Berita

Ilustrasi/Net

Muhammad Najib

Membangun Peradaban Bukan Sekadar Aksesori Atau Sensasi

SELASA, 11 JUNI 2019 | 17:28 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

FENOMENA "hijrah" anak-anak muda dan para selebriti akhir-akhir ini menjadi semacam tren gaya hidup atau life style. Tentu semua ini harus disyukuri dan disambut sebagai sebuah indikasi meningkatnya religiusitas, atau adanya pergeseran nilai ke arah  yang positif di kalangan generasi muda di masyarakat kita.

Sebelumnya sudah muncul fenomena serupa bahkan di wilayah yang lebih substansial, seperti penggunaan jilbab di kalangan remaja putri terkait dengan busana, makanan halal terkait konsumsi, bank syariah dalam ekonomi dan bisnis, rumah sakit Islam untuk kesehatan, dan sekolah Islam serta perguruan tinggi Islam atau universitas Islam untuk bidang pendidikan.

Berbicara masalah ekonomi, kesehatan, makanan, dan pendidikan memerlukan keseriusan, ketekunan, kesabaran, serta indurensi yang bahkan memerlukan dua atau tiga generasi untuk bisa melihat hasilnya. Karena itu tidak berlebihan jika hal ini ditempatkan sebagai medan-medan jihad dalam dakwah.


Sejak Reformasi tahun 1998, tampaknya hanya mode busana Islami di kalangan remaja putri, dan produk makanan halal yang berkembang. Sementara dunia ekonomi, kesehatan, dan pendidikan seperti jalan di tempat. Para aktivis dan tokoh agama, tersita perhatian dan energinya untuk urusan politik, yang nampak lebih seksi dan menawarkan popularitas dalam waktu singkat. Akibatnya proyek-proyek ekonomi, kesehatan, dan pendidikan banyak yang terbengkalai.

Dalam bidang kesehatan dan pendidikan, Indonesia kalah Islami dibanding negara mini tetangga kita yang bernama Singapura. Padahal Singapura bukan negara Muslim, jika dilihat dari mayoritas penduduknya. Sementara dalam bidang ekonomi mungkin agak sulit dibandingkan, mengingat jumlah penduduk dan wilayahnya yang sangat berbeda. Akan tetapi sejak China menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia, maka negara luas dengan penduduk besar tidak bisa lagi menjadi alasan, ketika gagal membangun ekonomi negara sekaligus memakmurkan penduduknya.

Dengan fakta-fakta ini, tidak berlebihan jika dikatakan Indonesia dan mayoritas negara-negara Muslim tertinggal dalam masalah peradaban dibanding banyak negara non-Muslim, mengingat kehidupan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan merupakan bagian dari pilar-pilar peradaban, selain masalah hukum dan politik.

Sebenarnya dunia seni dan budaya juga merupakan bagian dari pilar peradaban. Sayang sebagian besar dunia Islam menelantarkannya, baik dengan alasan syar'i atau dianggap barang mewah yang belum menjadi prioritas. Padahal dunia seni baik dalam bentuk tari, musik, lukis dan sebagainya dapat membentuk dan menghaluskan akal-budi. Sementara pembangunan budaya, tidak bisa dilepaskan dari etos kerja dan cara pandang terhadap hidup dan kehidupan. Budaya disiplin, taat hukum, penghormatan terhadap hak orang lain tidak bisa dilepaskan dari aspek budaya. Karena itu seni dan budaya, tidak boleh diabaikan dalam membangun peradaban bangsa.

Mungkin karena kurangnya wawasan, atau dangkalnya faham keagamaan kebanyakan tokoh-tokoh Islam, telah mengakibatkan masalah-masalah besar dan substansial terkait dengan pilar-pilar peradaban belum mendapat perhatian yang memadai. Karena itu, belum nampak adanya upaya yang serius untuk mengarahkan gejala "hijrah" yang ada, sehingga berhenti sampai pada tataran simbolis dan asesoris, seperti janggut dan serban pada laki-laki, atau tutup mulut dan hidung di kalangan perempuan yang di Afghanistan disebut burka, atau niqab di dunia Arab.

Pakaian, makanan, atau gaya hidup, mungkin saja memberikan suasana batin yang berbeda dan dirasakan lebih Islami bagi komunitas tertentu, akan tetapi harus disadari itu hanya menyentuh wilayah  permukaan atau kulit, belum masuk wilayah isi atau substansi, sebagaimana semangat Al Qur'an dan Sunnah.

Jika ummat Islam ingin maju dalam arti sebenarnya, maka kita harus masuk ke wilayah substansial yang masuk kategori pilar-pilar peradaban. Wilayah ini memerlukan effort yang besar disertai perjuangan, dan bukan mustahil memerlukan pengorbanan. Jihad di wilayah ini juga  memerlukan instrumen penguasaan sains dan teknologi, riset yang kuat, dan perguruan tinggi yang bermutu, serta sumber daya manusia yang berkualitas.

Semoga para pemuka dan pemimpin ummat segera menyadarinya, kemudian istikamah, dan kembali ke jalan yang benar. Wallahu A'lam.

Penulis adalah Pengamat Politik Islam dan Demokrasi

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya