Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Perubahan Iklim, Dua Pertiga Es Gletser Pegunungan Alpen Akan Mencair Pada 2100

RABU, 10 APRIL 2019 | 07:23 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Dua pertiga dari es di gletser Alpen diperkirakan akan mencair pada akhir abad ini akibat perubahan iklim terus terjadi.
 
Hal itu terungkap dalam sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal The Cryosphere dan dipresentasikan pada konferensi European Geosciences Union di Wina, Austria, pada hari Selasa (9/4).
 
Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa setengah dari es di 4.000 gletser rantai gunung akan lenyap pada tahun 2050 karena pemanasan global.
 

 
Setelah itu, bahkan jika emisi karbon turun menjadi nol, dua pertiga es masih akan mencair pada tahun 2100.
 
Penelitian itu juga menemukan, jika emisi terus meningkat pada tingkat saat ini, lidah es akan menghilang dari lembah Alpine pada akhir abad ini.
 
"Gletser di Pegunungan Alpen Eropa dan evolusi mereka baru-baru ini adalah beberapa indikator paling jelas dari perubahan iklim yang sedang berlangsung," kata Daniel Farinotti, ahli glasiologi di ETH Zurich di Swiss dan salah satu tim peneliti.
 
Para peneliti mengatakan, hilangnya gletser akan berdampak besar pada ketersediaan air untuk pertanian dan pembangkit listrik tenaga air, terutama selama kekeringan.
 
Gletser yang mencair akan berkontribusi pada naiknya permukaan laut, tetapi hampir tiga perempat dari air ini berasal dari Greenland dan Antartika.
 
Penelitian tersebut dilakukan dengan cara menggabungkan model komputer dengan data dunia nyata untuk meramalkan nasib gletser. Penelitian menggunakan 2017 sebagai titik awal.
 
Tidak seperti penelitian yang sudah ada sebelumnya, model secara eksplisit memasukkan bagaimana gletser bergerak turun gunung.
 
Hal ini menyebabkan penurunan es yang diproyeksikan lebih rendah dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
 
Penelitian itu menggarisbawahi, pencairan gletser ini dapat diminimalisir dengan dengan cara nenangkas emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, melawan penggundulan hutan dan kegiatan polusi lainnya.
 
"Masa depan gletser ini memang berisiko, tetapi masih ada kemungkinan untuk membatasi kerugian di masa depan," demikian Farinotti seperti dimuat The Guardian.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya