Berita

Perempuan Golkar/Net

Politik

Lewat Ziarah, Perempuan Golkar Dinginkan Persaingan Calon Ketum

SELASA, 03 SEPTEMBER 2019 | 10:22 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Puluhan kader perempuan Partai Golkar solid dan kompak melakukan ziarah kebangsaan ke makam para tokoh dan pendiri partai pada akhir pakan lalu. Mereka berasal dari organisasi perempuan sayap pendukung dari Tri Karya, yakni Kosgoro 1957, Ormas MKGR dan SOKSI.

Perempuan Golkar dari yang senior hingga milenial dari kader seperti KPPG, Wanita Swadiri, GP-MKGR dan GPPK Kosgoro 1957 berziarah ke makam Ketua Umum Golkar 1983-1988, Sudharmono; Ketua Umum Golkar 1988-1993, Wahono; Sekjen Partai Golkar Tuswandi era Ketum Akbar Tanjung; tokoh perempuan Golkar yang juga Menteri Negara Urusan Peranan Wanita periode 1987-1993, Anindyati Sulasikin Murpratomo; Ibu Negara Hasri Ainun Habibie; Ibu Negara Ani Yudhoyono serta beberapa pahlawan revolusi seperti Jenderal A. Yani dan lainnya.

Bukan hanya di Jakarta, perempuan Golkar dari lintas pendidikan, usia, status sosial dan latar belakang ekonomi serta agama maupun asal suku serta posisi jabatan di masing-masing organisasi yang mereka geluti itu paska ziarah di TMP Kalibata, mereka langsung bergerak ke Cisarua, Puncak, Bogor untuk juga berziarah ke makam pendiri SOKSI - organisasi pendiri Golkar- tak lain adalah Prof. Suhardiman.


Koordinator acara ziarah kebangsaan Dina Hidayana menginisiasi acara ini sebagai momentum memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun. Hakikat kemerdekaan seyogianya juga direfleksikan oleh seluruh kader Golkar kapanpun dan dimanapun mereka berada.

"Kebersamaan kader perempuan dalam acara ziarah ini, tujuannya ingin mengingatkan kepada para kader tentang arti penting perjuangan yang telah dilakukan oleh para pahlawan bangsa dan khususnya pendiri Partai Golkar. Pesan pentingnya bahwa menjaga eksistensi Golkar adalah tanggung jawab moral kita bersama," ujar Dina Hidayana yang juga pengurus DPP Partai Golkar dalam keterangan persnya, Selasa (3/9).

Kader perempuan Beringin lainnya dari unsur Kosgoro 1957, Nurika Sari menginginkan persaudaraan dan pertemanan sesama kader terus terjalin dan terpelihara dalam acara produktif dalam kemasan serius tapi santai semacam ini. Anak-Anak muda biasanya enggan belajar sejarah, apalagi ziarah makam, padahal agama pun mengajarkan bahwa ziarah merupakan bagian penting untuk manusia berkontemplasi atau introspeksi dan belajar banyak hal dari para pendahulu.

Dalam kesempatan yang sama, drg Rini Rachmadani menyambut positif acara ini. Perempuan Beringin berprofesi sebagai dokter gigi ini berharap kegiatan dengan format berbeda, lain dari yang lain dan tidak selalu sama dengan fatsun politik yang sudah biasa ini agar terus dilanjutkan karena sangat bermanfaat untuk meminimalisir kesalahpahaman, kecurigaan dan menumbuhkan solidaritas antarkader.

Sementara kader muda lainnya, seperti Mirza Prameswari terharu merasakan kebersamaan di tengah perbedaan pandangan dan preferensi terhadap kepemimpinan Golkar ke depan.

"Rupanya perempuan cukup teruji dan berpotensi menjadi garda terdepan dalam mencari solusi bersama tanpa harus menyakiti, memusuhi atau malah menyingkirkan saudara-saudaranya di Golkar, ungkap Mirza.

Mewakili peserta millenial dari kawasan timur Indonesia, Waode Rabia yang terpilih sebagai Senator dari Sultra 2019-2024, mengungkapkan, sebagai kader Perempuan muda Golkar ingin belajar dari para kakak-kakak senior. Meski saat ini Golkar diterpa ujian kembali, kakak-kakak perempuan Beringin yang bersamanya ini tampil menunjukkan kedewasaan berpolitik.

"Karena kita sama-sama perempuan justru tidak enak hati kalau berbeda preferensi terhadap caketum Golkar lalu menjadikan kita ikut bertengkar satu sama lain, termasuk di medsos. Justru momentum kebersamaan ini mencairkan perang dingin yang terjadi di Slipi," ungkap putri Ketua Golkar Sultra, Ridwan Bae ini.

Rabia mengapresiasi cara-cara moderat yang dilakukan senior Srikandi Beringin. Sebagai generasi muda Beringin, Rabia mendorong itikad baik dan ikhtiar para perempuan Golkar yang berkumpul melalui berziarah bersama ini perlu diikuti pihak-pihak lain dan layak dilanjutkan di setiap kesempatan dalam kemasan acara yang variatif.

Ditambahkan Dina Hidayana, secara khusus terkait persaingan caketum Partai Golkar yang semakin memanas menjelang pengumuman kabinet Jokowi-Maruf dan penetapan pimpinan dewan di Senayan, perempuan Golkar berharap penting kedewasaan berpolitik.

"Preferensi politik boleh saja berbeda, masing-masing berhak atas kemenangan caketum dan tujuan berpolitiknya. Namun yang terpenting silaturahmi pertemanan tak boleh putus hanya karena perbedaan pandangan atau kepentingan," tandas Dina.

Srikandi Golkar asal Jateng yang juga pengurus KPPG ini meyakini komunikasi adalah kuncinya, karena tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan jika masing-masing pihak mampu membawa persoalan politik secara rasional bukan emosional, serta mendahulukan kepentingan yang lebih besar, diluar ego pribadi dan keluarga atau golongannya.

Lebih jauh Wasekjen SOKSI ini menegaskan bahwa perempuan selalu memiliki cara-cara cantik dan elegan dalam mengatasi sebuah konflik, cenderung mengedepankan nirkekerasan dan selalu mencari solusi agar berujung happy ending.

"Seyogianya spirit dan etika pertandingan olah raga perlu menjadi preferensi elit Slipi disaat menghadapi persoalan politik seperti sekarang ini, mengedepankan sportifitas, memiliki aturan main yang disepakati bersama serta dipatuhi oleh para pihak yang bertanding agar menang terhormat," ucap putri Solo ini.

Secara keseluruhan, peserta rombongan yang melakoni perjalanan mulai dari TMP Kalibata hingga ke Cisarua, Bogor dengan acara yang bertajuk "Ziarah Kebangsaan, Perempuan Maju Golkar Kuat" ini, memiliki harapan yang sama terhadap masa depan Golkar menjadi lebih baik dan terbaik di saat Indonesia di usia 100 tahun pada 2045. Golkar yang lahir sebagai partai paling senior harus menjadi barometer pengkaderan pemimpin bangsa.

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Penggorengan Saham yang Mau Diberantas Purbaya Dipertanyakan

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:53

Prabowo Izinkan Danantara Rekrut WNA untuk Pimpin BUMN

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:38

Purbaya Klaim Bisa Pantau Rekening Semua Pejabat Kemenkeu

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:34

Di WEF Davos, Prabowo Sebut RI Tak Pernah Sekalipun Gagal Bayar Utang

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:14

Polda Metro Turunkan Puluhan Ribu Personel Siaga Banjir

Kamis, 22 Januari 2026 | 23:13

KPK Obok-Obok Rumah dan Kantor Bupati Sudewo

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:29

Kemlu RI Tegaskan Tak Ada Kewajiban Bayar Rp16,9 Triliun setelah Gabung Dewan Perdamaian

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:28

Prabowo Resmi Teken Piagam Dewan Perdamaian di Davos

Kamis, 22 Januari 2026 | 22:07

Wisuda ke-II UNOSO Dihadiri Mahfud MD hingga Rocky Gerung

Kamis, 22 Januari 2026 | 21:55

KPK: Pengabaian Pengawasan Kredit Bisa Berujung Pidana

Kamis, 22 Januari 2026 | 21:36

Selengkapnya