Berita

Mahasiswa sedang unjukrasa menolak revisi UU KPK/RMOL

Publika

Mahasiswa Dan Masa Depan Bangsa

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 | 21:05 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

ROMBONGAN mahasiswa ITB hari ini ikut bergerak ke DPR, bersama kelompok mahasiswa UI, IPB, Trisakti dlsb. mengecam Jokowi dan DPR atas revisi UU KPK. Tadi malam mantan tokoh mahasiswa ITB 90-an mengontak saya untuk menerima pimpinan mahasiswa ITB tersebut. Namun, saya berhalangan. Tadi saya baru tahu pemimpin mahasiswa ITB sekarang ini sudah sebelumnya mempunyai hubungan percakapan dengan "jaringan elite" nasional anti revisi UU KPK.

Posisi saya yang suka mengkritik KPK namun menolak revisi inisiatif ala rezim Jokowi yang mematikan KPK berbeda faksi dengan kelompok anti revisi KPK, maupun kelompok pro revisi KPK.

Kelompok-kelompok anti revisi KPK umumnya mempunyai mazhab pemikiran seperti lembaga ICW dan majalah Tempo. Selama 17 tahun keberadaan KPK, kelompok ini menikmati jaringannya pada KPK, baik kenikmatan mempengaruhi KPK dalam pembangunan image politik mereka, seperti kelompok elite bersih, maupun posisi nyata dalam mengakses karir atau posisi di pemerintahan.



Sebaiknya, kelompok-kelompok inisiator revisi UU KPK adalah rezim penguasa yang ingin KPK mati. Karena KPK tentu saja mengganggu bagi pembangunan imperium kekuasaan mereka.

Keinginan pimpinan mahasiswa ITB untuk bertemu dengan saya, menunjukkan kehebatan sang mahasiswa tersebut untuk mematahkan klaim yang mungkin nantinya secara sepihak dilakukan kelompok-kelompok elite anti revisi UU KPK. Mahasiswa ingin menyeimbangkan tentang jaringan mereka sekaligus menunjukkan mereka adalah gerakan mahasiswa independen.

Mahasiswa Garda Depan

Mahasiwa adalah kaum pelopor saya yakini selama ini. Sejak suara mahasiswa tergeser dengan suara emak-emak, kegelisahan saya muncul karena tesis saya selama ini bahwa mahasiswa adalah garda terdepan perjuangan bangsa mulai saya ragukan. Sebulan lalu, tokoh mahasiswa legendaris, Hariman Siregar, yang saya tanyakan posisi keraguan saya tersebut membantah. Menurutnya mahasiswa pasti akan bergerak, begitu hiruk pikuk kontestasi perebutan kekuasaan selesai. Dan benar saja bahwa setelah pilpres serta bagi-bagi kekuasaan dianggap selesai, mahasiswa tampil lagi kepermukaan melakukan gerakan.

Gerakan mahasiswa murni, bukan "gerakan mahasiswa nasi bungkus", adalah gerakan mahasiswa yang tampil merespons kekuasaan yang zalim. Kekuasaan zalim itu, memang seringkali tidak mampu dijelaskan mahasiswa secara teoritik, namun mahasiswa dapat merasakan, sekali lagi merasakan. Dalam konteks penghapusan eksistensi KPK via revisi yang dilakukan Jokowi dan DPR, mahasiswa mengetahui bahwa revisi itu berarti rezim Jokowi menarik komitmennya pada pemerintahan bersih.

Padahal simbol pemerintahan bersih menjadi fokus utama bangsa paska reformasi. Majalah Tempo, misalnya, tentu saja mempunyai aksi-reaksi, terhadap kesadaran mahasiswa, ketika menampilakan foto Jokowi berhidung pinokio. Artinya, saling terpengaruh. Keberanian tempo mencela Jokowi tentu dengan menghitung keresahan kalangan intelektual muda pada situasi ini terkait KPK.
Tentu saja, sekali lagi, kesadaran mahasiwa saat ini muncul karena situasi kebobrokan nasional masuk dalam kesadaran mereka. Persoalan bagaimana jaringan antar kampus menjadi besar, seperti gerakan pendudukan DPR RI, hari ini, tentu dapat dijadikan indikasi  bahwa ada kelompok anti revisi UU KPK yang ikut membantu kemudahan jaringan. Meskipun ini hanya indikasi, dan bisa salah. Namun, dalam persepektif gerakan politik mahasiswa, bantuan itu tidak mengurangi idealisme dan independensi gerakan mereka.

Penjelasan saya tentang kebangkitan mahasiswa saat ini untuk merespons berbagai pihak yang kebingungan, khususnya di medsos, saat ini. Sebagiannya malah ada yang mencurigai gerakan mahasiswa anti revisi UU KPK ini digerakkan oleh penguasa. Padahal sejatinya kelompok-kelompok anti revisi ini adalah mahasiswa-mahasiswa kampus besar yang mereka mempertaruhkan eksistensi dan moralitasnya secara beresiko.

Tentu saja bagi mahasiswa, kecurigaan atas independensinya harus di komunikasikan kepada berbagai elemen gerakan nasional. Untuk memperkuat keyakinan berbagai pihak dengan kebingungan hilangnya gerakan mahasiswa hampir 5 tahun ini.

Kebersamaan Perjuangan

Mengembalikan mahasiswa sebagai garda depan perjuangan bangsa adalah suatu keharusan. Kelompok-kelompok non mahasiswa, tanpa mengurangi respek terhadap kekuatan emak-emak militan, seringkali terjebak pada tuntutan sejarah yang kurang memberi tempat utama pada gerakannya. Gerakan buruhpun misalnya, selalu dianggap akan selesai ketika tuntutan upah selesai.

Sebaliknya, gerakan mahasiswa akan bergerak terus melawan, sesuai sejaranya mengontrol kekuasaan yang menyimpang. Olehkarenanya, kekuatan2 perubahan, yang ada selama ini, seperti gerakan emak-emak juga, harus membangun kebersamaan dengan gerakan mahasiswa tersebut.
Kekuatan politik pro perubahan dan gerakan mahasiswa harus menyamakan visi dan target perjuangan. Sekaligus mencegah kelompok "penunggang gelap" mencari keuntungan dari gerakan mahasiswa ini.

Jika kebersamaan perjuangan dapat dilakukan kaum perjuangan, maka kekuatan jahat dalam tubuh bangsa kita akan bisa tersingkirkan.

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Circle


Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya