Berita

Foto:Net

Publika

Debat Capres Panggung Orang-Orang Terhormat

SABTU, 30 MARET 2019 | 13:31 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

HARI ini, 30 Maret, debat capres kembali digelar. Rakyat mungkin mulai bosan dengan debat ini karena debat dalam pengertian sesungguhnya belum juga optimal. (Saya sendiri nonton debat Cawapres langsung, membosankan)

Menurut League of Women Voters(LWV), sebuah kekuatan sipil untuk perempuan di USA, debat capres itu untuk "substance, spontaneity and  answer to tough questions". Pada Oktober 1988, LWV mengeluarkan rilis berjudul 'League Refuses to "Help Perpetrate a Fraud"'. Organisasi ini menarik diri dari dukungan (sponsorship) acara debat capres Bush vs Dukakis, yang dituduh mereka panggung menipu rakyat.

Kenapa menipu, karena acara debat capres itu sudah disetting kedua belah pihak yang bertarung, sehingga materi debat dan tatacaranya tidak sesuai lagi dengan makna debat, yakni substansi, spontan dan penuh kritik tajam.


Haris Rusli Moty, mantan ketua umum Partai Rakyat Demokratik, dan Eros Djarot, budayawan, baru-baru ini juga mengeluarkan tulisan yang mengecam acara debat capres yang menghabiskan biaya negara. Haris mengecam karena debat seperti main "petak-umpet" atau teka-teki silang, ketika Jokowi menjebak Prabowo dengan pertanyaan "unicorn". Sedang Eros menilai debat yang ada kehilangan kredibilitas dan substansi.

Debat capres sebagai mana tuntutan liga perempuan LWV di atas, sesungguhnya menginginkan visi misi dan kejujuran capres-cawapres benar-benar telanjang mata terlihat rakyat. Jokowi sebagai capres harus menjelaskan secara benar pencapaian janji kampanye dia pada tahun 2014. Sedang Prabowo, mengkritik kegagalan atau keberhasilan Jokowi, sambil menjanjikan alternatif jika berkuasa.

"Main tabak-tebakan" ala Jokowi soal "unicorn" dan ala Maruf Amin soal institusi yang diperlukan mengontrol atau mengukur performa keberhasilan dana transfer pusat ke daerah, mislanya, menunjukkan debat yang ada hanya menghambur-hamburkan uang pajak rakyat, karena kurang bermutu. "Bagaimana menurut bapak soal unicorn?", tanya Jokowi. Apa substansinya berusaha menjebak seseorang dalam sebuah difinisi/istilah berbahasa asing?

Jika kita membandingkan debat capres Trump vs Hillary Clinton beberapa tahun lalu, debat itu benar-benar "panggung kematian" buat capres Amerika. Semua saling menelanjangi, terang benderang. Skandal sex terbuka. Email Hillary sebagai menteri negara dimasa Obama dengan akun pribadi, bukan resmi negara, dipertanyakan. Kebijakan kontroversial Trump soal membentengi perbatasan Amerika-Meksiko, melarang Homoseksual dan aborsi, membatasi imigran muslim terungkap tegas.

Apa yang dimaksud LWV bahwa pemimpin karakternya akan terbuka jika debat tidak disetting atau distel akan dilihat rakyat. Debat akan memberikan hubungan batin dengan rakyat lebih dalam. Trump tidak menipu apa yang diungkapkannya di panggung debat, sampai sekarang sudah hampir 3 tahun jadi presiden.

Debat adalah panggung orang-orang beradab, berkarakter karena debat adalah "pengadilan rakyat" untuk petahan, seperti Jokowi, dan peneguhan janji oleh penantang, seperti Prabowo.

Jika debat disetting atau distel, maka panggung debat tidak akan pernah mengupas tuntas 66 janji Jokowi, seperti mengangkat kabinet profesional, tidak impor beras, membeli kembali indosat, tidak menambah hutang, membangun 10 juta lapangan kerja, membagi bagi tanah untuk rakyat, dan lain-lain. Tanpa debat dalam pengertian "substance, spontaneity dan answer to tough questions", debat hanya menjadi forum srimulat yang bebas memberikan data-data palsu dan melanjutkan janji-janji palsu lainnya.

Di Amerika, sponsor debat buka hanya negara, namun di Indonesia semua dari anggaran APBN. KPU mengeluarkan uang besar untuk menyewa Hotel Sultan (hotel ini harusnya punya siapa ya?) dan stasiun TV/media. Debat harus bermanfaat. Uang pemilu atau pilpres (total Rp 25 triliun) jangan terhambur sia-sia.

Jika debat hari ini bisa menjadi panggung orang-orang terhormat, dimana panggung debat bukan menjadi "Perpetrate of Fraud" melainkan panggung untuk melihat orang-orang terhormat memberikan "substance, spontaneity and answer to tough questions", maka rakyat Indonesia pun akan bangga memiliki presiden ke depan.

Jangan ada lagi janji-janji palsu.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya