Berita

Foto: Ist

Nusantara

Kogartap Jakarta Berupaya Membangun Komunikasi Yang Berhikmat

SENIN, 29 APRIL 2019 | 20:31 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Komando Garnisun Tetap I/Jakarta (Kogartap I/JKT) membangun komunikasi yang berhikmat dengan mengadakan kursus bidang komunikasi bagi jajaran pimpinannya.

Pelatihan bidang komunikasi yang mengusung tema “Membangun Komunikasi Yang  Berhikmat” itu dimulai Senin (29/4) dan diisi serangkaian kegiatan yang telah dijadwalkan. Tampil sebagai pemateri Konsultan Komunikasi Publik, AM Putut Prabantoro, yang juga alumnus Lemhannas RI PPSA XXI.

Kasgartap I/JKT, Brigjen TNI Herianto Syahputra mengatakan, pelatihan ini dimaksudkan untuk mendukung kinerja seluruh jajaran Gartap Jakarta dalam setiap fungsinya guna mewujudkan sinergi yang solid antara Gartap Jakarta dan masyarakat.


“Tujuan pelatihan ini adalah membangun dan sekaligus mengubah mindset dalam berkomunikasi untuk jajaran dan pimpinan staf Gartap Jakarta. Diharapkan nantinya jajaran Gartap Jakarta mampu berkomunikasi dengan menyesuaikan situasi dan dinamika ipoleksosbudhankan,” terang Herianto, Senin (29/4).

Ia menambahkan, pelatihan bertahap terhadap jajaran Gartap I/Jakarta ini diharapkan mampu membangun komunikasi yang berhikmat, mengembangkan dan meningkatkan keahlian komunikasi berhikmat untuk mendukung serta menunjang tugas di tempat kerja termasuk di wilayah subgar masing-masing.

“Tentu dalam konteks ini, keberhasilan komunikasi berhikmat ini mempermudah terselesaikannya tugas-tugas dan fungsi masing-masing terutama terkait interrelasi dengan masyarakat Jakarta dan sekitarnya,” ujar dia.

Sila Keempat Pancasila

Sementara itu, pemateri AM Putut Prabantoro menjelaskan, komunikasi yang berhikmat tidak dapat dilepaskan dari sila keempat Pancasila. Sila ini mengajarkan bangsa Indonesia cara berkomunikasi satu sama lain. Ancaman perpecahan ataupun persatuan Indonesia akibat dalam Pilkada, Pileg ataupun Pilpres tidak terlepas dari kelupaan kita menggunakan Sila Keempat Pancasila sebagai pola komunikasi.
 
“Kita sebenarnya lupa bahwa Sila Keempat ini merupakan pola komunikasi dalam masyarakat. Kata Hikmat dalam kata hikmat kebijaksanaan ini sebenarnya merupakan pola komunikasi termasuk politik untuk menguatkan dan menjaga Sila Ketiga, yakni Persatuan Indonesia,” ujar dia.

Putut mengatakan, kekacauan komunikasi politik nyata-nyata terjadi ketika diselenggarakannya pilkada DKI Jakarta tahun 2017 di mana politik identitas,  demam hoax, ujaran kebencian, persekusi dan bullying terjadi.

“Persatuan Indonesia terancam ikatannya karena komunikasi politik kita mengijinkan  cara-cara komunikasi yang tidak sesuai dengan Pancasila,” ujar Putut.

Menurut Putut Prabantoro, pengertian hikmat atau hikmah merupakan pengertian atau pemahaman secara integral atau satu kesatuan, tentang orang, barang, kejadian atau situasi yang menghasilkan kemampuan untuk menganalisa, mengimplementasikan persepsi, penilaian, atau perbuatan sesuai dengan makna yang sebenarnya.

“Dalam  komunikasi berhikmat ini, dibutuhkan penguasaan terhadap reaksi emosional komunikator terhadap suatu berita, informasi yang diterima untuk kemudian dipertimbangkan, dianalisa berdasarkan pengetahuan universal yang dipahaminya untuk kemudian dapat menentukan tindakan selanjutnya,” ujar dia.

Secara singkat, dalam berkomunikasi secara berhikmat diperlukan pemahaman menyeluruh atas semua informasi yang masuk berdasarkan data-data valid yang ada.

“Artinya, cross check kebenaran suatu informasi merupakan suatu kebutuhan,” tegas Putut Prabantoro, yang juga menjabat sebagai Ketua Presidium ISKA (Ikatan Sarjana Katolik Indonesia) Bidang Komunikasi Politik.

Oleh karena itu, berkomunikasi yang berhikmat dapat diartikan sebagai komunikasi yang meletakkan pada nilai-nilai kebijaksanaan, kecerdasan, akal budi, akal sehat, kecerdikan dan juga “tepa seliro”.

Dalam komunikasi berhikmat, setiap komunikator dituntut memiliki pemahaman yang cukup soal sebab-akibat, aksi-reaksi, analisa dan dampak, dan selalu mengajukan pertanyaan utama dengan kata “Mengapa” sesuatu terjadi demikian dan tidak cukup hanya mengetahui sebuah informasi semata.

Kata “local wisdom” sebenarnya mengacu pada nilai-nilai luhur daerah setempat. Artinya, dalam berinteraksi dengan masyarakat seseorang harus berinteraksi dan sekaligus menghormati nilai-nilai luhur yang ada di daerah tersebut.

Putut yang juga Ketua Gerakan Ekayastran Unmada (Semangat Satu Bangsa) itu mengingatkan bahwa komunikasi yang berhikmat selalu mengutamakan kesantunan, unggah-ungguh, budi pekerti karena terkait dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika, yang sebenarnya untuk menegaskan adanya nilai-nilai local wisdom (kearifan lokal) dalam NKRI.  

“Agama-agama juga mengajarkan umatnya untuk menggunakan kata hikmat sebagai penjelasan tentang nilai luhur yang harus dihormati dalam interrelasi antar manusia. Oleh karena Pancasila itu way of life atau falsafah hidup bagi bangsa Indonesia termasuk di dalamnya berkomunikasi, sudah seharusnya kita mengembangkan komunikasi yang berhikmat agar Persatuan Indonesia tetap utuh,” tandas Putut.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya