Berita

Jacques-Marie-Émile Lacan/Net

Jaya Suprana

Bagaimana Menjadi Manusia

RABU, 12 JUNI 2019 | 08:16 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEBENARNYA Jacques-Marie-Émile Lacan merasa diri sebagai seorang penganut aliran psikoanalisa Sigmund Freud. Sementara penerus Freud di Austria adalah Alfred Adler dan di Swiss adalah Gustav Jung, maka Lacan adalah penerus Freud di Prancis.

Namun kemudian di luar kehendak dirinya sendiri, Lacan lebih populer sebagai seorang pemikir alias filosof aliran filosofikal antropologi. Pada hakikatnya inti makna perjuangan pemikiran Lacan adalah berupaya menjawab pertanyaan “ Bagaimana Menjadi Manusia ?”

Penyesuaian



Lacan jatuh-bangun dan babak-belur dalam berusaha menjawab pertanyaan “Bagaimana Menjadi Manusia” dengan melibatkan berbagai reformulasi teori psikoanalisa Sigmund Freud dilengkapi pemikiran Hegel, game theory  dan pengamatan terhadap perilaku balita.

Lacan berupaya membuat konstruksi sistem lebih mendasar ketimbang Freund terhadap konstitusi intrasubyektif terhadap apa yang disebut sebagai desire alias syahwat manusia. Filosofikal antropologi Lacan seirama-senada dan searah-tujuan dengan pemikiran Levinas, Honnet dan Habermas.

Bagi Lacan, syahwat manusia adalah “syahwat komunal” sebagai hasil proses upaya penyesuaian diri setiap balita dengan kehendak ibunda masing-masing sebagai fungsi yang kemudian dilengkapi kehendak sang ayahnda masing-masing.

Dalam tahap pengembangan selanjutnya, sang balita berupaya menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat lingkungan. Pada dasarnya manusia bagi Lacan adalah mahluk “parle-etre” alias satwa yang mampu dan mau berbicara.

Semua itu terkarakterisasi oleh innate and fatal attraction terhadap rambu-rambu yang berasal dari pemikiran enigmatikal Sigmund Freud tentang apa yang disebut sebagai “death drive” alias desakan naluri menuju kematian.

Pada dasarnya pemikiran Lacan agak mirip meski tentu jauh lebih “ilmiah” ketimbang kedangkalan kesimpulan upaya pembelajaran pemikiran saya bahwa apa yang disebut sebagai kehidupan terdiri dari tiga tahap. Tahap awal = kelahiran serta tahap akhir = kematian, sementara tahap yang berada di tengah awal dan akhir = kehidupan.

Tahap awal dan tahap akhir sama sekali di luar kendali manusia. Hanya tahap tengah yang berada di dalam kendali manusia. Maka makna kehidupan terletak pada bagaimana manusia mengisi tahapan yang berada di antara awal dan akhir.

Ngelakoni

Bagi perasaan subyektif saya yang tentu saja tidak obyektif, terkesan bahwa ikhtiar Lacan  menjawab pertanyaan “Bagaimana Menjadi Manusia”  tidak terlalu beda dengan kelaziman pemikiran Barat yang  terperangkap pada telaah terhadap das Sein  ketimbang  das Sollen.

Saya pribadi sebagai pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan merasa lebih mantul dengan pemikiran Timur yang lebih berupaya mencari idealisme mengenai apa yang seharusnya. Yang dibutuhkan bukan sekadar apa yang dikatakan  namun apa yang  dilakukan manusia demi menjawab pertanyaan “Bagaimana Menjadi Manusia”. Dalam falsafah Jawa disebut ngelakoni.

Sebagai pembelajar kemanusiaan, saya lebih sreg terhadap kenyataan yang berpijak di permukaan bumi ketimbang teori “ilmiah” yang melayang-layang di awang-awang. Saya lebih berupaya mempelajari kenyataan sikap dan perilaku kemanusiaan.

Saya lebih berupaya menghayati apa yang bukan diperdebatkan dengan hiasan aneka ragam terminologi berwibawa “ilmiah” namun lebih pada apa yang nyata diwujudkan menjadi kenyataan seperti yang telah nyata dilakukan oleh para pejuang kemanusiaan : Ibu Theresa, Master Cheng Yen, Albert Schweitzer, Sandyawan Sumardi, Sri Palupi, Wardah Hafids dan para rekan seperjuangan para beliau.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

 

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya