Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Teori Kepemimpinan

JUMAT, 28 JUNI 2019 | 07:06 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SATU di antara sekian banyak produk industri seminar yang laris diperjual-belikan adalah teori kepemimpinan. Sejak dahulu kala, kepemimpinan memang merupakan bahan berbagai penelitian dan pemikiran.

Banyak pihak berusaha mendefinisikan apa sebenarnya makna apa yang disebut sebagai kepemimpinan.

Maka para pemikir melahirkan beraneka-ragam teori kepemimpinan berdasar keyakinan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari secara akademis.

Aneka Ragam

Pada umumnya, aneka ragam teori kepemimpinan dapat dikategorikan berdasar dari aspek mana kepemimpinan seorang pemimpin dapat didefinisikan.

Aneka Ragam

Pada umumnya, aneka ragam teori kepemimpinan dapat dikategorikan berdasar dari aspek mana kepemimpinan seorang pemimpin dapat didefinisikan.

Yang paling popular adalah apa yang disebut sebagai Great Man Theory, Trait Theory, Behavourical Theories, Contingency Theories, Transactional Theories  serta  Transformational Theories.

Masing-masing teori tentu saja memiliki para para peyakin yang meyakini bahwa teori yang diyakini adalah tepat dan benar untuk didayagunakan setiap insan manusia untuk menjadi pemimpin.

Kenyataan bahwa setiap insan manusia unik, saling beda satu dengan lain-lainnya maka tidak semua manusia dapat diseragamkan mau dan/atau mampu menjadi pemimpin kerap kali diabaikan.

Juga kenyataan bahwa seorang baru bisa menjadi pemimpin apabila ada orang(-orang) lain bersedia berperan sebagai yang dipimpin di samping gaya kepemimpinan setiap pemimpin tidak sama dengan pemimpin akibat lingkungan yang saling beda juga secara cetirus paribus  tidak dihiraukan.

Yang penting teori kepemimpinan bisa diperjual-belikan kepada mereka yang ingin belajar menjadi pemimpin baik melalui proses pendidikan jangka panjang mau pun seminar jangka pendek. Di mana ada kebutuhan di situ bisa diadakan penawaran.

Asas Kepemimpinan

Sebagai warga Indonesia, saya lebih berupaya mencari pemikiran bangsa saya sendiri mengenai apa yang disebut sebagai kepemimpinan.

Maka sebagai pembicara pada berbagai forum seminar regional, nasional mau pun internasional membahas kepemimpinan, saya pribadi berupaya menghindari pemberhalaan pemikiran kepemimpinan para tokoh pemikir bangsa asing demi mengedepankan pemikiran kepemimpinan para tokoh pemikir bangsa saya sendiri.

Syukur Alhamdullilah, saya berhasil menemukan fakta bahwa ternyata TNI dan Polri memiliki perbendaharaan pemikiran kepemimpinan yang tertuang ke dalam 11 Asas Kepemimpinan yaitu:

1. TAQWA (Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepadaNya).

2. ING NGARSA SUNG TULADA. (Memberi suri teladan kepada yang dipimpin).

3. ING MADYA MANGUN KARSA (Ikut Bergiat Serta Menggugah Semangat diitengah-tengah yang dipimpin.

4. TUT WURI HANDAYANI  (Memberi dorongan dari belakang kepada yang dipimpin).

5. WASPADA PURBA WISESA (Selalu waspada mengawasi serta sanggup memberi koreksi kepada yang dipimpin mau pun diri sendiri).

6. AMBEG PARAMA ARTA (Bijak memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan).

7. PRASAJA (Tingkah Laku yang sederhana dan tidak berlebihan).

8. SATYA (Sikap loyal dari atas ke bawah, dari bawah ke atas mau pun ke samping).

9. GEMI NASITITI (Kesadaran dan kemampuan membatas penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu terhadap yang benar-benar diperlukan).

10. BELAKA (Kemampuan, kerelaan dan keberanian mempertanggung-jawabkan tindakan-tindakan diri sendiri).

11. LEGOWO (Kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan jabatan dan kedudukan kepada generasi berikutnya).

Indonesia

Mohon dimaafkan oleh mereka yang fanatic xenofiliak alias gemar serba asing, bahwa sebagai warga negara Indonesia saya pribadi memang  lebih merasa yakin bahwa 11 Asas Kepemimpinan TNI dan Polri merupakan pemikiran kepemimpinan mahakarya bangsa Indonesia yang pada hakikatnya secara paripurna senantiasa siap untuk dipersembahkan sebagai bekal perjuangan para pemimpin bangsa Indonesia yang ingin benar-benar mengabdikan diri bukan bagi diri sendiri namun bagi negara, bangsa dan rakyat Indonesia. MERDEKA!

Penulis adalah warga Indonesia yang bangga atas mahakarsa dan mahakarya kebudayaan bangsa Indonesia.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya