Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Prabowo Minta Jurus Rizal Ramli Pacu Ekonomi 8 Persen

SENIN, 01 APRIL 2019 | 13:46 WIB | LAPORAN:

Ekonom senior Rizal Ramli memandang sistem makro ekonomi yang selama ini diterapkan bersifat konservatif. Sehingga tidak mengherankan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya terhenti di angka 5 persen per tahun.

Menurut Rizal Ramli, calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto sudah meminta langkah-langkah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Caranya dalam waktu 100 hari kerja akan langsung mengambil kebijakan menurunkan tarif dasar listrik, agar kaum ibu mampu menghemat uang beluarhingga Rp 600 ribu per bulan.

"Lalu kedua menurunkan harga bahan makanan dari itu ibu-ibu bisa berhemat Rp 50 ribu per bulan, sehingga dalam satu bulan bisa menghemat 1,5 juta rupiah," papar Rizal usai menghadiri deklarasi alumni perguruan tinggi se- Sumsel pendukung 02 di Palembang, Minggu (31/3).


Kemudian ditambah penghematan listrik tadi membuat mereka memiliki daya beli.

"Dampaknya, sektor ritel akan hidup kembali, dan ekonomi otomatis akan bertambah 1 persen," lanjutnya.

Kemudian, masih kata Rizal, capres Prabowo juga ingin membangun 1 juta unit rumah untuk rakyat setiap tahun.

"Kalau bangun 1 juta unit rumah setiap tahun, lapangan kerja akan bertambah 3,5 juta baik langsung maupun tidak langsung. Kemudian, ekonomi akan kembali terdorong 1,5 persen. Nah dari situ saja artinya sudah bisa menambah pertumbuhan ekonomi hingga 7,5 persen, belum lagi rencana pengembangan sawah dan lain-lain," kata mantan menko bidang maritim dan sumber daya ini.

Rizal mengaku prihatin banyak petani kebun di luar Jawa, khususnya Sumatera dan Sulawesi mengeluhkan anjloknya sejumlah harga komoditi perkebunan. Seperti sawit yang anjlok hingga di bawah Rp 10 ribu per kilogramnya, sementara biaya panen dan angkutnya saja sudah lebih dari Rp 20 ribu.

Padahal, menurut Rizal, seharusnya dana dari akumulasi pajak ekspor sawit yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah tidak dibagikan kepada perusahan sawit besar. Justru dana itu bisa dipakai untuk menetapkan harga dasar sawit. Sehingga membuat harganya bisa lebih tinggi. begitu juga dengan kopra, karet, segalanya, 

"Jelas sekali kalau pemerintah sekarang tidak mampu mencari solusi yang cerdas, dan cenderung ngasal," katanya.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya