

Karena itulah, ketika pemerintahan Korea Selatan saat ini di bawah pemerintahan Presiden Moon Jae-in bergerak ke arah mengakhiri perang dengan Korea Utara dan meningkatkan hubungan antar-Korea, demokrasi Korea Selatan yang kuat sangat penting.

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kesehatan Jokowi Terus Merosot Akibat Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 11 Februari 2026 | 04:02

Berarti Benar Rakyat Indonesia Mudah Ditipu

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:34

Prabowo-Sjafrie Sjamsoeddin Diterima Partai dan Kelompok Oposisi

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:06

Macet dan Banjir Tak Mungkin Dituntaskan Pramono-Rano Satu Tahun

Rabu, 11 Februari 2026 | 03:00

Board of Peace Berpotensi Ancam Perlindungan HAM

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:36

Dubes Djauhari Oratmangun Resmikan Gerai ke-30.000 Luckin Coffee

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:19

Efisiensi Energi Jadi Fokus Transformasi Operasi Tambang di PPA

Rabu, 11 Februari 2026 | 02:14

Jagokan Prabowo di 2029, Saiful Huda: Politisi cuma Sibuk Cari Muka

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:18

LMK Tegas Kawal RDF Plant Rorotan untuk Jakarta Bersih

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:06

Partai-partai Tak Selera Dukung Prabowo-Gibran Dua Periode

Rabu, 11 Februari 2026 | 01:00

Selengkapnya