Berita

Penanganan pasien dengan wabah ebola/Net

Dunia

Penyebaran Drastis, Wabah Ebola Terbaru Bayangi Kongo

RABU, 15 MEI 2019 | 23:48 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Epidemi Ebola di wilayah yang dilanda konflik Republik Demokratik Kongo tidak terkendali dan bisa menjadi kondisi serius seperti yang pernah menghancurkan tiga negara di Afrika barat antara 2013 dan 2016.

Peringatan itu dikeluarkan para pakar dan kepala bantuan bukan tanpa alasan. Kasus-kasus baru selama sebulan terakhir telah meningkat pada tingkat tercepat sejak wabah dimulai tahun lalu di wilayah konflik di Kongo.

"Saya sangat prihatin," kata kepala Wellcome Trust, Jeremy Farrar, yang menyerukan gencatan senjata untuk memungkinkan tim kesehatan menjangkau orang sakit dan melindungi orang lain di komunitas.


"Apakah itu mencapai skala absolut dari Afrika barat atau tidak ada dari kita yang tahu, tetapi ini sangat besar dibandingkan dengan wabah lain dalam sejarah Ebola dan itu masih terus berkembang," jelasnya.

"Luar biasa itu tidak menyebar lebih geografis tetapi jumlahnya menakutkan dan fakta bahwa mereka naik mengerikan," sambungnya seperti dimuat The Guardian (Rabu (15/5).

Dia menambahkan, gencatan senjata enam hingga sembilan bulan, yang diperantarai oleh PBB, Palang Merah atau badan serupa, sangat penting untuk menghentikan penyebaran wabah.

"Ada kekerasan di Afrika barat, di Freetown dan Monrovia, tetapi ini dalam skala yang berbeda dan berasal dari berbagai sumber," tambahnya.

Lebih dari 1.600 orang telah terinfeksi virus Ebola di wilayah DRC Kivu Utara dan lebih dari 1.000 telah meninggal sejauh ini. Mayoritas di antara mereka adalah wanita dan anak-anak. Setidaknya 10 bulan sejak wabah dimulai, jumlahnya meningkat terus dan tingkat kematian lebih tinggi dari pada wabah sebelumnya, sekitar 67 persen.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya