Berita

Ahmad Dahlan/Net

Hukum

SENGKETA PILPRES

Paslon 01 Dan 02 Harus Sama-sama Yakin MK Akan Amanah

SABTU, 22 JUNI 2019 | 10:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Apapun nanti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019 adalah keputusan terbaik.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Cirebon, Ahmad Dahlan, Sabtu (22/6), seperti dilansir dari RMOL Jabar.

Ahmad Dahlan mengutip sebuah ayat di dalam kitab suci Alquran, likulli qoryatin nabiyyun, yaitu bahwa setiap desa itu pasti ada Nabi. Dia memahami, makna Nabi di dalam ayat itu dengan utusan lain berupa orang-orang shaleh dan baik.


"Dalam paham saya, jika makna ini sesuai dengan aslinya maka kemudian kita tentunya akan memaknai sesuatu yang tidak produktif. Dia akan bertentangan dengan Firman yang lain bahwa misalnya dinyatakan, Nabi Muhammad itu adalah Nabi akhir. Lalu katanya setiap tempat ada Nabi, yang bagaimana yang dikehendaki oleh Firman Allah ini. Menurut hemat saya, agar tidak kontradiktif dengan firman yang dipaparkan tadi yang kedua, kita harus mentakwil. Kata qoryah ini bisa diartikan misalnya selain desa, tetapi negeri, tempat, kelompok dan lain-lain. Kata Nabi adalah orang sholeh, diartikan orang yang membawa risalah. Substansinya adalah orang yang membangun perubahan, pembaharuan," paparnya.

Lebih lanjut, Ahmad Dahlan menuturkan, dari firman Allah itu patut diyakini bahwa setiap kelompok, setiap tempat, pasti ada orang sholeh, ada orang yang normatif, orang yang mempertahankan hidupnya dengan melaksanakan hidup-hidup berbasis norma, baik norma agama, perundang-undangan maupun norma lainnya.

Berangkat dari pemahaman di atas, Ahmad Dahlan menjelaskan, masing-masing kelompok yang bersengketa di dalam persidangan MK, harus optimis dan berkeyakinan bahwa hakim MK akan menjalankan tugas dengan amanah, objektif dan memutuskan perkara dengan seadil-adilnya.

"Hanya saja pada tataran mencermati firman Allah ini, saya kira dasar takwil yang saya kedepankan, kita berhusnudzhon, bahwa diantara anggota MK, misalnya, pasti ada orang sholeh," kata dia.

Bahkan, dia yakin dalam persidangan MK, Majelis Hakim dalam menjalankan tugasnya masih objektif.

"Kita objektif, kita merasakan, harus mampu merasakan, pastilah diantara mereka, bahkan mereka semua adalah orang yang baik," tegas Ahmad Dahlan.

Dia berharap, apa pun keputusan MK nanti, dapat diterima oleh pihak-pihak yang berselisih dan menghormati keputusan itu sebagai ketentuan Tuhan.

"Jika nanti bertemu dengan sesuatu yang tidak diharapkan oleh salah satu, katakanlah, kelompok, ya saya kira yang paling penting adalah bahwa kita mensyukuri dan melihat sebagai salah satu ketentuan Allah SWT," pintanya.

"Dan yang paling penting, jika dihubungkan dengan Syawal, maka kita tidak boleh jatuh, kita tetap harus meningkatkan hidup kita. Kita positif thinking dan kita mencoba hidup tak lain dari membangun diri kita yang terbaik. Dan kita menjadi masyarakat yang ihsan," sambungnya.

Saat dikonfirmasi mengenai dugaan subjektivitas kinerja MK, Ahmad Dahlan mengatakan, secara potensi masyarakat serta hasil penelaahan masing-masing kelompok, sangat ada ruang untuk mengarah ke situ. Kendati demikian, di dalam hukum Islam, seorang hakim diutus memang untuk mengangkat dan menghilangkan perselisihan.

"Tapi kemudian yang paling penting itu menurut hemat saya tidak menyoal apa yang memang menjadi final, dan memang itu akan bertemu dengan suasana hidup yang tidak syukur," sebutnya.

"Kalau kita tarik ke hukum Islam, ada hukmul hakim yarfaul khilaf. Putusan hakim itu haruslah meniadakan perselisihan," tambahnya.

Disinggung soal arah politik ormas Muhammadiyah dan imbauan warga Muhammadiyah Cirebon, Ahmad Dahlan menegaskan, secara institusi, Muhammadiyah tidak terlibat ke dalam politik praktis manapun.

"Warga persyarikatan sudah stabil dari awal. Saya kira di wilayah Kabupaten Cirebon ini, paham betul bagaimana dinamika perpolitikan di negeri kita ini dan tahu langkah-langkah yang terbaik. Pada dasarnya kita ini mengikuti konstitusi dan kita tahu yang sifatnya konstitusional itu kayak apa, tapi kemudian kita kemas jiwa masing-masing dari kita. Kendatipun Muhammadiyah tidak berpolitik dan individunya itu kalau toh misalnya berkiprah (di politik) adalah wilayah-wilayah pilihan pribadinya dan dituntut untuk tidak menarik persyarikatan di suasana kepentingan politiknya," demikian Ahmad Dahlan.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Koops TNI Papua Gelar Baksos di Panti Asuhan Santa Susana Mimika

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:09

Mahfud MD Usul Fraksi DPR Dibikin Dua Blok

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:00

Wakapolri Ingin Setiap Kebijakan Polri Bisa Dipertanggungjawabkan secara Ilmiah

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:33

Jimly Asshiddiqie Usul Masa Jabatan KPU seperti MK

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:20

Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:09

Inilah 11 Pimpinan Baru Baznas

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:25

Setara Institute Catat 221 Pelanggaran KBB Sepanjang 2025

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:15

Operasional TPST Bantargebang Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:01

Pramono-Rano Berhasil Tuntaskan PR Pemimpin Terdahulu

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:29

Selengkapnya