Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Amanat Penderitaan Rakyat

SABTU, 14 SEPTEMBER 2019 | 08:15 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

TIDAK pernah henti saya mengagumi keberanian Siddharta Gautama meninggalkan gemerlap keduniawian bahkan tahta kerajaan setelah menyaksikan tiga amanat penderitaan manusia.

Ramalan

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sala.


Oleh para peramal dinubuatkan sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia).

Namun peramal Kondañña meramalkan bahwa Siddharta kelak akan menjadi pertapa.

Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda Raja Suddhodana menjadi cemas, karena apabila sang putra mahkota menjadi pertapa, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya.

Kondanna menjelaskan agar Pangeran tidak menjadi pertapa maka  jangan sampai melihat tiga amanat penderitaan manusia yaitu sakit, tua dan mati.

Kenikmatan Duniawi

Maka Suddhodana menugaskan banyak pelayan untuk memanjakan Pangeran Siddharta, agar sang putra mahkota dapat menikmati hidup keduniawian.

Segala bentuk penderitaan manusia disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.

Suatu hari Pangeran Siddharta diam-diam berjalan ke luar istana, di mana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya orang sakit, orang tua, orang mati.

Pangeran Siddhartha prihatin dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, menjadi tua dan kemudian mati?"

Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir.

Akhirnya pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya ditemani oleh kusirnya, Channa.

Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.

Aneka Ragam

Siddharta melihat tiga APM (Amanat Penderitaan Manusia) yaitu sakit, tua dan mati, padahal sebenarnya masih lebih banyak lagi ragam penderitaan di planet bumi ini.

Misalnya derita tidak mampu membayar biaya iuran asuransi kesehatan yang makin mahal, derita tidak bisa sekolah akibat tidak mampu bayar uang gedung, uang wisata sampai uang seragam, atau derita menjadi tua tanpa ada yang sudi merawat padahal memiliki sanak-keluarga bahkan anak-anak kandung.

Mati bisa ditunda saatnya oleh teknologi kedokteran yang makin canggih sambil makin mahal yang berarti memperpanjang masa penderitaan.

Masih begitu banyak manusia termasuk anak-anak menderita akibat dianiaya dan/atau diperkosa oleh sesama manusia.

APM juga bisa bersifat politik seperti dilaporkan ke polisi atas berbagai macam dugaan mulai dari pencemaran nama baik sampai makar.

Senantiasa ada yang sedemikian iri dan dengki sehingga tega memfitnah sampai menyelakakan sesama manusia.

Kemelut politik dan ekonomi bisa menyebabkan manusia mengungsi dari suatu negara ke negara lain.

Bahkan rakyat miskin yang sudah cukup menderita lahir-batin akibat kemiskinan masih harus ikhlas digusur atas nama pembangunan sambil alih-alih dibantu atau dihibur malah dicemooh, dihujat, difitnah, distigmasisasi sebagai sampah masyarakat oleh sesama manusia yang kebetulan tidak mengalami nasib digusur.

Ajakan

Memang tidak semua insan manusia (termasuk saya) memiliki keberanian meninggalkan kenikmatan duniawi seperti Siddharta Gautama.

Sebenarnya tidak ada kewajiban bagi siapa pun untuk meniru keberanian Siddharta Gautama.

Namun pada hakikatnya kisah perjalanan Siddharta Gautama mencari makna kehidupan merupakan ajakan bagi seluruh umat manusia (termasuk saya) agar peka makna welas-asih yang terkandung di dalam sila Kemanusiaan Adil dan Beradab serta bela-rasa penderitaan sesama manusia.

Memang tidak semua insan manusia (apalagi saya) dapat membantu sesama manusia membebaskan diri dari berbagai ragam belenggu penderitaan.

Namun kisah Siddharta Gautama dapat didayagunakan sebagai pedoman demi menyadarkan seluruh umat manusia (terutama saya) agar apabila tidak bisa membantu seyogianya jangan mendukung atau malah ikut melakukan perilaku membenci, menghujat, memfitnah, menstigmasisasi, menggusur, menyelakakan, menganiaya, menyengsarakan apalagi membinasakan sesama manusia.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya