Berita

Ilustrasi

Muhammad Najib

Demokrasi Di Negara Muslim: Perbandingan Antara Indonesia Dan Turki

JUMAT, 19 APRIL 2019 | 08:48 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

BERBICARA tentang perkembangan demokrasi di dunia Islam saat ini, maka tidak ada yang bisa mengabaikan dua negara ini. Indikator paling nyata adalah banyaknya tulisan ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan politik baik yang berasal dari Barat maupun dari Timur, tentang perkembangan sekaligus harapan tumbuh suburnya demokrasi di Indonesia maupun Turki.

Sebelum membandingkan kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka akan dipaparkan terlebih dahulu kesamaan diantara keduanya, walau secara geografis dua negara ini sangat jauh: Indonesia berada di ujung Tenggara benua Asia, sedangkan Turki berada di ujung Barat Laut, bahkan sebagian wilayahnya masuk daratan Eropa.

Pertama, kedua bangsa ini  dikenal sebagai dua negara non-Arab yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Akan tetapi, di dua negara muslim ini juga hidup berdampingan sejumlah penganut agama lain. Selain adanya penganut agama minoritas, juga hidup berdampingan berbagai suku dan ras yang berbeda secara relatif harmonis.


Kedua, muslim di dua negara ini bermazhab Suni. Perbedaan Suni dan Syi'ah dalam masalah kepemimpinan pada ; Jika Suni meletakkan lembaga Syura sebagai penentu siapa yang diberi mandat untuk memimpin, sementara di Syi'ah menganut pola Imamah yang memprioritaskan garis keturunan yang dirunut sampai ke Ali bin Thalib yang puncaknya pada Rasulullah. Dengan kata lain, di Syi'ah peran seorang Imam dalam mengambil keputusan sangat dominan, sementara di Suni keputusan tetap di lembaga Syura.

Ketiga, peran militer dalam pemerintahan cukup besar. Bahkan dalam periode tertentu sangat dominan, sehingga dapat dikatakan   telah memenuhi kriteria pemerintahan otoritarian.

Keempat, dua negara ini secara formal sejak didirikan berbentuk republik dan menerapkan sistem demokrasi. Turki berdiri tahun 1923, dan Indonesia pada tahun 1945. Dalam 20 tahun terakhir keduanya mengalami kemajuan dalam menerapkan demokrasi.

Turki dalam implementasi demokrasinya selama 17 tahun terakhir, tepatnya sejak AKP memenangkan pemilu tahun 2003, partai pemenang terus mengendalikan pemerintahan di tingkat nasional sampai sekarang.

Lebih dari itu, tingkat kemenangannya juga sangat tinggi, sehingga  para pemimpinnya bisa membentuk Kabinet secara leluasa yang didominasi oleh kader-kader partainya sendiri, yang tentu berusaha secara maksimal mewujudkan visi dan misinya, tanpa harus kompromi dengan anggota koalisi, dan tidak khawatir diganggu oleh oposisi di Parlemen.

Akibat faktor-faktor di atas, ekonomi Turki berkembang pesat,  diikuti peningkatan kesejahteraan rakyat secara drastis. Akan tetapi, di balik kelebihan yang dimilikinya; terbelahnya kehidupan politik di Turki disebabkan garis ideologis, telah mengakibatkan kerasnya hubungan antara kelompok "nasionalis sekuler" dan "nasionalis religius". Hal ini bermuara pada kerasnya hubungan antara Pemerintah dengan oposisi.

Kondisi ini diperparah dengan kakunya hubungan antara politisi sipil dengan militer. Jika kerasnya hubungan pemerintah vs oposisi mengakibatkan penahanan sejumlah oposan, munculnya daftar teroris yang menjadi musuh negara, dan pemberangusan media dengan berbagai alasan. Kakunya hubungan sipil-militer telah mengakibatkan munculnya upaya kudeta berkali-kali. Ke depan potensi ini tetap ada dan menjadi salah satu ancaman demokrasi di Turki.

Sementara sejak Reformasi tahun 1998, di Indonesia tidak pernah muncul partai pemenang dengan perolehan suara besar. Apalagi partai pemenangnya sering berganti-ganti. Karena itu selalu terjadi negosiasi dan kompromi dalam membentuk pemerintahan dan dalam menyusun program kerjanya. Akibat kepentingan banyak partai, apalagi umumnya  berorientasi jangka pendek, telah mengakibatkan ekonomi Indonesia bergerak sangat lamban.

Dan dalam koalisi yang terbentuk selalu merupakan kombinasi dari yang mewakili dua kelompok besar, yakni "nasionalis sekuler" dan "nasionalis religius". Implikasinya, para elite politik di Indonesia menjadi terlatih dan terbiasa melakukan negosiasi dan kompromi.

Dengan demikian persaingan politik sekeras apapun, tidak pernah sekeras di Turki. Indikasi paling sederhana, tidak pernah ada penangkapan lawan politik atau pemberangusan media massa. Begitu juga hubungan sipil-militer sejak Reformasi sangat lentur, sehingga belum pernah muncul isu ataupun upaya kudeta dari kelompok militer terhadap pemerintahan yang dipimpin sipil. Hal inilah yang menyebabkan berbagai lembaga internasional menempatkan peringkat  stabilitas politik dan kualita demokrasi di Indonesia selalu lebih tinggi dibanding Turki.

Merujuk pada kelebihan dan kekurangan yang dimiliki kedua negara, maka penting untuk saling belajar baik dari keberhasilan maupun kegagalan yang dialaminya. Hal ini bukan saja  akan memberi manfaat bagi dua bangsa, akan tetapi juga bagi negara-negara muslim secara keseluruhan.

Keperluan berbagi pengalaman menerapkan demokrasi ini bertambah tinggi, mengingat banyak negara muslim di Timur Tengah saat ini, baru memasuki tahapan transisi demokrasi. Dengan cara belajar dari pengalaman negara lain yang memiliki kesamaan karakter dan/atau kultur, maka proses demokratisasi  baik pada tahapan transisi maupun konsolidasi dapat diperpendek.

Penulis adalah pengamat politik Islam dan demokrasi.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya