Berita

Gedung Kementerian BUMN/Net

Politik

Langganan Sebagai Sapi Perah, BUMN Perlu Jadi Badan Independen Layaknya OJK

JUMAT, 02 AGUSTUS 2019 | 06:30 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Kinerja Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belakangan menjadi sorotan usai beberapa catatan negatif ditorehkan jajaran di bawah Menteri Rini Soemarno.

Terbaru yakni adanya operasi tangkap tangan yang menimpa Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II, Andra Y. Agussalam dan staf PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), Taswin Nur.

Merespons hal itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ariyo DP Irhamna mengaku tak kaget.
 

 
"Memang BUMN selama ini, siapapun rezimnya, selalu dijadikan 'sapi perah', tidak hanya oleh eksekutif, tapi juga legislatif," kata Ariyo kepada Kantor Berita RMOL, Kamis (1/8).

Menurutnya, permasalahan di tubuh BUMN akan terus berulang jika pemeritah, dalam hal ini Presiden Joko Widodo tak segera berbenah.

"Sebab menurut saya, siapapun Menteri BUMN, pasti tidak akan bisa mengubah value dan culture di Kementrian tersebut," lanjutnya.

Dikatakan Ariyo, perlu langkah berani pemerintah dari sekadar mengganti tampuk kepemimpinan Kementerian BUMN yang saat ini dipegang Rini Soemarno.

Salah satu yang ia usulkan adalah dengan mengubah posisi BUMN dalam kelembagaan perekonomian nasional.

"Misal mungkin ke depan lembaga yang mengurusi BUMN dibuat independen seperti BI atau OJK. Jadi fungsingnya regulator dan monitor sehingga meminimalisir praktik sapi perah untuk BUMN," paparnya.

Soal pemilihan kepala kementerian, nantinya bisa diusulkan presiden ke DPR dengan catatan kebijakan Presiden tak bisa diintervensi.

"Sedangkan untuk pemilihan direksi dan komisaris harus dijauhkan dari presiden dan DPR, sehingga perlu dibuat standar yang jelas dengan merit system, mulai dari talent scouting, coaching hingga recruitment," imbuh Ariyo.

Namun demikian, ia menyadari langkah besar ini tak akan mudah direalisasikan mengingat banyak kepentingan di dalamnya, serta ada aturan yang harus diubah.

"Ide ini sangat challenging sebab perlu mengubah UU BUMN, artinya perlu kesepakatan antara eksekutif dan legislatif. Semuanya tergantung political will dari ekskutif dan legislatif," tandasnya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya