Berita

Jaya Suprana/Dokumen

Jaya Suprana

Ramai Menanggapi "Membongkar Hoax"

SABTU, 22 JUNI 2019 | 11:38 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NASKAH "Membongkar Hoax" yang dimuat Kantor Berita RMOL pada 13 Juni 2016 ramai memperoleh berbagai tanggapan.

Serangan fajar pertama datang langsung dari mantan Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesia dan Wakil Gubernur Timor Timur alumni AKABRI (sekarang Akmil) tahun 1976 penerima penghargaan Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama sebagai taruna lulusan terbaik, Letnan Jenderal Purnawirawan Johannes Suryo Prabowo dengan tembakan bedil laras pendek tetapi telak ke hulu hati judul film "Shock And Awe" yang membongkar hoax bikinan AS tentang nuklir Irak "Saya shock dan awe-awe!"

Intelijen


Lain halnya dengan dr. Ingrid Tania yang sedang menempuh program S-3 di Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Driyarkara dengan penelitian "Kajian Epistemologis Pengobatan Tradisional Indonesia" menyampaikan ulasan filosofis teknis intelijen kelas langitan cukup rumit sebagai berikut, "Kadang hoax yang diproduksi penguasa seolah-olah 'menyerang' penguasa yang berperan sebagai korban (playing victim), sehingga lawan politiknya malah menjadi yang tertuduh, lalu si penguasa meng-counter hoax yang diproduksinya sendiri (strategi kontra hoax)".

Bohongologi

Sementara kajian epistemologis humorologis disampaikan sang filsuf humor serta pendiri Kokkang (Kelompok Kartunis Kaliwungu) plus IHIK (Institut Humor Indonesia Kini) merangkap mahaguru Kejawen saya, Darminto M. Sudarmo alias Sri Begawan Odios merangsang kontemplasi lebih mendalam tentang bohongologi dengan profokasi filosofis beraroma kearifan Madura, sebagai berikut:

"Tema ini menarik. Ia bisa panjang seusia peradaban manusia sendiri yang suka jujur dan sering-sering justru lebih suka bohong demi apa saja, yang tidak merugikan dirinya. Bohong bukan mustahil berusia setua peradaban manusia. Bohong 50 persen jujur 50 persen namanya kontroversial; bohong 30 persen jujur jujur 70 persen genit; bohong 10 persen jujur 90 persen romantis. Karena manusia dinamis, lebih dinamis dari politiknya sendiri, bukan mustahil melakukan kebohongan selalu random. Dak tentu, takiya! Kata dulur Madura".

Penulis adalah penggagas Humorologi, Kelirumologi, Alasanologi, Malumologi dan Bohongologi.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya