Berita

Pawai Obor Muharam di Jakarta/Net

Publika

Selamat Tahun Baru Islam, Terima Kasih Anies

MINGGU, 01 SEPTEMBER 2019 | 09:19 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

MOHAMMAD Jumhur Hidayat memberi pesan WA padaku berisi kekaguman terhadap Anies Baswedan yang menyelenggarakan Malam 1 Muharram 1441 H, alias malam tahun baru Islam.

Saya lagi ngopi di cafe Kicir-Kicir Fakultas Hukum UI, selesai olah raga, di antara suasana wisuda pagi tadi di UI. Langsung saya WA call Jumhur bahwa Anies bukan saja berjasa menghidupkan syiar Islam di Jakarta, bahkan Anies sebelumnya menghadiri Milad FPI, organisasi Islam dominan di Jakarta, yang saat ini terkesan disingkirkan rezim Jokowi.

Jumhur bukan lagi aktivis "Islam Semangka" (luarnya hijau dalamnya merah), tapi sudah jadi "Islam Melon", luarnya hijau dalamnya hijau juga, dengan berbagai aktualisasi dirinya bekakangan ini. Lima tahun lalu Jumhur sudah menghabiskan hartanya lebih dari Rp 10 miliar untuk mendukung Jokowi Presiden, namun menyesal setelah melihat berbagai kemunduran dunia Islam ditangan Jokowi.


Pagi ini Jumhur bertanya kepada saya apakah Anies benar-benar di jalan Islam? Mengingat Anies pernah dianggap "Islam liberal"?

Dari perjalanan Anies dua tahun berkuasa, saya katakan pada Jumhur, pengamatan saya keberpihakan Anies pada ummat Islam semakin nyata. Artinya Anies sebagai sosok, telah tersambung dengan garis perjuangannya di UGM dan HMI MPO, yang memperjuangkan hak hak rakyat berdasarkan Islam.

Dan ini tentunya bersambung dengan perjuangan kakeknya, AR Baswedan, yang berjuang dalam garis Islam. Beda dengan saya dan Jumhur, yang di masa mahasiswa jelas-jelas berada pada garis sosialisme sekuler.

Tahun Baru Islam dan Bangsa Betawi


Tahun baru Islam adalah tahun baru berdasarkan kalender Islam. Berbeda dengan penanggalan Masehi, penanggalan Islam merujuk pada perputaran bulan, sedangkan Masehi merujuk pada matahari. Pergantian tahun dalam Islam dilakukan dengan doa syukur dan permohonan kebaikan-kebaikan.

Teringat, pada tahun 2008, saya pernah melakukan peringatan Malam Tahun Baru Islam di Cibinong, Bogor. Jusuf Kalla, Wapres saat itu, dan Gubernur Aher, hadir berzikir bersama dua puluhan ribu massa. Danrem Bogor kala itu, Agus Sutomo, berusaha memperkuat keamanan, karena acara itu saya adakan di tenda-tenda dan panggung terbuka. Sebenarnya kalau bukan acara saya dia tidak mengizinkan acaranya, karena alasan risiko keamanan wakil presiden.

Visi tentang tahun baru Islam ini adalah menyatukan kembali ruang waktu mayoritas penduduk Indonesia yang 87 persen Islam dalam sebuah kalendernya sendiri. Sehingga rancang bangun bangsa ini disesuaikan dengan planning yang berbasis waktu bangsa sendiri, baru dihubungkan dengan waktu global.

Sistem waktu global, harus mengakui adanya kedaulatan waktu dari bangsa-bangsa independen di dunia, sehingga, misalnya sistem transaksi keuangan kita, tidak merujuk hanya pada waktu di New York ataupun Inggris. Tapi harus bersifat saling menguntungkan.

Malam tahun baru Islam 1441 H saat ini di peringati di Jakarta dan Puncak, Bogor. Di Jakarta begitu meriah di bawah komando Anies, sedangkan di Puncak di bawah komando Bupati Bogor.

Keberanian Anies malam tahun baru ini mengadakan festival, menandakan hilangnya ketakutan rakyat Jakarta, yang di masa Ahok dihinggapi Islamphobia. Islamphobia di negara mayoritas Islam adalah ketololan terbesar dalam sejarah bangsa kita.

Bagaimana misalnya orang-orang barat melihat orang Islam takut terhadap Islam di Indonesia yang mayoritas Islam, jika ini terjadi? Betapa aibnya.

Dalam konteks rencana ibu kota pindah ke luar Jakarta, maka Jakarta tentu harus dikembalikan kepada Suku Bangsa Betawi. Berbeda dengan New York di negara para imigran, tiada pemiliknya, Batavia yang berubah menjadi Jakarta adalah milik Bangsa Betawi dan Banten dahulu kala.

Selama 74 tahun merdeka, Bangsa Indonesia "meminjam tanah Betawi ini untuk ibukota, sebuah kota" melting pot" semua suku bangsa.

Minus beberapa tahun meminjam Yogyakarta. Setelah kita akan pindah ke Kalimantan, maka Bangsa Indonesia harus mengembalikan semua tanah-tanah ini kepada orang-orang Betawi, dalam pengertian yang lebih ringan adalah menyerahkan kepemimpin Jakarta, paska pindah ibu kota, untuk dipimpin keturunan Betawi asli. (Hampir semua Provinsi di Indonesia pasti Gubernurnya dari suku bangsa asli).

Mudah-mudahan, simbolisasi Festival Muharram 1441 H ini dapat juga dimaknai spirit Islam akan dominan di Jakarta ke depan dan khususnya dijaga oleh masyarakat Betawi nantinya.

Terimakasih Anies

Tentu saja Anies bertanggung jawab memuaskan umat Islam yang mendukungnya menjadi Gubernur di Jakarta. Namun, umat Islam juga patut berterima kasih kepada Anies yang memimpin langsung syiar Islam di Jakarta. Sudah terasa dua tahun ini Jakarta merepresentasikan ibukota dengan 87 persen bangsa berpenduduk Islam. Secara sosiologi, keberadaan Islam dominan harus terjadi di Indonesia. Jika di Papua agama Kristen menuntut dominasi, maka itu  juga sebuah keharusan untuk dipenuhi.

Syiar agama diperlukan saat ini untuk menyusun kekuatan Bangsa Indonesia dalam pertarungan global, yang selama 74 tahun terbukti bangsa ini hanya memproduksi segelintir kaum elit kaya raya dan menyisakan dominasi orang-orang miskin.

Struktur kemiskinan dan ketertindasan semakin buruk ke luar jawa, sebagaimana dijelaskan dalam teori centrum-pheriperal.

Islam harus menjadi sebuah agama pembebasan dan pembrontakan atas dominasi kapitalis global dan komprador-komprador lokalnya (catatan: Komprador bukan komparador. Rachmawati Sukarnoputri berkali-kali mengingatkan saya tentang kesalahan tulis ini). Orang-orang Islam harus mencatat nama-nama elit yang suka memusuhi kebangkitan Islam. Karena pertarungan dominasi ruang publik adalah masalah panjang dan berkelanjutan.

Saya dan Jumhur, yang mungkin masih diduga orang orang sebagai "Islam Semangka", hanya bisa berterima kasih buat Anies Baswedan, yang telah mengambil jalan berisiko ini. Tentu saja buat kebaikan bangsa bukan sebaliknya.

Terimakasih Bung Anies Baswedan.

Penulis adalah Penggagas Jakarta Development Initiative.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Jamaika Nilai Otonomi Sahara Maroko Solusi Paling Layak Ditempuh

Jumat, 25 September 2026 | 10:16

Dibayangi Ketidakpastian Global, Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Jumat, 25 September 2026 | 10:15

Wacana Pileg dan Pilpres Dipisah, Pengamat Ingatkan Konsekuensi Konstitusional

Jumat, 25 September 2026 | 10:06

KPK Telusuri Aset TPPU Milik Walikota Madiun Maidi, Periksa Sejumlah Saksi

Jumat, 25 September 2026 | 09:58

Syahganda Nazar Gunduli Kepala dan Umrah Jika Gibran Didiskualifikasi MK

Jumat, 25 September 2026 | 09:50

Impor Produk Halal Capai 31 Miliar Dolar AS, Indonesia Kejar Pasar Global

Jumat, 25 September 2026 | 09:48

IHSG Kembali Menguat, Tembus Level 6.300

Jumat, 25 September 2026 | 09:34

Gibran Masih Bocil, Lebih Cocok Jadi Camat Ketimbang Wakil Presiden

Jumat, 25 September 2026 | 09:30

Prabowo Bangga Indonesia Raih Emas Pertama di Asian Games 2026

Jumat, 25 September 2026 | 09:28

Bertemu Trump, Xi Jinping Ingatkan Bahaya Jebakan Thucydides

Jumat, 25 September 2026 | 09:00

Selengkapnya