Berita

Mahkamah Konstitusi/Net

Politik

Koalisi Masyarakat Sipil Rencanakan Gugat UU KPK Baru Ke MK

RABU, 18 SEPTEMBER 2019 | 14:25 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Dosen ilmu politik Universitas Paramadina Khairul Umam menyampaikan, pihaknya bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) dan juga masyarakat sipil akan mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait persetujuan DPR merevisi UU KPK, Selasa (17/9).

Umam mengatakan, indeks kepercayaan publik terhadap Presiden Jokowi saat ini telah menurun ditandai dengan adanya narasi pengesahan RUU KPK dan pimpinan KPK. Jokowi memiliki waktu 60 hari untuk mempertimbangkan UU KPK agar dapat menaikkan penerimaan di mata masyarakat.

“Permainan masih berjalan presiden masih memiliki waktu 60 hari mempertimbangkan RUU yang kemarin disahkan dan kawan-kawan di gerakan civil society juga berusaha merumuskan judicial review di MK,” ungkap Umam di ITS Tower, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (18/9).


Dalam 60 hari tersebut, Jokowi diminta mengeluarkan Peraturan Perundang-undangan untuk tidak menyetujui keluarnya RUU KPK. Jika tidak dikeluarkan maka sejumlah elemen masyarakat akan mengajukan judicial review di MK.

“Kita kemudian masih berharap ke MK. Apakah MK memiliki spirit memadai terhadap agenda pemberantasan korupsi atau tidak? Ya, kita lihat. Kalau sama saja, satu suara dengan pemerintah dan DPR. Itu sama saja disebut Trias korupsia,” ujarnya.

“Eksekutif, legislatif, yudikatif menjadi penyuplai kekuatan yang kurang berpihak terhadap agenda perbaikan tata kelola pemerintahan,” tambahnya.

Secara prosedural masih ada harapan untuk Jokowi menolak RUU KPK, Umam mengatakan, permainan politis belum selesai dan berharap ada keajaiban.

“Kita berharap ada miracle (keajaiban) di sana, presiden masih memberikan pendapat berbeda. Teman-teman juga sudah menyiapkan judicial review,” ucapnya.

Menurutnya pengesahan RUU KPK cukup unik lantaran tidak memenuhi tatib kuorum.

“ Ditandatangani 280 orang, tetapi yang hadir ketika dihitung per kepala cuma sekitar 100. Kalau bicara tata tertib kuorum, itu tidak kuorum. Itu sebanarnya bisa menjadi salah satu dalil dalam konteks judicial review, terlepas dari aspek kajian detail,” tandasnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Berkunjung ke USS Missouri

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:08

Legislator PDIP Minta Pemerintah Gercep Atasi Titik Panas di Sejumlah Wilayah

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:48

Menakar Arah Pemerataan Lewat Pelayaran Perintis

Sabtu, 18 Juli 2026 | 05:20

TNI Kirim Satgas Kompi Zeni dalam Misi Perdamaian PBB di Kongo

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:58

Pemerintah Didorong Segera Bentuk Badan Rempah dan Herbal Nasional

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:38

PBB Dukung Penuh Pemerintahan Prabowo dan Bidik Kemenangan 2029

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:18

Ancaman Industri Hasil Tembakau dan Agenda Global

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:59

BRI Gelar KKB Expo Hadirkan Kemudahan Layanan Pembiayaan Kendaraan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:45

Data Pengungsi Papua Harus dapat Dipertanggungjawabkan

Sabtu, 18 Juli 2026 | 03:20

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selengkapnya