Berita

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump/Net

Global

Kritik Trump Soal Pakta Keamanan AS-Jepang Memperumit Perjuangan Shinzo Abe

SENIN, 01 JULI 2019 | 23:47 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya membuat pusing Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dengan seruannya untuk perubahan pada perjanjian keamanan Jepang yang telah berlangsung beberapa dekade.

Untuk diketahui bahwa Trump pada konferensi pers pada akhir pekan lalu setelah KTT G20 mengatakan bahwa perjanjian dengan Jepang tahun 1960 tidak adil dan harus diubah.

Perjanjian itu merupakan kunci utama kebijakan pertahanan Jepang. Namun Trump mengatakan bahwa dia tidak berpikir untuk mundur dari pakta tersebut.


Di bawah perjanjian keamanan Jepang-Amerika Serikat yang telah berpuluh-puluh tahun, Amerika Serikat berjanji untuk membela Jepang, yang melepaskan hak untuk berperang setelah Perang Dunia Kedua.

Sebagai imbalannya Jepang menyediakan pangkalan militer yang digunakan Washington untuk memproyeksikan kekuatan jauh ke Asia.

Abe sendiri telah lama berupaya untuk merevisi konstitusi untuk memberikan legitimasi lebih lanjut kepada militer Jepang, yang dikenal sebagai Pasukan Bela Diri (SDF).

Sebuah survei kantor berita Kyodo pada bulan April menunjukkan 47 persen warga Jepang melihat tidak perlu revisi tersebut, sementara 45 persen mengatakan perubahan itu perlu.

Perjanjian itu sendiri diubah untuk mengikat Amerika Serikat untuk membela Jepang. Tetapi banyak warga Jepang khawatir perjanjian itu akan menyedot negara mereka ke dalam konflik yang lebih luas.

"Seluruh penentangan terhadap revisi perjanjian keamanan pada tahun 1960 berpusat pada kenyataan bahwa Jepang tidak ingin terseret ke dalam perang yang tidak dalam kepentingan Jepang," kata akademisi kebijakan internasional di Stanford University, Daniel Sneider, seperti dimuat Reuters (1/7).

Dia menilai, seruan Trump membuat apa yang berusaha dilakukan oleh Abe menjadi lebih sulit, karena dia memperjelas apa implikasinya.

Abe diketahui menghabiskan banyak modal politik pada tahun 2015 untuk memberlakukan undang-undang yang memperluas batas-batas konstitusi untuk memungkinkan pasukan Jepang berperang di luar negeri untuk pertama kalinya sejak 1945.

Undang-undang kontroversial itu memungkinkan Jepang untuk membela Amerika Serikat atau negara sahabat lainnya ketika diserang, jika Jepang menghadapi ancaman eksistensial.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya