Berita

Foto; Net

Politik

Hasil Survei Internal Yang Di-publish Harus Dibongkar Metodologinya

JUMAT, 19 APRIL 2019 | 09:57 WIB | LAPORAN:

Kedua kubu pasangan capres 2019, yakni pasangan calon 01 dan paslon 02 beserta para pendukungnya hendaknya menahan diri untuk tidak melakukan pernyataan-pernyataan ataupun tindakan-tindakan yang saling menyerang.

Sebab, jika itu dilakukan, maka kondisi Indonesia pasca pencoblosan di Pemilu 2019 tidak akan lebih baik.

Demikian disampaikan pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing, menyikapi gesekan dan pro kontra yang terjadi terkait hitung cepat atau quick count perolehan suara yang digelar sejumlah lembaga dan media massa.


"Sebaiknya menahan diri saja. Tunggu hitung manual, real count saja. Sabar saja," tutur Emrus Sihombing, di Jakarta, Jumat(19/4).

Terkait Pilpres, sejumlah lembaga survei telah menyampaikan hasil perhitungan cepat. Hasil tersebut menunjukkan perbedaan perolehan suara kedua paslon Pilpres. Salah satu paslon berpeluang mendapat dukungan rakyat menjadi presiden dan wakil presiden, sedangkan paslon lain bisa sebaliknya.

"Jadi, hasil survei ini bukan pegangan, hanya sekedar peluang," ujar Emrus.

Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner ini menekankan, 40 lembaga survei yang sudah terdaftar di KPU lebih memiliki otoritas menyampaikan hasil surveinya kepada publik.

"Bila ada lembaga survei yang belum terdaftar di KPU, tetap bisa saja melakukan survei, namun hasilnya bersifat internal. Karena itu, hasilnya tidak untuk disajikan ke ruang publik," ujarnya.

Emrus menambahkan, kalaupun hasil survei internal disampaikan ke publik sebaiknya tidak hanya merilis hasilnya, tetapi yang paling utama membuka, mendiskusikan dan membongkar metodologi yang digunakan pada semua tahapan proses survei yang dijalankan.

Oleh karena itu, menurut dia, dari aspek penelitian survei, yang terutama diperbincangkan atau dibahas adalah metodologi yang digunakan, bukan sekedar penyampaian hasil dari suatu survei itu sendiri.

"Sebab, bila metodologinya sudah baik, tepat dan benar, maka hasilnya dipastikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebaliknya, bila hasilnya saja yang dikedepankan dan melupakan metodologinya, maka hasil tersebut masih dapat dipertanyakan secara akademik,” ujarnya.

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Pembangunan Gerai KDKMP di Tubaba Terkendala Masalah Lahan

Rabu, 07 Januari 2026 | 03:59

KDKMP Butuh Ekosistem Pasar Hingga Pendampingan Berkelanjutan

Rabu, 07 Januari 2026 | 03:43

Ziarah ke Makam Ainun Habibie

Rabu, 07 Januari 2026 | 03:23

Ketidaktegasan Prabowo terhadap Jokowi dan Luhut jadi Sumber Kritik

Rabu, 07 Januari 2026 | 02:59

Implementasi KDKMP Masih Didominasi Administrasi dan Kepatuhan Fiskal

Rabu, 07 Januari 2026 | 02:42

Aktivis Senior: Program MBG Simbol Utama Kebijakan Pro-Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 02:20

Kontroversi Bahlil: Anak Emas Dua Rezim

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:53

Rosan Ungkap Pembangunan Kampung Haji Baru Dimulai Kuartal Empat 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:41

Tim Gabungan Berjibaku Cari Nelayan Hilang Usai Antar ABK

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:24

Pemerintah Harus Antisipasi Ketidakstabilan Iklim Ekonomi Global

Rabu, 07 Januari 2026 | 01:02

Selengkapnya