Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Tuduhan Kecurangan, Strategi Pamungkas Bila Kalah Pilpres

SABTU, 13 APRIL 2019 | 06:54 WIB | LAPORAN:

Kasus surat suara tercoblos di Malaysia diduga akan digunakan sebagai jurus pamungkas bagi pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu. Jurus itu untuk membuat chaos di negeri ini saat mereka tak terima akan kekalahan.

Analis Intelijen, Marsda TNI (Purn) Prayitno Ramelan menjelaskan kasus ini bak teori conditioning, yang mana jumlah yang ditarget untuk pengondisian peristiwa tertentu tidak perlu masif.

"Jadi hanya butuh perhatian media sehingga menimbulkan efek psikologis yang begitu besar," katanya kepada wartawan, Jumat (12/4).


Hal ini kata dia mirip dalam menilai dan menganalisis serangan teror dari persepsi intelijen. Yang mana korban tidak perlu banyak, dengan bom yang kecil saja berita jadi besar. Dalam kasus surat suara tersebut, yang diharapkan menjadi efek merusak adalah berita kecurangan, inilah bagian pokoknya.

"Secara bodoh saja kalau kita mau berpikir, untuk apa ada upaya paslon 01 dan caleg Nasdem (Davin Kirana) harus main kotor di Malaysia?" tekannya.

Prayitno mengaku sama sekali tak ingin menuduh pihak manapun yang ingin menggunakan kasus itu sebagai jurus pamungkas jika kalah.

Dia hanya ingin mengomentari tentang salah satu pentolan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Amien Rais yang selama ini selalu menghembuskan isu people power karena tak percaya dengan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai sarana untuk sengketa pemilu.

"Nah, narasi dicurangi, pengerahan people power itu berpotensi penciptaan chaos," pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya