Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Gerindra Minta Jokowi Waspadai Manuver Barisan Sakit Hati Plus SBY

SABTU, 10 AGUSTUS 2019 | 18:43 WIB | LAPORAN: AZAIRUS ADLU

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono khawatir, makin mesranya PDIP dan Gerindra dapat menjadi bumerang untuk Presiden terpilih Joko Widodo.

Menurut Arief, terbentuknya poros Kertangera dan Teuku Umar pasca Pilpres berpotensi membentuk poros baru yang akan mengambil posisi sebagai lawan dari poros Teuku Umar dan Kertanegara.

Poros ini hadir karena tidak senang Prabowo Subianto dan koalisi bakal merapat ke pemerintahan.


"Jika poros baru terbentuk, terdiri dari tujuh parpol diluar PDIP dan Gerindra, maka mereka bisa melakukan posisi tawar yang lebih besar dan kuat kepada Joko Widodo nantinya. Poros Teuku Umar-Kertanegara bisa berantakan," kata Arief kepada wartawan, Sabtu (10/8).

Menurutnya, ketujuh parpol tersebut bisa saja bersatu menjadi oposisi besar untuk menekan Jokowi.

Hal ini bisa terjadi karena tujuh parpol tersebut punya chemistry dan histori hubungan yang kuat juga dalam perjalanan politik Indonesia.

"Misal SBY dengan Surya Paloh juga dekat, SBY dengan Muhaimin juga dekat, SBY dengan Golkar juga dekat begitu juga dengan yang lainnya," kata Arief.

Belum lagi, lanjut Arief, SBY dengan di luar kekuatan parpol pun juga punya kedekatan dengan tokoh-tokoh politik lain.

"Misal SBY-LBP-Hendropriyono yang bisa disebut Three musketer general pengatur kekuasaan di Republik ini," katanya.

"Jangan anggap enteng SBY loh. Kalau sudah bangun dari kesedihannya dan melakukan kondolidasi politik maka peta politik bisa berubah semua. Jadi ini harus jadi pertimbangan juga. Tidak boleh terlena," tambahnya.

Pasalnya, masih menurut Arief, Jokowi sangat membutuhkan dukungan politik yang kuat dan penuh untuk menuntaskan program-programnya agar dapat sukses di periode ke dua.

"Yang bertelinga hendak mendengar dan yang memiliki mata lihat lebih jelas. Gunakan insting dan nalar," pungkasnya.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

Klaim Bahlil soal Energi Aman Patut Dipertanyakan

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:10

Kabut Perang Selimuti Wall Street, Nasdaq Jatuh Paling Dalam

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:09

Trump Perpanjang Jeda Serangan ke Iran

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:02

Tanpa Perencanaan, Pendatang Baru Berpotensi Jadi Beban

Jumat, 27 Maret 2026 | 08:01

OJK Prediksi Sejumlah Bank Besar akan Naik Kelas ke KBMI IV pada 2026

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:45

Harga Emas Anjlok Tertekan Dolar AS dan Proyeksi Suku Bunga Tinggi

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:34

Bursa Eropa Tumbang, Indeks STOXX 600 Dekati Fase Koreksi

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:21

Pertama dalam Sejarah, Tanda Tangan Presiden Donald Trump akan Dicetak di Dolar AS

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:07

Ekonomi Indonesia: Makro Sehat, Mikro Sekarat

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:35

Bekas Kepala KSOP Belawan Jadi Tersangka Skandal PNBP

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:24

Selengkapnya