Berita

Zainal Bintang/Net

Publika

Broker Politik

JUMAT, 02 AGUSTUS 2019 | 11:46 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

MELALUI tulisannya pada media cetak kenamaan Indonesia, Yudi Latif mengatakan, "Dalam konteks krisis multidimensi Indonesia hari ini , nabi-nabi  pembebas dan pengungkit kemajuan bangsa agaknya sulit muncul dari lingkaran elite politik. Secara umum, elite politik bukanlah teladan yang baik, yang bisa menuntun para patriot muda menuju jalan cahaya. Sebaliknya mereka tega menggelapi masa depan bangsa dengan mengadu dan mempermainkan dukungan rakyat, memanipulasi, serta merancukan tatanan kenegaraan demi ambisi pribadi. Mereka perpaduan dari para orang tua yang lupa kapan harus berhenti yang kepeduliannya sebatas mengamankan karier politik keluarga; para pedagang yang memboncengi untuk meluaskan gurita kekayaannya; para demagog yang memanipulasi sentiment identitas; dan para politisi muda yang mengambil jalan pintas lewat rekayasa pencitraan picisan".

Apa yang ditulis Yudi adalah fragmen rekaman suara hati mayoritas bangsa ini, yang sedang galau. Jejak trauma konflik politik pemilu serentak 2019 sangat membekas. Masa kampanye berdurasi panjang yang menggores luka pada masyarakat belum sepenuhnya sembuh. Kampanye panjang itu berbuah intrik, sarat fitnah, ujaran kebencian dan penajaman politik identitas yang diperparah dengan kekerasan verbal maupun kekerasan fisik yang mengoyak luka dalam di tubuh bangsa ini.

Kekerasan verbal itu efeknya memang tidak terlihat tapi cukup mematikan. Intimidasi verbal juga dapat membuat percaya diri seseorang menurun bahkan sampai mengarah pada depresi. Bangsa ini nyaris depresi oleh proses demokratisasi yang terasa aneh tapi nyata. Faktanya bangsa ini terbelah dua! Antara kubu kita dengan kubu mereka: Antara cebong dan kampret!


Konflik dan ketegangan terbuka head to head antar tim sukses kontestan mencuat. Mendorong terjadinya proses demokratisai politik yang anti kultur. Nilai budaya leluhur yang berakar kepada kesantunan menghilang dimangsa oleh nafsu kuasa.

Mungkin ada gunanya membaca buku Democracy for Sale yang ditulis oleh Ward Berenschot, peneliti (KITLV) bersama Edward Aspinall, Profesor pada Departemen Perubahan Politik dan Sosial, Coral Bell School of Asia Pacific Affairs, Australian National University. Kedua peneliti itu mengungkap setidaknya ada tiga praktik yang khas dalam perpolitikan di Indonesia yang mewarnai cara berpolitik di negeri ini.

Politik transaksional, adalah hal yang pertama, yang salah satu kategorinya adalah jual beli suara. Praktik tersebut dilakukan pada pemilu dan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Indonesia, tidak dilaksanakan oleh jaringan partai. Melainkan dilakukan oleh orang-orang yang merupakan bagian dari jaringan calon. Menurut peneliti itu, praktik semacam itu tidak terjadi di India dan Argentina. Apa yang disebut jual beli suara hanya dilakukan melalui jaringan partai politik.

Temuan yang kedua, tentang adanya tim sukses. Hal itu juga tidak ditemukan pada politik India dan Argentina. Karena yang menangani hal itu adalah partai politik.

Faktor ketiga adanya apa yang disebut broker politik. Menurut hasil penelitian mereka, kandidat di Indonesia membentuk jaringan broker politik. Dari tingkat nasional hingga rukun tetangga. Melalui mata rantai jaringan broker politik inilah, para kandidat memanfaatkannya guna melakukan politik uang, sebagai suatu cara terselubung menjalin hubungan untuk mendulang sebanyak-banyaknya dukungan dari masyarakat.

Membentuk tim sukses dan broker politik, serta membeli suara pemilih membutuhkan uang yang tak sedikit. "Jadi, ongkos politik mahal sekali". Adapun penyebab lain dari mahalnya ongkos politik yakni diterapkannya sistem daftar terbuka sebagai sistem pemilihan legislatif dan ambang batas pencalonan kepala daerah. Sistem daftar terbuka dinilai mengakibatkan persaingan ganda, yakni antar partai dan antar calon. Sementara ambang batas pencalonan kepala daerah menyebabkan timbulnya mahar politik.

Para peneliti itu menyimpulkan, di Indonesia dibutuhkan suatu reformasi elektoral untuk menekan ongkos politik. Mahalnya ongkos politik menyebabkan korupsi politik dan memperkuat oligarki dalam demokrasi. Disebutkan dalam konsep citizenship atau kewarganegaraan, kekuasaan semestinya dapat dipegang oleh semua orang dari berbagai strata sosial dan ekonomi. Bukan hanya warga negara yang punya rekening gendut atau bagian dari keluarga yang berkuasa.

"Karena mahalnya ongkos politik, hanya orang kaya yang bisa berpartisipasi sebagai calon di pemilu. Oligarkis sangat kuat. Untuk merubah hal ini, perlu reformasi sistem elektoral untuk mengurangi ongkos politik". Itu kesimpulan dari keduanya.

Hiruk pikuk dan kegaduhan para politisi paska pemilu nampaknya masih saja berlanjut. Hanya iramanya bergeser menjadi pertengkaran antara kita dengan kita ketika memperebutkan jatah kursi menteri (kekuasaan). Para politisi itu, tidak mampu menghilangkan perilaku broker, pembagian kekuasaan dimaknai seakan membagi hasil pampasan perang.

Yang menyedihkan, tidak terlihat adanya kerendahan hati mau menyoal nasib kelam tujuh ratus orang lebih nyawa petugas KPPS yang meninggal dalam tugas. Bukan kematian rakyat betul itu yang dijadikan "headline" para wakil rakyat itu!

"Lembaga perwakilan dan jabatan politik bukan merupakan instrumen demokrasi, melainkan aparatus oligarki," kata Yudi Latif dengan lirih.

Diperlukan kemauan politik bersama seluruh stake holder bangsa ini, untuk merubah secara radikal UU Pemilu dan aturan mainnya yang mengiringinya. Tujuannya menghindari siklus lima tahunan yang penuh intrik, firnah dan berita bohong berulang terus menjadi hasil "panen raya" tetap yang destruktif yang merusak tatanan bangsa ini yang luhur ini!

Penulis adalah wartawan senior dan pemerhati masalah sosial budaya.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya