PERUT buncit pada jaman now yang memberhalakan estetika ragawi serba langsing merupakan suatu keaiban secara berlapis emosional serta sosiologis plus kultural.
Malumologi
Bahkan dalam ilmu kesehatan modern, perut buncit yang bagi kaum perempuan dibanggakan sebagai pertanda kehamilan ternyata bagi kaum lelaki atau perempuan yang tidak hamil dianggap sebagai pertanda ada yang tidak beres pada kesehatan mereka.
Pendek kata berdasar hasil penelitian Pusat Studi Malumologi, dapat diyakini bahwa perut buncit merupakan citra peradaban serba negatif bahkan destruktif maka sangat mempermalukan para manusia yang berperut buncit.
Hiburan Mujur tak bisa dikejar, naas tak bisa ditolak: celaka dua belas triliun kebetulan perut saya buncit.
Saya sudah terbiasa akibat terlalu sering dihujat lewat medsos (sebab sang penghujat takut ketahuan identitasnya) mulai dari si gentong tua bangka buncit sampai kehujatan terlalu biadab untuk dimuat di RMOL yang beradab ini.
Dengan berbagai cara saya berupaya menutupi kebuncitan perut yang sangat mempermalukan saya itu mulai dari (mencoba) diet sampai sengaja mengenakan busana sarung dan selendang demi mengaburkan fakta kebuncitan perut dengan kamuflase adibusana. Namun tetap saja orang tahu bahwa perut saya buncit.
Gagal total dalam penyamaran diri akhirnya saya lebih berhasil dalam penghiburan diri.
Sebagai hiburan atas rasa tertekan akibat dicemooh berperut buncit saya sengaja meletakkan arca kecil Semar dan Bi Lek Hud alias Budha Tertawa yang juga kerap disebut Ji Lai Hud di ruang kerja saya.
Dewa Dua dewa dari mitologi Jawa dan mitologi China itu sama-sama berperut buncit. Tentu bukan tanpa alasan bahwa Semar sebagai dewa yang turun ke bumi demi membimbing Pandawa dan Bi Lek Hud sebagai personifikasi Budha riang gembira dipuja sebagai dewa kasih sayang, kebetulan dua-duanya berperut buncit.
Di dalam lakon Wayang Purwa, Semar adalah dewa yang paling sakti mandraguna sementara dalam Buddisme Zen, Bi Lek Hud menduduki posisi tingkat pencerahan tertinggi! Berarti perut buncit bukan citra yang buruk-buruk amat
! Maka setiap kali rasa malu terhadap perut buncit muncul demi mengusik ketenteraman lubuk sanubari, langsung saya memandang patung Semar dan Bi Lek Hud bersemayam di ruang kerja pribadi saya.
Semar dan Bi Lek Hud mandraguna menghibur duka lara malumologis saya akibat berperut buncit
! Trims Sema
r! Trims Bi Lek Hud
!
Penulis adalah pendiri Pusat Studi Malumologi