Berita

Polusi/Net

Dunia

Proyek Belt And Road China Ancam Kesepakatan Iklim Paris 2015

SENIN, 02 SEPTEMBER 2019 | 09:18 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pengembangan ambisius Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) China dapat membuat tujuan iklim Paris tidak dapat dijangkau.

Sebagai informasi, BRI merupakan proyek infrastruktur global raksasa yang akan membangun jaringan pelabuhan, kereta api, jalan raya, dan taman industri raksasa yang membentang di sejumlah wilayah di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa.

Diperkirakan bahwa proyek ini akan menghasilkan triliunan dolar AS yang diinvestasikan dalam infrastruktur baru di 126 negara. Hal itu pun akan membangun perekonomian negara yang terkait.


Namun di sisi lain, sejumlah analis memperingatkan soal dampak lingkungannya yang dapat membahayakan dan mengancam tujuan kesepakatan iklim Paris yang disepakati tahun 2015 lalu.

Pembangunan BRI diperkirakan akan memunculkan resiko yang signifikan, seperti menghasilkan emisi gas rumah kaca yang cukup untuk menggagalkan tujuan kesepakatan iklim Paris.

Tujuan kesepakatan itu sendiri adalah untuk membatasi suhu naik jauh di bawah dua derajat Celcius di atas tingkat pra-industri.

Pusat Keuangan dan Pembangunan Tsinghua menilai, bahwa 126 negara yang terlibat dalam BRI, kecuali China, saat ini merupakan 28 persen penyumbang emisi buatan manusia.

Bukan hanya itu, diperkirakan sejumlah negara seperti Rusia, Iran, Arab Saudi dan Indonesia perlu upaya ekstra untuk menurunkan emisi karbon 68 persen pada tahun 2050 mendatang. Tujuannya adalah untuk menjaga dunia pada jalur pemanasan dua derajat Celcius.

"Kami memiliki skenario bisnis-seperti-biasa yang mengatakan jika Anda terus seperti itu maka bahkan jika setiap negara lain di planet ini, termasuk Amerika Serikat, Eropa, China dan India, berjalan di jalur dua derajat Celcius, ini masih akan meledakkan anggaran karbon," kata analis senior di Pusat Tsinghua, Simon Zadek.

"Dinamika pertumbuhan BRI sangat besar sehingga jika Anda salah menilai karbon (emisi), tidak masalah lagi apa yang dilakukan orang lain," tambahnya, seperti simuat Channel News Asia.

China sendiri saat ini merupakan negara pencemar top dunia. Negara ini memproduksi sekitar 30 persen CO2 buatan manusia, meskipun berdasarkan per kapita emisinya kira-kira setara dengan Eropa.

Zadek mengatakan, China perlu memiliki kebijakan yang konsisten berkenaan dengan emisi, baik di dalam maupun luar negeri di negara-negara BRI.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Pasutri Pura-pura Jadi Korban Begal Gegara Terlilit Utang

Selasa, 14 Juli 2026 | 02:15

Kasus Korupsi Febrie Adriansyah Mendunia

Selasa, 14 Juli 2026 | 02:02

Seleksi JPT Pratama Digugat, GHARIS Seret Pemkot Tangsel ke PTUN

Selasa, 14 Juli 2026 | 01:47

Prabowo Bergerak Cepat Cegah Friksi TNI, Polri dan Kejaksaan

Selasa, 14 Juli 2026 | 01:10

Bongkar Dugaan Bunker Jokowi di Solo dan Karanganyar

Selasa, 14 Juli 2026 | 01:00

DPR Didesak Investigasi Proyek Jarkompenas AirNav

Selasa, 14 Juli 2026 | 00:38

Semifinal Piala Dunia, Iran vs Amerika, Wasitnya Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 00:12

Operasi Pendinginan Kapolri-Jaksa Agung Mengaburkan Akuntabilitas Perkara

Selasa, 14 Juli 2026 | 00:00

Pernyataan Juri Ardiantoro soal Pengelolaan Aset Negara di Kemayoran Tuai Apresiasi

Senin, 13 Juli 2026 | 23:54

235 Bus Sekolah Gratis Layani Pelajar Jakarta

Senin, 13 Juli 2026 | 23:40

Selengkapnya