Berita

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS (bersalaman) menghadiri ujian terbuka S3 Manajemen di FEB Universitas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di Univesitas Indonesia/Ist

Politik

Programnya Kini Diperhatikan Jokowi, Arissetyanto Nugroho Sungguh Pantas Jadi Rektor UI

RABU, 21 AGUSTUS 2019 | 23:25 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Semua pihak harus mendukung program SDM Unggul yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Institusi perguruan tinggi harus menggunakannya sebagai arah untuk memersiapkan anak didik yang  tidak hanya mampu tetapi juga menang dalam persaingan global.

Lulusan perguruan tinggi tanpa terkecuali harus siap kerja dan memiliki kualitas di atas rata-rata dan keahlian agar tidak tergerus oleh tenaga kerja asing yang tidak hanya ditentukan seberapa banyak gelar yang diperoleh.

Kualitas dan keahlian SDM Indonesia akan menentukan seberapa kuat SDM Indonesia  akan bersaing dengan tenaga kerja asing yang mau banting harga.


Demikian ditegaskan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Hariyadi Sukamdani menyikapi pemilihan Rektor Universitas Indonesia, Rabu (21/08/2019).

Menurut Hariyadi Sukamdani, Universitas Indonesia merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, yang menjadi barometer bagi perguruan tinggi lainnya.

Secara teori, lulusan dari universitas terbaik  memiliki daya tawar yang tinggi untuk dunia kerja. Namun dalam konteks dunia kerja, keahlian dan pengalaman akan menentukan daya tawar seseorang dalam mendapatkan kerja dan kepantasan gaji yang harus diterimanya.

“Belum lama ini di medsos viral tentang lulusan Universitas Indonesia yang menolak gaji 8 juta. Alumnus UI ini menolak gaji yang ditawarkan dengan alasan lulusan Universitas Indonesia. Ini hanya sekedar contoh saja. Berapapun yang diminta oleh calon tenaga kerja adalah sah-sah saja. Tetapi siapa yang mau membayar kalau dia minta tinggi? Punyakah dia pengalaman kerja, keahlian kalau dia fresh graduate?” urai Hariyadi.

Untuk dapat bekerja, menurut Ketua Umum Apindo ini, ukurannya bukanlah sekedar ijasah. Ada sederet kriteria yang oleh masing-masing perusahaan sudah dipatok sebagai standardisasi pengupahan di perusahaan tersebut.

Kriteria itu termasuk di dalamnya adalah keahlian dan pengalaman, mental siap kerja, kemampuan bekerja dalam tim dan  kontribusi calon karyawan kepada perusahaan.

Dengan mencanangkan program SDM Unggul sebenarnya Presiden Jokowi ingin menjelaskan bahwa SDM Indonesia harus memiliki keahlian atau ketrampilan.

“Sehingga dalam konteks ini diperlukan pendidikan vokasi. Kalau dulu mungkin teorinya 60 persen dan praktik 40 persen, dalam konteks SDM Unggul, perguruan tinggi mengubahnya praktik 60 persen dan teori 40 persen. Itu berlaku untuk semua mata kuliah. Atau secara sederhananya, pendidikan yang dijalani S-1 tetapi dengan keahlian D-4,” ujar Ketua Umum APINDO ini lebih jauh.

Hariyadi mencontohkan, orang tidak perlu S1 informatika jika ingin menjadi design graphic officer. Sejauh calon karyawan bisa menunjukkan keahliannya dalam bidang tersebut serta persyaratan lain terpenuhi, semua tidak menjadi masalah.

Keahlian dalam konteks seperti ini sudah berlaku bagi generasi milenial sekarang, yang sudah bekerja sebelum mereka mendapatkan ijasah. Bahkan bisa jadi, mereka yang ahli desain itu ternyata jurusan yang diambil adalah Fakultas Hukum.

“Dunia kerja dan pasar kerja sudah berubah. Dan, sebaiknya perubahan pasar ini diantisipasi oleh setiap perguruan tinggi termasuk Universitas Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Rektor yang akan dipilih sudah siap untuk menerima mindset baru atas perubahan yang terjadi?” tanya Hariyadi Sukamdani.

Dari 21 calon Rektor UI, menurut pandangan Hariyadi,  Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, MM, IPU, CMA, MSS, Lulusan Lemhannas RI PPSA XXI dan mantan Rektor Universitas Mercu Buana (UMB), memiliki kans yang kuat untuk menjadi rektor UI.  

Alasannya adalah berdasarkan pengalaman sebagai Rektor UMB, Arissetyanto Nugroho telah melakukan program yang sekarang menjadi perhatian Presiden Joko Widodo.

UMB telah mewajibkan mahasiswa untuk memiliki setidaknya satu sertifikasi kompetensi. Dan ini harus dimiliki mahasiswa sebelum lulus S-1. Untuk keperluan itu, UMB kemudian membangun Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas tahun 2016.

Kemudian karena kepentingan mahasiswanya, UMB mengadakan link and match dengan banyak perusahaan termasuk magang di BUMN.

“Untuk mendukung program pemerintah di bidang pariwisata, UMB kemudian membuat Prodi D-3 di bidang MICE (Meeting, Incentive, Conference & Event) dan ini masih sangat langka. Belum lagi, UMB embangun Studio Multimedia Broadcast standar industri sebagai aplikasi kurikulum berbasis kompentensi dengan perbandingan 60 persen praktik dan 40 persen teori,” cerita Hariyadi.

Hariyadi menandaskan bahwa perguruan tinggi yang memiliki rektor dengan mindset terbuka adalah perguruan tinggi yang memiliki kesempatan untuk menang dalam persaingan global bagi anak didiknya.  

Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki visi ke depan jauh agar mampu menyiapkan generasi baru dalam memenangkan Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, kuat dan berdaulat.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Kalah di PN Jakpus, Penggugat PPP Subadri-Toni Dihukum Bayar Biaya Perkara

Senin, 03 Agustus 2026 | 22:10

Prabowo Terima Medali Kehormatan dari Angkatan Bersenjata Tailan

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:34

Buru Aset TPPU Febrie Adriansyah, Tim 9 Geledah Kantor Don Ritto hingga Rumah Nurman Herin

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:30

Prabowo dan PM Tailan Bidik Nilai Perdagangan Rp359 Triliun dalam Lima Tahun

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:20

Ini Enam Perkara yang Dihentikan KPK

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:10

Petingginya Diperiksa Kejati DKI, Peran AFPI Disorot

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:52

Indonesia-Tailan Sepakat Kembangkan TRM untuk Perangi Kejahatan Transnasional

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:49

Bawaslu Fokus Tingkatkan SDM Hadapi Tantangan Digital

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:38

Prabowo Kenang Masa Muda Bersama Raja Tailan Saat Sambut PM Anutin

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:30

Prabowo Dukung PPHN Jadi Pedoman Lintas Pemerintahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya