Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tidak datang dengan tangan kosong saat berkunjung ke kediaman putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri, hari Sabtu kemarin (27/7).
Pertemuan kedua tokoh itu sedianya adalah pertemuan biasa, mengingat Rachma juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Bidang Ideologi di partai yang didirikan Prabowo itu. Selain itu, Rachma juga merupakan salah satu motor penggerak tim kampanye Prabowo dan Sandiaga Uno dalam pilpres lalu.
Namun, melihat perkembangan yang tengah terjadi di lapangan akhir-akhir ini, pertemuan itu diberi banyak arti oleh banyak pihak.
Ada yang menganggap itu sebagai pertemuan biasa, mengingat keduanya adalah fungsionaris partai seperti yang sudah disebutkan tadi.
Tetapi ada juga yang memandang pertemuan itu digunakan Prabowo untuk menjelaskan manuver yang dia lakukan belakangan ini, saat bertemu Presiden Terpilih Joko Widodo maupun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Kedua pertemuan itu tidak dibicarakan sebelumnya di internal partai.
Dengan penjelasan itu diharapkan Rachma dapat mengerti, dan dapat mengkomunikasinya ke akar rumput, ke relawan dan emak-emak yang memberikan dukungan tak sedikit pada Prabowo-Sandi.
Bisa juga pertemuan itu digunakan untuk menyampaikan skema-skema politik yang selama ini belum terungkap ke permukaan.
Rachma adalah salah satu elemen yang dapat dikatakan paling serius dalam isu Konstitusi. Sejak lama ia memperjuangkan agar naskah asli UUD 1945 yang asli kembali digunakan.
Rachma memandang amandemen UUD 1945 yang dilakukan sebanyak empat kali adalah pangkal dari berbagai masalah yang kini dihadapi Indonesia: liberalisasi politik dan ekonomi yang menciptakan kelahiran kelompok oligarki semakin menjadi-jadi dari era sebelumnya, dan ketimpangan ekonomi yang luar biasa.
Karena konsistensi memperjuangkan naskah asli UUD 1945 itu pula di bulan Desember 2016 lalu Rachma ditangkap atas tuduhan makar. Rasa-rasanya sampai hari ini tuduhan itu belum dicabut pemerintah.
Dalam pertemuan kemarin, banyak hal yang dibicarakan kedua tokoh itu. Termasuk tentu saja upaya memperjuangkan sistem Trisakti seperti yang diajarkan Bung Karno, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan.
Disimpulkan, Trisakti hanya bisa dijalankan ketika sistem yang digunakan tidak bersifat liberal dan kapitalisktik.
Hal lain yang baru terungkap, dalam pertemuan itu Prabowo memberikan sebuah buku kepada Rachma. Buku mengenai menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner, yang ditulis seorang wartawati AS Vikcy Ward.
Judulnya: “
Kushner Inc. Greed, Ambition, Corruption.â€
Kushner yang kelahiran Januari 1981 adalah putra dari pengembang properti papan atas Charles Khusner. Ia menikah dengan anak Trump, Ivanka, pada tahun 2009.
Kushner berperan penting selama masa kampanye pilpres AS yang lalu yang berhasil dimenangkan Trump. Khusner kini menjadi salah seorang penasihat resmi Trump.
Sepintas di dalam buku itu Vicky Ward menggambarkan kebangkitan pasangan suami istri Jaed Khusner dan Ivanka Trump-Kushner yang tidak hanya mendominasi urusan keluarga Gedung Putih tetapi juga memegang kunci kebijakan politik dan ekonomi Trump. Disebutkan, tidak ada yang dapat menghentikan keduanya. Tidak juga Presiden Trump.
“Saya akan sediakan waktu untuk membaca buku ini,†kata Rachma tentang buku dari Prabowo itu.
Ketika bertemu dengan Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu, Prabowo membawakan sebuah lukisan Bung Karno naik kuda putih. Lukisan serupa juga pernah diberikan Prabowo kepada Rachma dan kini diletakkan di gedung perpustakaan Universitas Bung Karno (UBK).