Berita

Foto:Net

Jaya Suprana

Bolo Dupak

SENIN, 01 APRIL 2019 | 09:38 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PADA pergelaran wayang selalu ada para tokoh yang sengaja dihadirkan hanya untuk memeriahkan suasana perkelahian di atas panggung atau geber pergelaran namun dapat dipastikan bahwa pasti kalah bahkan binasa.

Ditendang-tendeng

Para tokoh yang hukumnya wajib harus siap dikorbankan untuk kalah demi memeriahkan pergelaran itu disebut "bolo dupak" yang apabila dialihkan ke bahasa Indonesia menjadi kira-kira "laskar tendang" atau lebih tepat "laskar untuk ditendang-tendang".


Para Bolo Dupak sengaja dihadirkan sekedar untuk membuktikan betapa perkasa para kesatria yang berhasil mengalahkan mereka.

Tokoh Bolo Dupak yang paling populer adalah Cakil yang meski gesit dan lincah maka pandai berkelahi namun hukumnya wajib untuk akhirnya harus selalu kalah belaka. Burisrawa, Buto Ijo, Buta Terong, Galiuk, Buta Rambut Geni,  Cantikawerti, Pragalba, juga tergolong para bolo dupak.

Saya pribadi tidak setuju Petruk, Gareng, Bagong apalagi Semar disebut bolo dupak sebab sebenarnya peran para beliau mulia sebagai penasihat Pandawa serta sangat sakti mandraguna maka tidak pernah kalah dalam perkelahian melawan siapa pun.

Di dunia film kartun Hollywood, tokoh bolo dupak adalah seekor kucing bernama Tom yang akhirnya harus selalu kalah dalam berseteru dengan seekor tikus bernama Jerry.

Politik

Di panggung kehidupan nyata terutama politik senantiasa hadir para tokoh bolo dupak seperti di panggung atau layar pergelaran wayang. Silakan simak apa yang terjadi di panggung pemilihan umum yang selalu penuh dengan pertarungan sengit antara sesama warga Indonesia melawan sesama warga Indonesia demi memperebutkan kekuasaan.

Apabila cermat diamati, pasti dapat dideteksi siapa saja yang berperan atau diperankan sebagai para bolo dupak yang harus siap dikorbankan dalam kemelut perebutan kekuasaan tanpa memperoleh manfaat nyata dari pengorbanan mereka yang harus siap berkorban demi kepentingan mereka yang tega mengorbankan para bolo dupak.

Mengenai siapa yang tega mengorbankan siapa mohon dimaafkan bahwa saya memang munafik maka pengecut untuk tidak berani menyebutkan nama di naskah sederhana ini demi keselamatan diri saya sendiri dari ancaman amarah serta dugaan pencemaran nama baik.

Penulis adalah pembelajar falsafah wayang sebagai warisan kebudayaan Nusantara.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya