Berita

Gedung KPK/Net

Politik

Serangan Narasi Taliban Efektif Buat Publik Ragu Pada KPK

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2019 | 02:58 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di media sosial (medsos) terjadi secara terstruktur, masif dan sistematis. Sasaran pelemahan KPK lewat medsos adalah keraguan publik terhadap lembaga antirasuah itu.

Begitu urai pendiri dan analis Drone Emprit Akademik, Ismail Fahmi dalam diskusi di Kantor Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (18/9).

“Ada pola operasi di medsos. Kita perhatikan, di medsos itu sebenarnya simpel saja. Ketika ada sebuah hal yang ingin dicapai, maka publik dibombardir dengan narasi. Dan narasi itu butuh semacam labelling," ujarnya.


Selama ini, lanjut dia, label yang paling efektif memberikan dampak di medsos adalah soal khilafah dan radikalisme. Sementara untuk KPK, narasi yang dikembangkan adalah soal isu taliban yang ada dalam lembaga itu.

Kemudian, yang dipakai ketika membangun narasi Taliban dalam KPK adalah lewat tulisan, video, gambar.

Rangkuman informasi ini lantas dibombardir terus-menerus, sehingga dampaknya orang yang semula percaya kepada KPK menjadi ragu-ragu.

Strategi selanjutnya, kata Ismail, menyerang tokoh tertentu di KPK. Ismail menyebut nama penyidik KPK Novel Baswedan yang disangkutpautkan dengan Taliban. 

"Narasi yang dibangun kan bukan soal benar salah informasi itu ya. Yang berusaha disasar adalah keragu-raguan. Supaya publik ragu kepada KPK,” terangnya.

Kata Ismail, narasi yang dibangun bisa dikatakan berhasil andai lebih dari 20 persen orang yang semula percaya KPK mulai mengalami keragu-raguan.

Menurut Ismail, Twitter merupakan medsos yang sangat efektif untuk membangun narasi pelemahan KPK. Lewat Twitter, pasukan cyber (cyber troops) yang mempengaruhi publik bisa muncul lewat buzzer dan influencer. 

"Trending topic itu mereka gunakan dengan hestek. Mereka tidak peduli apakah itu topik banyak gunakan robot atau tidak. Ini dilakukan terus menerus, hari ini ada. Besok ada. Dan seterusnya. Akibatnya terbangun suatu narasi dan akhirnya publik pasrah menerima,” paparnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

BNI Bawa Tiga UKM Indonesia Tembus Pasar Korea Selatan

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:23

Api Ludeskan Rumah Tinggal di Cakung Timur

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:14

BNI Geber Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR

Jumat, 17 Juli 2026 | 00:01

Baznas dan Sound Rhythm Ajak Nonton Bola Sambil Sedekah

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:47

Rano Karno Targetkan 500 Penyanyi Tampil di Bundaran HI

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:16

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 23:00

Nobar Piala Dunia TNI AD di 25 Ribu Titik Capai 1,13 Juta Penonton

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:52

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:45

KPK Rampungkan Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Raja Juli

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:34

Wamen Investasi: Kepastian Hukum Jadi Faktor Penting Tarik Investor Asing

Kamis, 16 Juli 2026 | 22:22

Selengkapnya