Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Fabel

MINGGU, 21 APRIL 2019 | 08:50 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI masa remaja saya mengagumi fabel mahakarya Aesop dan Jean de la Fountaine mau pun kisah Si Kancil. Maka saya juga mencoba membuat beberapa fabel yang antara lain berkisah tentang:

Semut Dan Burung Kenari


Semut selalu giat bekerja menghimpun makanan dan burung kenari selalu merdu bernyanyi. Di musim kemarau semut selalu giat bekerja dan burung kenari selalu merdu bernyanyi.


Sang burung kenari mengejek sang semut sebagai mahluk tidak berbudaya sebab hanya giat bekerja, bekerja dan bekerja sepanjang masa tanpa pernah bernyanyi. Diejek begitu sang semut diam saja bahkan tetap giat bekerja, bekerja dan bekerja menghimpun makanan tanpa pernah bernyanyi.

Setelah musim hujan tiba semut bertahan hidup dengan makan makanan yang dihimpun di musim kemarau. Sang burung kenari lanjut merdu bernyanyi, namun tak lama kemudian mati kelaparan sebab tidak punya sediaan makanan yang dihimpun pada musim kemarau yang sudah berlalu.

Di musim kemarau sang burung kenari tidak sempat menghimpun makanan akibat hanya merdu bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi.

Fabel ini disukai para semut sebab dianggap menjunjung tinggi martabat kaum pekerja namun tidak disukai para penyanyi sebab dianggap melecehkan profesi penyanyi.

Kancil Dan Harimau


Si kancil cerdas maka tahu bahwa 2 + 2 = 4 sementara sang harimau dungu maka yakin bahwa 2 + 2 = 5 .

Di samping cerdas, sang kancil juga cerdik maka mesti tahu bahwa 2 + 2 sebenarnya adalah 4 namun demi keselamatan nyawanya maka di hadapan sang harimau yang dungu namun berkuasa, si kancil selalu bilang bahwa adalah keliru apabila menyatakan bahwa 2+2 = 4 sebab yang benar adalah hitungan sang harimau yang dungu namun berkuasa yaitu 2+2 = 5.

Fabel ini relevan untuk masa kini di mana pada saat tertentu memang lebih bijak untuk tidak bicara kebenaran demi keselamatan diri sendiri. Lebih baik keliru tapi selamat ketimbang benar tapi mampus.

Anjing Desa

Seekor anjing desa urbanisasi ke kota. Setahun kemudian sang anjing desa kembali ke desa. Semua heran bahwa sang anjing desa setelah setahun tinggal di kota kini tidak menggoyangkan ekor ke kanan dan ke kiri seperti anjing pada lazimnya namun ke atas dan ke bawah.

Akhirnya sang anjing desa memberikan penjelasan bahwa mustahil di kota menggoyangkan ekor ke kanan dan ke kiri sebab di kota ruang hidup terlalu sempit maka terpaksa ekor digoyang ke atas dan ke bawah demi tidak menyenggol-nyenggol tetangga.

Penulis adalah pembelajar fabel sebagai inspirasi manusia

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

Lima BPD Berebut Jadi Tuan Rumah Munas BPP HIPMI XVIII

Minggu, 15 Februari 2026 | 12:17

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

UPDATE

Kemenkop Akselerasi Penerima PKH Jadi Anggota Kopdes Merah Putih

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:44

DPR Wajib Awasi Partisipasi Indonesia di BoP dan ISF

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:42

Polisi Gadungan Penganiaya Pegawai SPBU Dibekuk

Selasa, 24 Februari 2026 | 21:18

BPC HIPMI Rembang Dukung Program MBG Lewat Pembangunan SPPG

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:56

Posisi Strategis RI di Tengah Percaturan Geopolitik

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:55

Pertamina Harus Apresiasi Petugas SPBU Disiplin SOP Hingga Dapat Ancaman

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:21

Menkop Ajak Seluruh Pihak Kolaborasikan KDKMP dan PKH

Selasa, 24 Februari 2026 | 20:19

Setop Alfamart dan Indomaret Demi Bangkitnya Kopdes

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:52

PDIP soal Ambang Batas Parlemen: Idealnya Cukup 5-6 Fraksi di DPR

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:29

BNI Ingatkan Bahaya Modus Phishing Jelang Lebaran

Selasa, 24 Februari 2026 | 19:25

Selengkapnya