TUHAN YMK telah melimpahkan kepada bangsa dan negara kita sumber energi yang sangat beragam dan fantastis jumlahnya. Akan tetapi sungguh ironis karena dari sejak Indonesia merdeka hingga kini, bangsa Indonesia masih terus dirundung masalah dengan tenaga listrik.
Saya hanya bisa menggambarkan masalah listrik di Indonesia dalam satu kalimat berikut, Jika sampai terjadi krisis listrik dan tarifnya mahal di Indonesia, itu karena mismanajemen sumber energi yang berlimpah di negara kita. Tentunya sangat mungkin dan bisa diperbaiki secara total, jika saja ada 'political will' dan kemauan yang kuat serta sungguh-sungguh dari bangsa Indonesia, khususnya dari seluruh elite politik dan para pemimpin Kita.
Sekarang ada pula segelintir elite kita yang mau menambah pekerjaan rumah bangsa kita dengan wacana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia.
Ada logika dan fakta yang sederhana yang bisa kita cermati, terkait upaya membangun PLTN di Indonesia. Jepang merupakan negara yang sangat maju teknologinya, serta dikenal sebagai bangsa paling disiplin di dunia. Tetapi, Jepang akhirnya menyerah kalah dan menutup satu persatu PLTN mereka, karena tidak berhasil menciptakan teknologi nuklir yang aman terhadap gempa bumi. Mereka menyerah setelah berkali-kali reaktor nuklir PLTN di Jepang menimbulkan bencana kebocoran nuklir akibat tingginya frekuensi bencana alam dan gempa bumi di sana.
Bagaimana bisa Kita bangsa Indonesia mau mengalahkan Jepang dalam hal teknologi nuklir yang aman terhadap gempa bumi untuk PLTN, sementara realitas dan faktanya, Jepang dan Indonesia hampir sama masalahnya terkait gempa bumi? Belum lagi masalah masih rendahnya disiplin bangsa kita jika dibandingkan dengan disiplin bangsa Jepang.
Sungguh tidak habis pikir kita dengan upaya segelintir kecil elite yang tidak berpikir panjang, terkait pemanfaatan nuklir untuk membangun PLTN di Indonesia. Masih ditambah lagi dampak sampingnya, devisa negara kita akan tersedot karena harus membayar paten teknologi nuklir untuk PLTN serta seluruh perancangan dan pembangunan, dan biaya bahan baku utama maupun bahan baku tambahan untuk operasionalisasi PLTN tersebut. Tentunya akan membuat semakin berdarah-darah current account defisit (CAD) kita.
Yang lebih memprihatinkan lagi, Indonesia dikaruniai oleh Tuhan YMK dengan sedemikian banyak sumber energi yang dihambur-hamburkan dan diekspor ke seluruh dunia. Tapi ironisnya untuk menghasilkan tenaga listrik, hingga saat ini kita masih tetap menggunakan Power Plant tenaga diesel yang bahan bakarnya dari impor BBM, hingga otomatis membuat current acount defisit (CAD) terus membengkak.
Coba Kita renungkan, bagaimana bisa Singapura menjadi satu-satunya negara di dunia yang mampu menyelenggarakan Balap F1 malam hari, dengan kwalitas dan frekuensi listrik terbaik di dunia (makanya bisa digunakan untuk ajang balap mobil kecepatan tertinggi di dunia pada malam hari). Padahal salah satu sumber listrik mereka, dibangkitkan dengan tenaga gas bumi yang dialirkan dari Grisik (Sumatera Selatan) dan dari Natuna, melalui pipa gas bawah laut yang mengalir 24 jam sepanjang hari sepanjang tahun, membentang dari wilayah Indonesia hingga ke Singapura.
Faktualnya, Singapura adalah negara yang tidak punya sumber daya energi, tapi listriknya sungguh berlimpah dengan kwalitas yang terbaik di dunia. Ironisnya di Indonesia, sangat berlimpah energi matahari, energi air, energi angin, energi panas bumi, batubara, dan berbagai energi lainnya. Sungguh kita sudah menjadi bangsa yang 'kufur nikmat' akibat mismanajemen sumber energi karunia Tuhan YMK kepada bangsa dan negara kita.
Inilah masalah utama sistim kelistrikan di negara kita.
Penulis adalah Pendiri Negarawan Center.
Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi
Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13
Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33
KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI
Minggu, 27 September 2026 | 11:44
Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi
Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36
Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh
Sabtu, 26 September 2026 | 02:36
Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06
Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN
Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43
Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK
Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23
IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS
Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12
Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania
Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11
Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung
Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09
Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes
Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04
Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi
Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58
Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta
Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50
Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi
Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44
KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik
Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40
Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung
Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39
Selengkapnya