Berita

Syamsuddin Radja/Net

Politik

Syamsuddin Radjab: Papua Adalah Kita Dan Kita Adalah Papua

SABTU, 31 AGUSTUS 2019 | 13:15 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Papua adalah bagian dari Indonesia dan akan tetap jadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian disampaikan pakar hukum tata negara dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Dr. Syamsuddin Radjab kepada redaksi, Sabtu (31/8).

Pada awal berdirinya NKRI, Papua sudah menjadi wilayah yang tidak terpisahkan dengan Indonesia dalam ketetapan sidang BPUPKI pada 14 Juli 1945.


Dikuatkan dengan New York Agreement pada 15 Agustus 1962 berupaya penyerahan Belanda kepada pemerintah Indonesia sebagai bagian dari wilayah NKRI melalui fasilitasi PBB dan yang terakhir hasil referendum penentuan pendapat rakyat (Pepera) Papua pada 1969 dimana masyarakat Papua ingin melepaskan diri dari penjajah Belanda dan bergabung dengan Indonesia.

Dijelaskan Syamsuddin, secara historis, budaya dan ekonomi, masyarakat Makassar mempunyai peran penting untuk membebaskan Papua dari cengkraman penjajah Belanda melalui operasi Mandala yang berpusat di Makassar, dan akulturasi budaya Makassar dan Papua serta kemajuan ekonomi yang dipelopori para pedagang dari Makassar.

Monumen pembebasan Irian Barat saat ini masih berdiri di Jl Jenderal Sudirman.

"Kala itu, Makassar atau Sulsel menjadi punggung perjuangan untuk membebaskan Irian Barat," katanya Direktur Jenggala Center ini. Jenggala Center adalah lembaga think thank bentukan dari Jusuf Kalla.

Selain itu, suku Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar adalah pembangun dasar ekonomi dari Papua dan Papua Barat.

"Itu sangat jelas kita bisa lihat pembangunan ekonomi di Manokwari, Jayapura, Wamena, Puncak Jaya dan daerah lainnya. Pokok katanya, dari sepanjang pesisir hingga pegunungan sumbangsi masyarakat Sulsel sangat berperan penting," kata  Syamsuddin.

Bahkan, lanjut Syamsuddin, sepanjang garis perbatasan dengan Papua Nugini, sektor pendidikan dan ekonomi sangat ditopang dengan para perantau yang berasal dari Sulsel, baik sebagai guru, pedagang dan pekerja lainnya disektor non-formal yang memajukan Papua.

"Papua adalah kita, dan kita adalah Papua," tegasnyanya.

Namun demikian, pemerintah pusat juga harus memerhatikan Papua soal kebudayaan bangsa Papua yang harus dihormati dan dilindungi, kesejahteraan, kesehatan dan pendidikannya.

Pelanggan HAM terutama juga harus diselesaikan yang merupakan dampak kebijakan pemerintah dimasa lalu, kerusakan lingkungan dampak Freeport dan pembalakan hutan secara liar.

"Penegakan hukum harus adil dan konsisten," demikian Syamsuddin.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

UPDATE

PBB Harus Bertindak Usai TNI Gugur dalam Serangan Israel

Senin, 30 Maret 2026 | 16:08

Apel Perdana Pasca Lebaran, Sekjen DPD Minta Kinerja Pegawai Dipercepat

Senin, 30 Maret 2026 | 16:06

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR: Ini Menyakitkan

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Penerbangan Langsung Tiongkok-Korut Kembali Dibuka Setelah Vakum Enam Tahun

Senin, 30 Maret 2026 | 16:04

Cak Imin Kritik Cara Pandang Aparat dalam Kasus Amsal Sitepu

Senin, 30 Maret 2026 | 16:01

Pemprov DKI Segera Susun Aturan Turunan PP Tunas

Senin, 30 Maret 2026 | 15:53

Lebaran Selesai, Kemenkop Gaspol Operasionalisasi Kopdes Merah Putih

Senin, 30 Maret 2026 | 15:45

Komisi II Kulik Proker hingga Renstra KPU-Bawaslu-DKPP

Senin, 30 Maret 2026 | 15:40

Target Pengesahan RUU Hukum Acara Perdata Masih Abu-Abu

Senin, 30 Maret 2026 | 15:31

Wamenhaj RI Bahas Antisipasi Biaya dan Logistik Haji 2026 dengan Arab Saudi

Senin, 30 Maret 2026 | 15:29

Selengkapnya