Berita

Poster Jamal Khashoggi/Net

Global

Saudi Mulai Gelombang Baru Penangkapan Pembangkang Pasca Pembunuhan Khashoggi?

SABTU, 06 APRIL 2019 | 01:04 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Arab Saudi menahan tujuh aktivis, termasuk dua di antaranya adalah warga negara Amerika Serikat pekan ini. Penangkapan tersebut merupakan gelombang penangkapan pertama yang dilakukan oleh Saudi dengan menargetkan para pembangkang sejak kasus pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi tahun lalu.
 
Kabar tersebut terungkap dari dua sumber anonim yang dikutip CNN (Jumat, 5/4). Sumber pertama adalah seorang akademisi Saudi di universitas Amerika Serikat yang memiliki hubungan kuat dengan komunitas pembangkang Saudi. Sumber lainnya adalah seorang aktivis Saudi yang memiliki pengetahuan tentang peristiwa tersebut.
 
Sumber-sumber itu mengatakan bahwa di antara aktivis yang ditahan adalah Salah al-Haidar, seorang warga negara ganda Saudi-Amerika Serikat yang juga merupakan putra dari pembela hak-hak wanita terkemuka Aziza al-Yousef. Yousef untuk sementara dibebaskan dari penjara di Riyadh bulan lalu dan diadili bersama 10 pembela hak-hak perempuan lainnya.
 

 
Sementara itu, Haidar sendiri adalah seorang penulis dan wartawan yang terkenal gemar mengangkat masalah sosial Saudi. Ayahnya dikabarkan memiliki rumah di Vienna, Virginia.
 
Selain Haidar, juga ada warga negara ganda Saudi-Amerika Serikat lainnya yang juga ditangkap. Dia adalah Bader al-Ibrahim, seorang penulis dan dokter.
 
Kelompok hak asasi Saudi yang berbasis di Inggris Alqst melaporkan bahwa tujuh aktivis telah ditangkap pada hari Kamis (4/4). Mereka yang ditangkap adalah penulis dan blogger media sosial yang terhubung dengan keluarga Yousef dan berteman dengan Haidar.
 
Sumber-sumber tersebut mengatakan, mereka yang ditangkap sebelumnya terlibat dalam diskusi publik tentang reformasi dan secara terbuka mendukung hak-hak perempuan seperti hak untuk mengemudi.
 
Dua dari aktivis yang juga ditahan pada hari Kamis adalah pasangan suami istri Saudi Thumar al-Mazouqi dan Khadijah al-Harbi. Salah satu sumber mengatakan bahwa Harbi, yang telah menulis tentang dan berkampanye untuk hak-hak perempuan, ditahan dalam kondisi hamil tua.
 
Dia dan Mazouqi merupakan salah satu pendukung vokal para pembela hak-hak perempuan yang ditahan yang saat ini sedang diadili di Saudi.
 
Sumber-sumber itu juga mengkonfirmasi bahwa seorang dosen di Riyadh bernama Anas al-Mazrou. Dia ditangkap pada 19 Maret lalu. Beberapa hari sebelumnya sebuah video viral menunjukkan Mazrou direkam di sebuah pameran buku, di mana dia secara terbuka menyatakan solidaritas dengan tahanan politik dan menyebutkan beberapa pembela hak-hak perempuan yang ditahan.
 
Namun perlu digarisbawahi, belum ada konfirmasi terkait kabar ini. Pihak Saudi pun belum mengeluarkan komentar.
 
Arab Saudi diketahui telah melakukan serangkaian tindakan keras terhadap para pembangkang sejak Pangeran Mohammed bin Salman atau dikenal dengan akronim MBS, diangkat menjadi Putra Mahkota pada Juni 2017. Tindakan keras diterapkan pada ulama, akademisi dan pembela hak asasi manusia.
 
Pada bulan Mei dan Juni 2018, beberapa aktivis hak-hak perempuan ditahan dalam serangkaian penangkapan yang banyak dikritik oleh masyarakat internasional, termasuk di dewan HAM PBB.
 
Tindakan keras Saudi terhadap pembangkang tampak semakin jelas pasca kasus pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi pada Oktober 20-8 lalu. Khashoggi merupakan kritikus yang vokal terhadap lemerintahan Saudi. Kasus pembunuhannya membuat kegemparan di ranah internasional. CNN memuat, jumlah penangkapan para pembangkang tampaknya berkurang secara signifikan setelah pembunuhan Khashoggi.
 
Direktur Alqst Yahya Assiri mengatakan bahwa tren itu diharapkan menjadi pertanda bahwa tindakan keras kerajaan Saudi pada para pembangkang menurun.
 
Namun tampaknya hal itu menjadi harapan semata setelah gelombang penangkapan terbaru pekan ini.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Fokusmaker Sentil Azis Narang: Jangan Jual SOKSI untuk Kepentingan Politik Pribadi

Sabtu, 07 November 2026 | 18:26

Airlangga Akui Kasus Penyadapan pada Presiden Ganggu Sentimen Investor

Sabtu, 07 November 2026 | 18:17

Bantah Terlibat Penyadapan Ilegal, Bahlil: Ini Ulah Abuleke

Sabtu, 07 November 2026 | 17:48

ARBI Bakal Gelar Aksi Akbar di Al-Azhar, Ini Lima Tuntutannya

Sabtu, 07 November 2026 | 17:40

HUT ke-73 KPU Dirayakan Sederhana, Refleksi Integritas Bareng Para Mantan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:45

Ketum Peradi Profesional: Advokat Bukan Pelengkap Peradilan

Sabtu, 07 November 2026 | 16:08

Menimbang Perpres 107/2026 dan Dampaknya pada Kelancaran Pengadaan Energi

Sabtu, 07 November 2026 | 15:48

Tekanan Jual Mereda, Harga Bitcoin Menguat ke 75.928 Dolar AS

Sabtu, 07 November 2026 | 15:40

Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Tayang Jelang Imlek

Sabtu, 07 November 2026 | 15:18

Pangdam XXII/Tambun Bungai Pimpin Pemulangan Jenazah Sertu Anumerta Heri Prasetyo ke Kediri

Sabtu, 07 November 2026 | 15:14

Selengkapnya