Berita

Kerusuhan di Manokwari/Net

Politik

Pemerintah Bisa Selesaikan Permasalahan Papua, Tidak Perlu Campur Tangan Asing

RABU, 28 AGUSTUS 2019 | 10:40 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Kalangan pemuda menyayangkan usulan Gubernur Papua Lukas Enambe yang menyatakan perlunya melibatkan pihak internasional dalam menyelesaikan permasalahan Papua.

Seorang mahasiswa asal Papua yang tinggal di Jogjakarta, Edward Krey mengatakan, tidak etis jika pihak asing dilibatkan menyelesaikan permasalahan Papua karena Papua menjadi bagian dari Indonesia sebagai negara berdaulat.

"Penyelesaian masalah Papua tak perlu campur tangan asing," ujar Edward dalam keterangan tertulis, Rabu (28/8).


Dia mendengar kabar bahwa Gubernur Papua Lukas Enembe meminta agar internasional diundang untuk ikut memulihkan situasi Papua pasca kerusuhan di sejumlah titik yang terjadi di tanah Papua sehingga Indonesia bagian timur tersebut kembali kondusif.

"Akan tetapi, pertanyannya adalah benarkah Gubernur Lukas Enembe menginginkan agar orang-orang asing diundang untuk menyelesaikan masalah ini?" tanya dia.

Disebutkan, salah satu prinsip utama dalam hubungan internasional adalah dilarang untuk mecampuri atau mengintervensi urusan negara lainnya. Jadi, jika Indonesia mengundang negara lain untuk ikut menyelesaikan masalah di Papua, Edward mempertanyakan apakah itu berarti akan atau telah terjadi intervensi terhadap urusan dalam negeri NKRI. Bagaimana kalau negara itu memaksakan kehendaknya.

"Kalau di sana terjadi pembunuhan massal atau besar-besaran yang kini lazim disebut genosida, Indonesia bisa mengundang pemerintah asing atau organisasi dunia, seperti PBB, untuk membuktikan benar atau tidaknya telah terjadi genosida, inikan tidak," tegasnya.

Edward kemudian menceritakan sejumlah peristiwa yang terjadi di Papua. Dia mencontohkan soal kasus pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan pencurian yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggungjawab, seperti halnya yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Masalahnya adalah sudah adakah orang-orang di Papua yang minta Internasional untuk menyelidiki kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata alias KKB tersebut? Jangan hanya pemerintah Indonesia yang 'disuruh' mendatangkan orang-orang asing. Ulah KKB-KKB harus dibasmi karena telah menyengsarakan mayoritas orang Papua dan Papa Barat," katanya.

Edward menambahkan Presiden Joko Widodo selama 5 tahun pertama pemerintahannya telah membuat berbagai proyek dan program untuk memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua. Bahkan, kini sudah ada proyek yang disebut "Harga Satu BBM". Dengan demikian, tidak ada lagi harga BBM di tanah Papua satu liternya sampai puluhan ribu rupiah.

"Pada saat ini sedang dibangun proyek tol Papua untuk mempermudah transportasi, mengurangi ekonomi berbiaya tinggi sehingga dapat mempermudah hubungan antardaerah," tambah dia.

Berbagai proyek di Papua tersebut memang belum berarti akan selesainya semua kendala. Akan tetapi, rakyat Papua harus sadar dan yakin bahwa siapa pun presiden NKRI dan apapun proyeknya, semuanya hanya satu tujuannya, yakni untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tanah Papua.

Pada sisi lain, Edward mengajak masyarakat tanah Papua juga harus ikut memberantas korupsi yang masih sering terjadi di sana. Selain itu, juga jangan terus terjadi ada pegawai pemerintah atau bahkan pejabat yang meninggalkan daerahnya untuk berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan yang entah untuk apa dilakukannya.

Masyarakat tanah Papua perlu menyadari bahwa tugas utama mereka adalah membangun Papua dan Papua Barat. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan niat baik pemerintah Indonesia, harus disadari bahwa tujuannya untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat dan rakyat Papua dan Papua Barat.

Bahkan, harus disadari bahwa Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat sama sekali bukan "anak tiri" bagi NKRI. Ke-34 povinsi di Indonesia semuanya adalah anak emas.

"Percayalah bahwa NKRI bisa menyelesaikan sendiri masalah atau persoalannya, tidak perlu campur tangan asing," demikian Edward.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

UPDATE

Menag Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Peserta Zikir dan Doa Kebangsaan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:09

Jelang Zikir dan Doa Kebangsaan, Puluhan Ribu Umat Mulai Padati Kawasan Monas

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 19:48

Poros Tengah NU: Jalan Pemersatu, Menjaga Marwah, dan Kedaulatan Jam’iyah

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:50

Tim 9 Geledah Rumah Febrie Adriansyah di Kebayoran Baru

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:47

Tak Sekadar Bendungan, Menteri Dody Punya Rencana Matang Tangkal Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 17:23

Azis Husaini Resmi Menjadi Nahkoda Baru RMOL.ID, Media Ekonomi dan Politik

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:43

Brigade Pangan KAMMI Bersambut Sambas Dukung PM-AAS

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:29

Warga Kupang: Terima Kasih Pak Jokowi!

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:49

Korupsi Masih jadi Tantangan Terbesar Demokrasi Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:07

Garuda Indonesia Pertahankan Kendali GMF di Tengah Kuasi Reorganisasi

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56

Selengkapnya